Dari “Catatan Tambahan” Seorang Penerjemah

Tujuhbelas tahun kabar Amsterdam tak terdengar. Ia raib sejak Nyonya von Stubenvoll, isteri tuannya meminta ia bersama kakak perempuannya belanja ke pasar. Amsterdam bocah lelaki yang menyenangkan. Ia aktif dan cerdas. Karena itu dengan mudah ia membuat tuan dan puannya kepincut. Sesuatu yang dengan cepat menumbuhkan cemburu di hati dua orang kakaknya.

Pagi itu, ia tidak pernah sampai ke pasar Vlaardingen, sebuah ‘kota kecil’ di utara Fort Rotterdam—kini sebelah utara Lapangan Karebosi. Oleh kakak perempuannya ia diajak ke ‘Kampung Bugis’—mungkin di Bontoala yang diserahkan VOC kepada Arung Palakka pasca Perang Gowa (kl. 1670). Saat itu ia mungkin menangis meronta menghela tangan-tangan kekar yang mencekal kaki atau tangannya. Ia mungkin kemudian disekap lalu dibawa pergi, untuk dijual. Kakaknya, seorang gadis remaja, mengatur pertemuan dengan seorang Boughee penjual budak, untuk menjual Amsterdam. Ya, ia hendak menjual adiknya sendiri.

Perempuan muda itu membayangkan akan berbagi harga beli Amsterdam dengan para penjual budak. Sebuah tindakan nekat sebab menjual adiknya adalah tindakan ilegal, dan Amsterdam akan menjadi budak ilegal, karena ia adalah milik sah seorang tuan. Bila ketahuan, hukuman sudah menunggunya. Tapi rupanya rencananya sudah demikian matang, lagi pula kecemburuannya mungkin turut mendorongnya datang ke penjual budak.

Namun para begundal itu lebih licik daripada kakak Amsterdam. Mereka juga memasukkan sang gadis, bersama Amsterdam, dalam pelelangan budak. Ini sangat masuk akal sebab harga budak perempuan muda saat itu memang lebih mahal daripada budak laki-laki. Menurut sebuah catatan, kisaran harga perempuan muda adalah 130 guilder, sangat tinggi dibandingkan pria yang hanya 30 guilder. Belum lagi, menjual dua budak ilegal risikonya sama dengan menjual seorang saja.

Maka sejak sore itu, di tahun 1795, Kapten, J. von Stubenvoll dan isterinya, yang sangat menyayangi Amsterdam, tidak pernah lagi berjumpa anak itu untuk selamanya. Kedua bersaudara itu telah dijual di-bawah-tangan dan dikapalkan ke Semarang.

Suami isteri itu baru berjumpa kakak perempuan Amsterdam di Semarang pada tahun 1812 dalam perjalanan pulang dari Batavia ke Makassar. Perempuan itu berlutut meminta dibawa pulang ke Makassar karena ia telah bebas. Usianya sudah dianggap tua oleh tuannya sehingga dibebaskan dari status budak dan boleh pergi ke mana ia suka. Namun suami isteri von Stubenvoll begitu murka padanya, apalagi ketika tahu bahwa Amsterdam telah meninggal—mungkin mengalami perlakuan yang sangat buruk, sehingga mereka tidak bersedia membawa perempuan itu pulang ke Makassar.

Demikianlah von Stubenvoll menuliskan salah satu pengalaman sedihnya dalam “catatan tambahan penerjemah” yang memuat “fakta dan keadaan yang belum disebutkan sebelumnya” dalam naskah yang dia terjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris: History of the Island of Celebes, karya Roelof Blok. Versi Inggris buku itu diterbitkan Calcutta Gazzette Press pada tahun 1817. (Roelof Blok sendiri menyelesaikan laporannya, yang termuat dalam buku itu, tentang “Perdagangan Budak di Makassar” di Fort Rotterdam tanggal 21 September 1799)

Itu baru salah satu pengalaman murung sang penerjemah, yang ia tulis setelah dua dekade lebih tinggal di Makassar. Lewat catatan tambahan yang dia buat, von Stubenvoll seperti melaporkan kepada kita kejadian-kejadian ekstrim tentang perdagangan budak di Makassar di akhir abad ke 18. Kisah Amsterdam adalah, menurut ia, salah satu contoh tentang betapa seringnya budak dari tuan yang sama menjual atau mencelakakan budak lainnya.

Tentang kekejian para penjual budak, ia punya cerita lain…

[potongan kecil dari naskah buku yang tengah dikerjakan]

Advertisements

4 thoughts on “Dari “Catatan Tambahan” Seorang Penerjemah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s