Pilkada, Benda-Benda dan Sastra

Di Makassar, dua tangan besi sedang mencengkram kuat para pekerja kreatif. Tangan pertama, feodalisme, bekerja mengekalkan hierarki hubungan antar-manusia dengan membonsai pengetahuan dan tingkah laku. Ke dua, pemujaan terhadap benda-benda, mencegah orang menyelam ke kedalaman demi mencari jawaban mengapa manusia mesti menjadi manusia, dan bukan sekadar pembelanja dan penjaja benda-benda.

Dua lengan ini mengandaikan bumi manusia sebagai taman firdaus, tak ada yang perlu diubah dari watak dan hubungan antar-manusia. Hanya perlu menambah benda-benda, selesailah semua soal. Maka, bagai terkena sulap para mentalis, sejak setengah dasawarsa silam, Makassar sudah menjelma Kota Ruko, kota dimana rumah-toko dibangun dalam jumlah berlebih. Lalu sebagian ruko itu menjelma warung kopi, di mana obrolan semakin menyempit di sekitar siapa yang akan duduk di kursi gubernur, walikota atau anggota dewan. Kota ini pun kemudian berlumur spanduk dan stiker Pilkada—bahkan hingga ke jendela rumah warga tanpa seizin tuan rumah!

***

Sebenarnya, nasib sial kota ini bisa disulam menjadi bahan menarik bagi karya sastra, namun sastra tanpa tradisi penelitian adalah sastra hambar dan membosankan. Sastra tanpa bahan baku lokal, terpaksa akan menjelma mahluk asing. Bentuk dan isinya masih harus, dalam dosis tinggi, meminjam dari tradisi sastra di tempat lain. Generasi sekarang sudah dimanjakan oleh banyaknya terjemahan karya dunia, setidaknya sejak lima tahun terakhir. Dari buku-buku itu mereka bisa banyak belajar. Tetapi, dari mana mereka bisa mendapatkan bahan baku, amunisi untuk membuat tulisan mereka mendalam sekaligus genuin, tanpa meneliti atau membaca hasil penelitian yang memadai?

Buku-buku penelitian yang ditulis secara ketat biasanya masih berbahasa asing, dan tak banyak di antara sastrawan kota ini yang sanggup membacanya. Atau, bila ia berbahasa Indonesia, tulisan itu terbungkus kaku dalam kerangka beton teori yang tidak dapat menangkap gerak masyarakat yang liat. Sehingga, apa boleh buat, para sastrawan harus meneliti sendiri.

Di luar itu, penghayatan mendalam akan fenomena pskologis yang dihadapi penulis sendiri juga sebagian besar belum mencapai tingkat memadai sehingga mengantar kita pada pengalaman baru yang dapat membuat kita terlonjak berteriak eureka!

Dengan standar ini di dalam benak, maka, tidak habis jari tangan saya untuk menghitung sastrawan yang layak untuk dibicarakan—belum lagi bila kita mempertanyakan soal konsistensi mutu karya. Namun perlu dicatat, dalam tulisan ini saya hanya membicarakan sastra (moderen) jenis cerpen, puisi dan novel. Untuk drama dan kritik sastra akan membutuhkan studi lain.

Tentu pertanyaan pertama untuk mendedah ihwal ini adalah seberapa jauhkah sastra—dalam bentuknya sekarang yang mengikuti tradisi sastra Barat—dikenal di Makassar? Jawabannya, sangat tidak dikenal—ingat di Makassar kita bahkan baru bicara tentang meningkatkan minat baca. Sebagaimana di seluruh Indonesia, penyeragaman kurikulum sekolah, cara mengajar monologis-kaku dan tidak tersedianya bacaan sastra di nyaris semua sekolah, membuat dunia sastra tidak pernah beranjak dari posisi sebagai ’pendatang asing’. Sayangnya, belum ada perubahan kurikulum berarti terjadi di sistem pendidikan kita yang anti-human dan bebal itu. Anak sekolah kita, diluar pengecualian yang jumlahnya tidak berarti dan bila tidak berusaha sendiri, masih buta sastra.

Di luar sekolah, untuk kasus Makassar, hanya ada satu, sekali lagi hanya satu, ruang karya sastra ditayangkan dan dibaca: Fajar Minggu. Nah, coba kita lihat apa yang terjadi di Fajar minggu?

Sebagai sastra koran, sastra Makassar adalah sastra persinggahan seorang sastrawan dalam proses menjadi. Mutu karya yang terbit di kolom mingguan Harian Fajar misalnya, masih harus berhadapan dengan salah ketik, inakurasi (dan sering karena kekurangan) kosakata, ketaklancaran bertutur, dan berbagai soal remeh temeh lainnya. Coba tengok kalimat sexist yang masih lolos dari redaktur cerpen Fajar Minggu beberapa minggu lalu:  ”Lelaki mana yang ingin dikatakan pengecut dan lemah? Ya, tidak ada sekalipun bencong”. Selain itu tema yang mereka tawarkan juga mengikuti penyakit sastra koran nasional, yang sudah banyak dikeluhkan para kritikus, mulai dari kecenderungan mengikuti aktualitas sehingga seragam dengan tema headline koran (Katrin Bandel 2006) sampai kecenderungan bersifat komunikatif seperti berita daripada melancarkan sempalan atau subversi terhadapnya (Nirwan Dewanto 2002).

Seorang sastrawan yang sudah merasa bisa ’naik kelas’, kemungkinan besar tidak akan mau mengirim lagi karyanya ke koran lokal. Maka ke manakah para sastrawan ini mencari tempat bagi karya-karyanya? Mereka mencari koran nasional. Malangnya, koran nasional, atau lebih tepatnya dunia sastra nasional, jarang memberi kesempatan. Mereka juga mencari penerbit buku yang berkelas nasional, ini pun tidak cukup banyak yang berhasil, untuk tidak mengatakan nyaris tidak ada. Novel M. Aan Mansyur, Perempuan, Rumah Kenangan (InsistPress 2007), dan Shinta Febriany, Aku Bukan Masa Depan (Bentang 2003) mungkin sedikit karya yang bisa kita tunjuk di sini—catat, semuanya terbit di Jogjakarta, bukan Jakarta. Sementara itu, satu-satunya usaha serius menerbitkan karya para sastrawan daerah adalah upaya Dewan Kesenian Jakarta dalam program Cakrawala Sastra Indonesia yang menerbitkan karya empat penyair Sulsel, Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian (Logung Pustaka dan Akar Indonesia 2004). Dari tujuh buku dalam seri buku Cakarawal Sastra Indonesia, buku dari Sulsel-lah yang paling tipis, hanya memuat empat sastrawan (tak ada perempuan). Selain itu, karya dari Sulsel harus mencari jalannya sendiri di berbagai antologi, itupun hanya segelintir yang berhasil lolos.

Selain itu tak ada usaha masyarakat sastra nasional atau gagasan dari komunitas sastra yang bergerak secara nasional untuk melakukan penerbitan, diskusi berasama yang produktif, atau pelatihan serius dalam jangka panjang untuk menghasilkan karya yang baik. Pendeknya, Jakarta hanya ingin terima jadi!

Bila Nirwan Dewanto (2002) mengeluhkan tentang keberulangan tema dan bentuk sebagian besar karya dan kritik sastra karena rezim pembuat sejarah sastra yang memberi garis, ini sangat wajar. Jika Agus R. Sarjono (2001) mengeluhkan gersangnya perhatian pemerintah dalam memperlakukan sastrwan dan dunia sastra—dengan membandingkan perlakuan pemerintah Malaysia terhadap para sastrawannya, itu juga wajar. Sebab memang orientasi bangsa secara formal-struktural bukan pada memanusiakan manusia, tetapi menjadi budak perkembangan materi/ekonomi. Cuma, untuk kasus makassar, keluhan-keluhan di level nasional ini perlu ditambahkan dengan analisis Ariel Heryanto, lebih dua dasawarsa silam, dalam debat ’sastra kontekstual’ (1985), tentang keterasingan karya sastra daerah di lingkungannya sendiri karena terlalu menggugu bentuk dan isi dari ’pusat-pusat’ atau rezim sastra Indonesia. Ini masih ditambahkan lagi dengan fenomena brain-drain orang-orang Sulawesi Selatan yang merantau ke Jakarta dan luar negeri.

***

Dalam kala gersang inilah muncul dunia baru yang bernama internet. Sebuah ranah yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Pranata ini menghamparkan ”taman bermain”, meminjam istilah  Kartrin Bandel salah satu pengampu http://www.cybersastra.net, yang bisa disinggahi oleh siapapun tanpa hierarki tanpa persyaratan. Pertukaran karya dan pemikiran berlangsung deras di dunia baru ini. Anak-anak Makassar juga memanfaatkan dan menikmati taman bermain ini. Sastra menjadi lebih dikenal publik lewat jalur ini, jauh lebih hidup, nyata dan menyenangkan ketimbang deretan nama-nama kanon sastra dan sastrawan di buku teks Bahasa Indonesia kita. Dan mereka tidak harus merantau ke Jakarta.

Namun ini belum cukup, sebab dunia maya juga menawarkan bahaya yang tidak kalah mengecewakannya: sastra yang berpuas diri ’dipermukaan’. Setelah merasa terpublikasi, upaya lebih menukik dan mempertajam mutu karya bisa jadi tak dilakukan banyak penulis sastra cyber. (Perbincangan tentang media yang satu ini bisa dibaca pada polemik sastra cyberpunk (2001) editor Saut Situmorang). Tapi, hei, bukankah ini perdebatan lama? Bukankah sekarang kita sudah bisa menikmati karya-karya sastra bermutu di dunia maya? Saya lebih suka menyebut kelemahan-kelemahan sastra dunia maya, yang saya sebut di atas, sebagai wanti-wanti.

Dalam konteks sosial inilah, gerakan Sastra Dari Makassar yang berlangsung beberapa tahun silam, menjadi suatu ikhtiar yang patut dihargai. Dengan meluncurkan dua buku terbaru karya penulis Makassar yang sudah menasional, M. Aan Mansyur dan Lily Yulianti Farid, menunjukkan bahwa orientasi upaya ini adalah karya, karya yang bagus. Fakta bahwa acara ini berkeliling ke kantong-kantong utama sastra di Makassar dan di Indonesia, mengisyaratkan adanya niat untuk membuka dialog antar-penulis dan karya sastra dari berbagai tempat di Indonesia, sebuah dialog kreatif.

Apakah akan berujung pada terus mengalirnya karya-karya yang semakin bermutu, seiring dengan semakin dikenalnya dunia sastra, masih menjadi tanda tanya. Namun, kerja semacam ini, bila terus berulang, akan dapat mendobrak keterasingan publik terhadap karya sastra dan keterasingan antar-komunitas sastra.

Agar di warung-warung kopi tidak hanya ada obrolan tentang Pilkada dan benda-benda.

*Ditulis tahun 2008, dipresentasikan sebagai pembuka diskusi pada rangkaian acara Sastra dari Makassar di TIM, Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s