Jendela, Gerak dan Sejarah

Duduk menghadap jendela besar yang menempel di dinding kamar, saya menyaksikan cerita-cerita menyembul dari sebuah halte tram. Di seberang sana, ketika trem nyaris tiba, halte itu sudah menampung banyak penumpang. Kepala saya yang baru terjaga tiba-tiba berubah kantor yang sibuk menyusun beragam kisah.

Seorang perempuan muda tanpa ekspersi memilin pelan rambut ikalnya, memerhatikan seorang pemuda tanggung berjalan seperti rapper menggerakkan jari, bibir dan tengkuknya, mengikuti lagu yang keluar dari ujung kabel putih kecil di telinganya. Pemuda itu tak melihat apa-apa kecuali sepatu putih yang membawanya berjalan—dan mungkin paving bloc yang mengantarnya menuju halte. Seorang kakek menuntun isterinya hingga ke bawah pelindung halte, begitu pelan, agar tak mengganggu sepasang kekasih berciuman di sisi kanan, yang setelahnya, kedua pasangan itu, saling menatap lama. Seorang perempuan paruh baya menghembuskan asap rokok yang terbang menjauh dari gerumbul anak pulang sekolah yang datang mendekat, berkejaran, bersahutan.

Semua terjadi dalam kepungan akhir musim dingin yang seolah tak mengganggu mereka.

Semuanya pasti punya cerita, pikirku, dari kamar yang juga ramai—oleh barang rongsokan. Masing-masing tokoh dalam bingkai jendela itu menyimpan kisah pribadi maupun bersama, mirip dengan barang bekas yang masing-masing punya sejarah sebelum saya memungut mereka satu per satu entah di trotoar mana. Tetapi dari balik jendela, saya hanya bisa duduk menyaksikan tingkah mereka. Cuma sanggup menebak-nebak apa yang mereka percakapkan atau renungkan sembari menunggu trem membawa mereka pergi.

Mencangkung di depan jendela besar, saya benar-benar merasa asing dalam arti sebenarnya. Setelah kulit saya mengering dan menerang diterjang musim dingin, setelah tulisan-tulisan di jalan bukan lagi teka-teki, dan setelah beratus-ratus lembar bacaan saya lewati—entah di perpustakaan, tangga kampus, atau taman sambil mengunyah Haring, belum sekali pun saya berjumpa dengan cerita keseharian dari serang Belanda.

Oleh kesibukan yang mendera sebelum berangkat ke negeri ini, saya tak sempat sedikit pun mempelajari bahasanya. Sebuah kehilangan besar buat saya yang selalu ingin mencari cerita dari orang biasa, bukan dari politisi yang lebih banyak menyesatkan—mungkin ini bias yang saya bawa dari Indonesia. Saya selalu haus akan kisah sehari-hari, bukan sensasi yang sering merupakan hasil pabrikan media.

Padahal tiap saat—tiap sepuluh menit di jam sibuk dan lima belas menit di masa lengang—cerita-cerita itu datang berderet di depan jendela besar kamar ini, menunggu untuk saya dengar, namun dinding bahasa begitu tinggi dan tebal.

***

Akhirnya saya beroleh kesempatan berkunjung ke sebuah “rumah” yang berisi “keluarga”, bukan “asrama” yang berisi “mahasiswa”. Tapi itu justru tidak terjadi di Belanda, tetapi di Belgia, tepatnya di Brugge, di mana seorang kawan lahir dan besar sebelum melanjutkan hidup di Antwerp. Saya jadi tahu bahwa mereka punya kentang dan coklat dengan olahan tertentu yang menjadi kebanggan mereka. Saya melihat bagaimana mereka menyiapkan dan menyajikannya. Saya larut dalam suasana makan bersama. Lalu, akhirnya, mendengar cerita mereka tentang kota Brugge, dari sudut pandang mereka. Tentang para turis yang hanya mengetahui kota mereka seperti kartu pos, “Orang hanya tahu dinding luarnya.” Tentang burung yang mengotori jendela, tentang pekarangan belakang yang disusupi kalkun tetangga, tentang pekerjaan sehari-hari, tentang gosip hubungan gelap kawan dan seorang artis terkenal. Saya jadi sedikit tahu kehidupan sehari-hari Belgia.

Namun, saya sekolah di Belanda, dan masih ingin tahu banyak tentang “kehidupan sehari-hari,” yang biasanya membentuk “isi dalam” sebuah negeri. Saya ingat, dulu, setelah membaca Pramoedya dan Umar Kayam, untuk menyebut beberapa, saya jadi lebih tahu tentang “isi dalam” masyarakat Jawa dari masa ke masa, sebelum merasakannya sendiri di pulau berpenduduk padat itu. Beberapa pola tingkah laku masyarakat kota di Jawa, tidak akan bisa saya maknai tanpa pembacaan terhadap kedua penulis ini—dan tentu saja penulis-penulis muda yang muncul setelah mereka. Ya, kota selalu mampu mengubah dan menyamarkan bangunan kolektif sebuah masyarakat menjadi sesuatu yang tak terpahami, atau sesuatu yang sangat mudah tertebak: Uang!

Dengan ingatan itu di kepala, saya bertanya pada kawan orang Belgia yang berbahasa Belanda itu: “Adakah karya sastra Belanda dalam bahasa Inggris yang bisa menjelaskan kepada saya bagaimana kehidupan sehari-hari di Belanda, di bagian mana pun, yang penting Belanda?” Ia dan ayahnya segera menjelma pustakawan mencari buku permintaan klien Indonesianya (saya meradang menyaksikan kesibukan itu, “Tentu ini tidak terjadi pada kawan-kawan yang fasih bahasa Belanda.”) Akhirnya, mereka tidak menemukan satu pun!

***

Di atas rel kereta yang membentang antara Brugge dan Brussel, saya melihat banyak pemandangan sehari-hari di pinggiran kota. Orang-orang bersepeda di pagi hari, bayangan saya, pergi ke tempat kerja atau sekolah. Semua dengan gaya sepeda, berpakaian dan dandanan rambut masing-masing. Saya bayangkan orang-orang biasa ini tentu bukan orang biasa dengan caranya masing-masing, di kampung dan rumah sendiri mereka bukan sekadar angka statistik. Mereka punya cerita. Masing-masing adalah mahluk spesial bagi orang-orang dekat mereka, yang tentu tak kalah menariknya dengan membaca biografi para pesohor. Namun lagi-lagi, beragam jarak memagari kami untuk saling mengenali.

Dari kereta yang tengah melaju saya bertanya, mungkinkah mereka merasa, jarak terjauh yang mampu mereka tempuh dengan sepeda, merupakan jarak yang secara mental mereka anggap “jauh”, di mana orang, peristiwa, tempat yang mereka kenal dengan baik adalah mereka yang ada di dalam bentangan jarak itu? Bila demikian, tentu mereka punya cara menentukan siapa yang paling tokoh, peristiwa paling bersejarah, dan tempat yang paling mudah mereka kenang. Namun kereta terus melaju, mereka segera lenyap berganti kampung lain, kota lain, negeri lain.

Ah, betapa perjalanan bisa menciptakan keterasingan. Gerak, memang bisa mempertemukan orang, namun juga bisa memisahkan. Saya yang diam di hadapan jendela kereta yang berlari melintasi batas negeri, mereka yang bergerak di atas sepeda mengitari kampung, kami sama-sama bergerak, namun tak bisa saling menyapa. Saya yang diam di hadapan jendela dinding kamar, mereka yang bergerak dijemput trem tiap lima belas menit, juga tak bisa berbincang. Dengan diamnya saya dan gerak mereka, saya tak sempat mengenali negeri yang saya singgahi ini.

Padahal, mungkin, jika saya tak diam, dinding bahasa itu bisa kami rubuhkan. Teka-teki isi dalam negeri ini bisa saya hirup, dan demikian sebaliknya, yang di ujung semua itu, hubungan dua negeri bisa diperbaharui—setidaknya antar warga yang tentu lain dengan antar pemerintah atau politisi atau antar penguasaha.

***

Belanda punya hubungan yang panjang dan rumit dengan Indonesia, namun sebagian besar orang Indonesia hanya tahu: “Belanda itu negeri penjajah!” Di banyak bagian, penulisan sejarah masih berkutat pada pembuktian kebenaran dan kesalahan dari pernyataan yang menggetarkan itu. Hasilnya, memang membuktikan masa lalu tidak sesederhana apa yang diguratkan oleh sejarawan ultra-nasionalis yang diusung pemerintah Orde Lama dan sejarawan militeris ala Orde Baru. Namun masih ada satu yang tertinggal: masa kini.

Jika ‘orang kita’ berbicara tentang Belanda mereka cenderung meloncat ke masa lalu, masa lalu yang memang pahit. Di satu pihak ingin menumpahkan dendam dan pihak seberangnya hendak mempertahankan diri dan mencari pembenaran. Sebuah dialog yang hanya menuju debat kusir dan melahirkan dendam-dendam baru, yang menambah deretan daftar kesalahan masing-masing pihak. Generasi lama mewariskan dendam, dan generasi baru melestarikannya sembari terus menciptakan dendam baru.

Tak bisakah kita mencari bentuk hubungan lain? Yang mungkin sudah ada namun terpinggirkan rezim pendendam itu? Tak adakah bentuk hubungan yang lebih sehat, seperti seorang sahabat lama yang berjumpa di cafe suatu sore seusai musim dingin?

Pada titik ini saya teringat pada Multatuli yang bukunya juga ditulis mungkin dalam dingin di depan jendela besar. Sebenarnya maksud dia, menurut pembacaan saya, adalah menghentikan tindak eksploitasi dengan mengabarkannya. Menciptakan katarsis di pihak penindas dan kesadaran politis di pihak tertindas. Dia memahat jalan menuju pembebasan, kesetaraan.

Namun, wacana dendam masih menguasai sebagian besar masyarakat Indonesia, dan buku Multatuli justru menjadi salah satu alat untuk melestarikannya. Dengan membekukan masa dan meniupkan kisah-kisah pedih, telinga-telinga lugu kami di bangku-bangku sekolah dan kurikulum yang seragam, segera menangkapnya menjadi kenyataan kontemporer yang tak terbantahkan. Apakah keadaan itu tak berubah, siapa yang meniupkan dendam, untuk kepentingan siapa, itu tak pernah kami diberitahu.

Sebab itulah, sampai di sini, hari ini, saya masih merasa belum kenal orang Belanda. Kisah-kisah tulisan Orang Belanda yang saya baca selama ini hanya berputar di sepanjang bentangan kepulauan eksotik bernama Nusantara. Sebuah nama lama, yang dengan distorsi pembacaan sejarah, meniupkan hawa lama yang pengap.

Ketika saya disapa Meneer oleh pelayan restoran berkulit putih, ketika saya ditanya bagaimana keadaan Aceh sekarang oleh kawan berkulit putih, dan saat pustakawan kampus berkali-kali minta maaf karena keterlambatan pelayanannya, hawa pengap itu berangsur hilang. Lalu mengapa sejarah cuma berisi kepengapan? Tak adakah persahabatan di masa lalu, persahabatan tulus seperti pemilik kamar kost yang mengajak saya makan Salmon sambil cerita soal penghuni-penghuni kamar sebelum saya? Atau seorang kawan yang bertemu di trem yang kemudian berkisah tentang kerjaannya sebagai perancang interior di beberapa warung?

Mereka, pelayan, pustakawan, kawan di kampus, pemilik kos, perancang interior adalah bagian dari orang-orang biasa, yang tak terperangkap dendam dan semangat membenarkan diri. Mereka punya kisah lain, yang mungkin serupa dengan koleksi cerita orang-orang di halte itu, yang sayangnya, sekali lagi, telah raib ditelan trem yang melaju ke stasiun Holland Spoor, Den Haag.

–maret 2007

Advertisements

4 thoughts on “Jendela, Gerak dan Sejarah

  1. This is a very good wriiting, composed by a coherent and concise structures, pemilihan kata yang bagus dan rapi, membawa pembaca larut seakan-akan ikut jadi pemain dalam lakonnya, Selamat adindaku, terus berkarya, saya tauk dirimu smart . Take care

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s