Pramoedya versus Sejarah Resmi Indonesia

Sejarah memang tak hanya ditulis para pemenang, tetapi narasi versi mereka sungguh punya kuasa. Ini juga terjadi di Indonesia.

Di masa Orde Lama, berkembang historiografi Indonesia sentris dimana mereka menolak sumber sejarah dari luar, khususnya yang datang dari Belanda. Sejarah mesti ditulis oleh, dan menurut sudut pandang, orang Indonesia. Pembalikan laku penulisan sejarah seperti ini kemudian mengharuskan Muhammad Yamin mengais-ngais mitos untuk mencari entitas kekuasaan yang secara geografis mirip dengan ’Indonesia’. Ia kemudian menemukan mitos tentang kemaharajaan Sriwijaya dan Majapahit yang bisa dijadikan representasi Indonesia di masa pra-kolonial.

Karena ditulis oleh penguasa, maka mitos ini bisa menjadi kebenaran satu-satunya, bahwa dulu suatu wilayah yang kini bernama Indonesia, pernah ada sebelum bangsa asing mengangkangi wilayah ini. Tentu pernyataan ini lebih merupakan pernyataan ideologis ultra nasionalistik ketimbang simpulan ilmiah. Sebab ’Indonesia’ secara etimologis adalah nama pemberian seorang ilmuan berkebangsaan Jerman, dan seluruh tapal batasnya adalah bekas tanah jajahan Belanda: Hindia Belanda. Jadi secara geografis Indonesia tidak pernah ada sebelum masa kolonial. Dia adalah produk pasca-kolonial, sesuatu yang disangkal oleh para sejarawan Orde Lama — dan banyak sejarawan Orde Baru.

Di masa Orde Baru, militerisasi penulisan sejarah terjadi secara sistematis, mulai dari produksi hingga diseminasinya secara luas ke seluruh media pendidikan Indonesia, bahkan merasuk hingga ke film-film, yang dikenal dengan nama ’film perjuangan’. Dalam repesentasi masa lalu ala Orde Baru,Indonesia digambarkan sebagai bayi yang diselamatkan oleh tentara rakyat yang kemudian berkembang menjadi tentara nasional Indonesia. Peran para cendikiawan, pedagang, agamawan, petani dan buruh, dibungkam atau dijajarkan di barisan belakang pasukan militer. Pendeknya, militer adalah penyelamat bangsa, baik dalam pertempuran maupun dalam perundingan. Karena itu para suster harus merawat dan menghibur mereka, para petani dan nelayan harus berkorban untuk memberi makan para mereka, para intelektual mesti dihujat karena tidak berani berada di garis depan pertempuran. Seluruh bangsa harus menghamba pada penyelemat bangsa ini. Begitulah garis besar narasi historiografi ala Orde Baru.

Nah, warisan model sejarah seperti ini —Indonesia sentris dan militeristis— membuat distorsi besar-besaran pada informasi sejarah dan memengaruhi pemikiran kita ketika, katakanlah, memilih bacaan untuk kita konsumsi sebagai pengayaan intelektual kita. Kedua versi historiografi ini masih menyimpan efek yang jauh lebih parah dari sekadar distorsi informasi: mereka berwatak menunggalkan kebenaran. Kita selalu dipaksa untuk mencari kebenaran tunggal dalam sebuah narasi sejarah, dan biasanya kebenaran itu ditentukan oleh sang penguasa. Namun karena kita telah dicekoki kebenaran tunggal ini sejak kecil, kita sering tidak sadar akan dampaknya.

Selanjutnya, bagi sejarah resmi Orde Lama, sumber sejarah dari Belanda seharusnya tidak diterima, sejarah di masa ini cenderung menarik garis tegas antara kawan dan musuh di tapal batas negara. Sejarah jenis ini buta akan peran para bangsawan dalam membantu langgengnya kolonialisme di Hindia Belanda, dan menutup mata terhadap peran orang-orang Belanda radikal seperti Sneevliet dan Multatuli dalam mengangkat penderitaan dan memperjuangkan nasib rakyat terjajah. Historigrafi ini meminta kita secara totaliter membenci seluruh rakyat Belanda dan Jepang, dan mencintai seluruh orang Indonesia.

Sedangkan sejarah versi Orde Baru, mengkombinasikan nasionalisme sentris yang menarik garis kebangsaan sebagai penentu kebenaran: luar-salah-dalam-benar, dengan watak militerisme yang bertangan besi. Historiografi Orde Baru menganggap sumber selain, atau tidak senafas dengan, yang dipelajari di sekolah adalah sumber bertendensi makar. Sejarah alternatif terlalu sering dianggap musuh yang harus ditumpas dengan kekuatan militer, dan bukan sebagai bahan debat ilmiah yang bisa memperkaya pengetahuan kita tentang masa lalu bangsa ini.

Kedua tradisi historiografi ini cederung menggunakan tangan kekuasaan sebagai penentu arah sejarah, menentukan bagaimana sejarah dituturkan, dan tema apa yang layak dan tidak layak untuk dimasukkan dalam tulisan sejarah formal. Oleh karena itu mereka menulis sejarah dari atas, sehingga tak heran bila kisah-kisah sejarah yang kita baca di sekolah adalah sejarah tentang penguasa, atau bagaimana penguasa itu merebut kekuasaan dari penguasa sebelumnya. Sejarah tokoh-tokoh yang membungkam aktor selain ’tokoh-tokoh sejarah’ resmi yang berperan juga berperan penting. Historiografi jenis ini juga sering menjadi sejarah tanggal-tanggal beku yang kehilangan proses maha kompleks yang terjadi di masyarakat bawah (karena dia hanya himpunan ’hasil-hasil’ yang terjadi pada ’momen-momen’ bersejarah). Akhirnya yang terbentuk adalah, sejarah tentang ’perjuangan (fisik)’ dalam proses menemukan kembali Indonesia ’yang hilang’ selama masa kolonial. Sejarah jenis ini lupa bahwa semua orang adalah tokoh sejarah, semua tempat adalah tempat bersejarah, semua peristiwa adalah peristiwa bersejarah dan seterusnya.

Semua ini memengaruhi cara berpikir kita sebagai produk sekolahan Orde Baru.

Sejarah Alternatif Pramoedya
Pramoedya jelas berdiri di seberang kedua kecenderungan penulisan sejarah ini. Sebagai sastrawan dan sejarawan dia sangat tekun mengumpulkan dokumen dari berbagai macam sumber, kisah-kisah tutur dan pengalaman pribadinya untuk dituliskan ke dalam karya sastra maupun kronik sejarahnya. Bertahun-tahun dia membuat kliping koran dan mengumpulkan dokumen dari masa sebelum dia mengenal arsip sejarah. Pun, dia mencerap dongeng-dongeng dari masa kecilnya, dan mencatat dengan detil pengalaman hidupnya baik pada masa perang maupun sesudahnya. Dari bahan-bahan yang luar biasa luas dan mendalam inilah dia menyusun banyak novel, cerpen, esai, dan kronik sejarahnya.

Baiklah mari kita lihat apa yang dia lakukan terhadap sejarah Indonesia secara kronologis.

Tentang masa Jawa kuno, dia menulis ulang mitos tentang kisah Ken Arok dan Ken Dedes dalam Arok Dedes serta tentang jatuhnya Majapahit dalam roman panjang Arus Balik, yang berbeda dengan pelajaran sejarah resmi kita. Dalam karya-karyanya ini dia membuat narasi baru dengan menggali banyak sumber sebelum melakukan tafsir ulang yang rasional terhadap kitab-kitab dan cerita-cerita lisan Jawa Kuno itu yang berseliput mitos itu.

Tentang masa Kolonial—kadang dia menyebutnya sebagai masa pra-Indonesia—dia menulis bahwa Budi Utomo tidak lebih hanya perkumpulan para elit Jawa berpendidikan Belanda, yang kemudian mengalami ’nasionalisasi’ oleh sejarah resmi Indonesia, bahwa mereka adalah perwakilan dari seluruh rakyat Indonesia. Dia juga menggambarkan pertentangan antara feodalisme Jawa akhir abad ke 19 dengan memperhadapkannya dengan semangat Revolusi Perancis—egalité, liberté, fraternité (ini terutama muncul dalam Tetralogi Burunya).

Selain itu, dia juga memperkenalkan sastra sosialis karya para aktor pergerakan Sarekat Islam yang menurutnya lebih radikal dibandingkan Budi Utomo dalam menantang kekuasaan Belanda. Antara lain karya-karya ini ditulis oleh Semaoen dan Mas Marco Kartodikromo. Dia juga mengangkat banyak sastra karya keturunan Tionghoa dan Eropa, yang dia himpun dalam Tempo Doeloe, Antologi Sastra Pra-Indonesia. Pada rentang masa yang cukup panjang, dari masa pemerintahan kolonial hingga Orde Baru, ketika antologi ini pertamakali diterbitkan pada 1982, kedua jenis sastra alternatif ini telah ditenggelamkan oleh rezim Balai Pustaka bentukan pemerintah Belanda dengan menyebutnya sebagai ’sastra rendah’. Dengan kata lain, dalam kasus ini, dia sedang membentuk alternatif terhadap sejarah perkembangan sastra Indonesia.

Dalam novel-novelnya tentang masa ’perang kemerdekaan’ dia tidak bercerita tentang kisah para pemimpin perang yang berhadapan dengan pasukan Belanda, yang lalu secara heroik gugur atau berhasil merebut benteng Belanda. Sebaliknya, dia lebih banyak berkisah tentang nasib laskar kelas bawah, siasat biduanita kampung, petani dan rakyat jelata pada umumnya, yang menanggung beban berat akibat perang itu—misalnya dalam novel Larasati dan Di Tepi Kali Bekasi. Dalam roman Keluarga Gerilya dia tidak bercerita secara simplistik tentang mata-mata Belanda yang mementingkan diri sendiri yang akhirnya berhasil di berangus. Dalam prosa ini dia menggambarkan secara kompleks bagaimana satu keluarga mengalami perpecahan akibat keyakinan kuat akan revolusi, yang sama benarnya menurut logika umum, antara anak dan ayah.

Tentang masa pemerintahan Orde Lama, antara lain dia menangkat tema warga peranakan dalam Hoakiao di Indonesia yang menyebabkan dia dijebloskan ke penjara rezim Orde Lama. Buku ini menantang tesis yang menjadi dasar dikeluarkannya PP no. 10/1959 yang menyebabkan banyak warga keturunan Tionghoa terusir dari rumah dan penghidupannya, terutama di daerah pedesaan. Dalam buku ini, dia menulis ulang sejarah alternatif tentang gelombang kedatangan Hoakiao (Tionghoa Perantauan) ke Nusantara, yang tentu dianggap berbahaya sebab menyebutkan bahwa Hoakiao juga banyak berperan dalam perkembangan peradaban dan perjuangan kemerdekaan Indonesia moderen.

Menulis ulang sejarah Indonesia
Masih banyak lagi contoh penulisan sejarah alternatif Pramoedya yang bisa kita urai di sini, namun untuk kesempatan ini cukuplah dengan contoh-contoh di atas. Lantas apa yang bisa kita tarik dari alternatif Pram terhadap sejarah Indonesia? Pertama, dia selalu menampilkan kaum marginal yang tidak tertampung, atau dibungkam, dalam penulisan sejarah resmi Indonesia. Dia bercerita tentang petani, lasykar rendahan, biduwanita, orang desa, Hoakiao dan yang cukup penting, banyak tokoh perempuan. Kecenderungan ini mirip dengan yang disarankan oleh sub-altern studies, sebuah pengkajian sistematis dan informatif mengenai kelas, ras, kasta, umur dan gender yang memungkinkan masyarakat marginal untuk bersuara.

Kedua, dia menunjukkan sejarah sebagai proses, bukan hanya hasil. Dia mengurai proses menjadinya bangsa Indonesia dengan banyak aktor yang masing-masing punya kontribusi penting. Dia mengulas tentang apa yang terjadi sebelum adanya sistem pemerintahan yang disebut ‘kerajaan’ dan secara detil menjelaskan pertelingkahan apa terjadi di dalam kerajaan itu sendiri. Dia mengangkat proses struktural yang menyebabkan munculnya pergerakan kemerdekaan, yang sebagai konsekuensinya mengangkat berbagai aktor alternatif seperti redaktur koran, pelajar Indonesia, kalangan keturunan (Eropa dan Tionghoa), yang kesemuanya jarang disentuh dalam sejarah nasional resmi.

Ketiga, dia menunjukkan secara meyakinkan momen-momen sejarah (alternatif) yang penting dalam proses menjadi Indonesia, yang berlainan dengan momen yang dianggap bersejarah oleh sejarah resmi, semisal pembentukan Budi Utomo dan Sumpah Pemuda. Dalam hal ini, misalnya, dia menyebutkan terbentuknya koran Medan Prijai di Bandung pada 1907, sebagai momen penting yang memantik semangat nasionalisme di Indonesia. Sebuah tesis yang kelak diamini oleh Benedict Anderson , dimana pers diangap sebagai penyebar efektif semangat kebangsaan (nation) pada masa awal terbentuknya semangat nasionalisme. Bila mengikuti tafsir ini maka hari Kebangkitan Nasional, bisa jadi tidak tunggal, bukan Cuma tanggal 20 Mei. Selanjutnya, Pramoedya juga menunjuk terbentuknya Sarekat Islam sebagai gerakan yang lebih penting ketimbang Budi Utomo. Dalam hal ini, dia menuturkan ulang masa lalu pembentukan bangsa Indonesia dengan mengangkat penggalan sejarah Indonesia yang dianggap tidak penting oleh versi resmi.

Keempat, dia memberikan pemaknaan lain (baru) terhadap tokoh-tokoh sejarah seperti Ken Arok, Ken dedes, dan yang lebih akrab bagi kita, Kartini . Sebagai contoh, kisah tentang Kartini dalam buku Panggil Aku Kartini Saja, menantang arus narasi resmi sejarah Indonesia. “Dalam buku ini, Kartini tidak ditampilkan sebagai putri priyayi, melainkan sebagai gadis yang mengidentifikasikan diri sebagai rakyat biasa dan juga memperjuangkan kepentingan rakyat.” Jadi dia tidak hanya disebut sebagai pejuang emansipasi perempuan, tetapi juga pejuang emansipasi kalangan priyayi yang melakukan ‘bunuh diri kelas’, mengambil jalur lain yakni berjuang untuk rakyat kecil.

Salah satu pesan penting yang tersirat dalam kerja panjang Pramoedya mengatakan bahwa kita, rakyat biasa, seharusnya menulis versi kita sendiri. Kita mesti menentukan gerak arah sejarah kita dengan membangun basis informasi tentang masa lalu kita sendiri. Ini akan memungkinkan kita membangun pemahaman sendiri terhadap masa lalu kita, dan bukan hanya mengeja, sambil terbata-bata, tafsir ‘dari atas’ tentang masa silam kita.

Epilog: Pram dibayar apa oleh pemerintah Indonesia?
Demikianlah, Pramoedya telah melakukan kerja panjang dan ketat untuk menuliskan ulang sejarah nasional Indonesia. Sebuah upaya yang mendapat apresiasi banyak kalangan di dalam dan luar negeri. Berbagai penghargaan telah telah disematkan ke dadanya dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke puluhan bahasa asing. Lantas oleh pemerintah Indonesia dia dibayar apa?
Karena sejarah, baik dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi, adalah salah satu media terpenting untuk menancapkan kuku ideologi penguasa kepada rakyatnya, maka sangat berbahaya bila ada ancaman serius terhadap versi resminya. Atas alasan inilah karyanya dilarang oleh pemerintahan Soeharto hingga rezim itu runtuh. Pram juga pernah menghuni bui di bawah pemerintahan Kolonial Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Bila digabung, dia telah mendekam di penjara selama kurang lebih 18 tahun. Itulah harga menulis sejarah alternatif di Indonesia, setidaknya hingga masa Orde Baru.

Referensi:
– Asvi Warman Adam (2005) History Nationalism, and Power, dalam Vedi Hadiz and Daniel Dhakidae, Social Science and Power in Indonesia, Equinox Publ., Jakarta and ISEAS, Singapore. Hal. 251.
– Asvi Warman Adam dan Bambang Purwanto (2005) Menggugat Historiografi Indonesia, Penerbit Ombak, Yogyakarta. Asvi Warman Adam (2007) Seabad Kontroversi Sejarah, Penerbit Ombak, Yogyakarta.
– Katherine E. McGregor, (2007) History in Uniform: Military Ideology and the Construction of Indonesia’s Past, KITLV Press, Leiden
– Eka Kurniawan (2006) Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
– Nyoman Kutha Ratna (2008) Postkolonialisme Indonesia, Relevansi Sastra, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
– Benedict Anderson (2006) Imagined Communities, Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, Verso, New York (Revised Edition).
– Razif Bahari (2007) Pramoedya Postcolonially, (Re-)Viewing History, Gender and Identity in the Buru Tetralogy, Pustaka Larasan, Denpasar.
– A.S. Laksana ed. (1997) Polemik Hadiah Magsaysay, ISAI, Jakarta.

*Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan pada diskusi peringatan ”Dua Tahun Pramoedya Ananta Toer dalam Memoriam,” di Fakultas Ilmu Budaya Unhas, 28 April 2008. Juga terbit di www.panyingkul.com, tak lama setelahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s