Gaya Hidup Pecinta Alam Langgeng di Center for Alternative Technology

Lebih dari tiga dekade silam, dua belas pencinta alam berjalan menuju hutan di jantung Wales. Dengan membawa ideologi anti perang, cinta alam dan kemanusiaan, mereka bergerak menjauhi peradaban yang menurut mereka semakin merusak. Saat itu, di akhir tahun enampuluhan, hidup ala gipsy memang tengah mengirimkan getarnya ke mana-mana.

Rombongan ini kemudian tiba di sebuah bekas tambang batu dekat kota Gwynedd, Wales tengah. Adalah sepotong tanah datar bekas papasan bukit batu menjadi tempat menarik buat mereka. Di sanalah mereka memutuskan tinggal bersama, di luar perkampungan dan lebih dekat dengan ‘alam’. Sebuah tempat yang sempurna sebab terlindung dari angin oleh bukit dan pohon, serta jauh dari bising dan asap kendaraan.

Kini, untuk masuk ke kawasan itu, hanya ada jalan setapak dan bekas gerbong yang tergantung pada rel tua, pengangkut batu, yang bergerak bolak-balik dari bekas tambang itu ke jalan raya. Kini kereta gantung itu difungsikan kembali untuk mengangkut pengunjung.

Di sana mereka membangun kehidupan yang serba baru, gaya hidup anti polusi. Mereka masak sendiri, membuat roti sendiri, menggunakan penerang listrik non-diesel atau nuklir, membangun rumah tanpa semen industri, melainkan dari kayu tebang sendiri atau membeli dari masyarakat sekitar. Mereka menjalani hidup alternatif meski mereka seluruhnya tamatan universitas.

Mereka tahu polusi gas buangan knalpot kendaraan dan cerobong industri adalah racikan ampuh yang mengotori paru-paru alam. Mereka sadar bahwa polusi ini akan membawa petaka, jauh sebelum boom wacana pemanasan global menggema. Mereka juga tahu, kaleng, plastik dan logam akan menimbun manusia bila dibuang begitu saja.

Tak berapa lama mereka menatap di sana, masyarakat sekitar, yang tadinya menaruh curiga pada orang-orang aneh berambut panjang itu, akhirnya tertarik datang menengok. Gaya hidup mereka yang tak lazim dan pengetahuan mereka yang luas tentang alam menarik lebih banyak peminat datang untuk melihat dan berguru pada mereka. Akhirnya mereka memutuskan membangun pusat pembelajaran untuk masyarakat sekitar. Maka jadilah Center for Alternative Technology, atau pusat pendidikan teknologi alternatif.

Gaya hidup mereka sendiri menjadi bahan pelajaran bagi para pelancong yang datang menengok. Untuk menerangi rumah-rumah mereka, tenaga air, angin, surya dan biogas difungsikan. Mereka tidak menggunakan minyak fosil. Untuk membuat rumah mereka tidak menggunakan semen industri, antara lain, mereka membuat racikan sendiri berdasarkan cara romawi kuno yang mereka longok dari buku sejarah. Untuk mengangkut barang dan orang ke tempat mereka di ketinggian mereka menggunakan kekuatan mekanis menarik kereta besar di atas rel bekas tambang batu.

Di kawasan mereka kini berdiri berbagai macam alat peraga untuk mengenal alam dan merawat kelestariannya. Mulai dari yang sederhana tentang cara kerja angin dan hujan, hingga bagaimana membuat kompos dan membangun rumah ramah lingkungan.

Di tempat ini juga terdapat gua buatan yang memperagakan kehidupan mahluk-mahluk renik pengerat limbah alami seperti berbagai macam cacing dan bakteri. Gua dan tubuh mereka dibuat dengan perbesaran ribuan kali agar semua orang bisa mempelajari cara hidup mereka dan peran penting mereka dalam mempertahankan alam.

Selain itu, mereka memperlihatkan akibat penumpukan sampah tak terdaur ulang dalam bentuk kasat mata sehingga anak-anak sekalipun akan paham bila melihatnya. Di salah satu sudut terdapat potongan kayu seperti tubuh manusia yang tertimbun limbah plastik, kaleng dan botol. Potongan menyerupai manusia ini bagian kepalanya bolong, sehingga pengunjung bisa berfoto dengan menampakkan kepala mereka berbadan sampah tak terurai.

Salah satu promosi mereka yang paling penting dan banyak diadopsi adalah konstruksi bangunan yang menyatu dengan alam, menggunakan alam sebagai sumber energi, misalnya dengan memasang panel surya di atap dan beberapa kincir angin di pucuk bukit untuk energi listrik. Di samping itu mereka membuat contoh bangunan dengan atap bertimbun tanah dan rumput untuk menyerap hujan, mengatur suhu rumah, dan tentu mengurangi penggunaan bahan sintetik untuk atap.

Dengan semua fasilitas pendidikan yang terus berkembang, tak pelak program pendidikan mereka menyerap banyak anak sekolah datang menimba ilmu. Di pintu masuk dan di halaman depan situsweb mereka banyak sekali gambar anak sekolah tengah memperhatikan alat peraga atau peragaan yang dipertunjukkan oleh para petugas Center. Gambaran ini menyiratkan bahwa anak sekolah adalah pengunjung tetap mereka, di samping pelancong yang datang di akhir minggu. Pelancongnya pun bisa datang dari tempat yang jauh, seperti saya.

Dari tumpukan pengetahuan dan pengalaman mengelola center, mereka kemudian membuka Program Magister untuk beberapa jurusan yang berhubungan dengan Lingkungan Hidup, dengan pola perkuliahan yang fleksibel. Untuk program pendidikan yang serius ini, praktik hidup mereka sendiri menjelma sebagai ‘alat praktek’, tentu saja di samping alat peraga buatan maupun yang alami, serta buku-buku produksi sendiri dan sumber bacaan lain. Membuka-buka brosur buku produksi mereka, kita akan bisa melihat fokus perhatian mereka: melestarikan alam harus dengan gaya hidup yang lebih alami, yang memperhatikan daya suplai dan daya serap alam.

Tempat ini juga menjadi magnet yang sangat kuat bagi relawan dan pencari kerja yang tertarik dengan cita-cita mereka, sebagaimana tertulis dalam tapakmaya mereka:

Center for Alternative Technology mempromosikan cara hidup lain, yang memperhatikan hasil dari setiap tindakan kita. Bila kita ingin melihat masa depan yang bebas dari krisis lingkungan dan kemanusian yang gawat, maka kita mesti mengetahui cara kerja dan proses yang terjadi di alam, dan bukan untuk menaklukkannya.”

Kini mereka harus membuat bangunan yang cukup besar sebab mahasiswa peminat kuliah mereka semakin banyak dan kerja sama dengan beberapa universitas semakin meluas. Di antaranya, untuk program Graduate School of the Environment mereka bekerja sama dengan University of East London. Meski mereka sudah bekerja sama dengan lembaga mainstream, mereka masih ketat menerapkan aturan ‘alami’ dalam pembangunan gedung perkuliahan yang besar itu.

Dari hasil penelitian mendalam (mungkin mirip AMDAL yang sering dilanggar di Indonesia), mereka mengeluarkan beberapa kebijakan untuk proses pembangun gedung besar itu. Di antaranya, tinggi bangunan tidak boleh lebih dari tujuh meter, penggunaan mesin yang menimbulkan getar hanya boleh beberapa jam sehari pada jam tertentu, dan seterusnya.

Meskipun mereka tidak lagi bisa memasak makanan sendiri karena kesibukan yang semakin menggunung, namun aturan dasar tetap tegak, bangunan baru mereka sebagian besar mesti memanfaatkan kayu setempat dan tanpa semen industri.

Hari itu, di bawah kepungan mendung bulan September, seorang relawan ahli mesin yang sudah dua belas tahun mengabdi di tempat itu mengatakan, “Yang paling mudah dilakukan di rumah Anda adalah membuat kolam ikan.” Menurutnya, menatapi ikan meliuk pelan di kolam selama lima menit setiap hari akan membawa ketenangan yang luar biasa, “mengurangi resiko stress dan serangan jantung.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s