Sepotong Tanah Buat Tetangga

Di masa lalu, raja-raja di Britania Raya menghadiahkan estate kepada para bangsawan yang berjasa memenangkan perang. Luasnya tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai puluhan ribu hektar lahan. Kini, setelah zaman berubah, para bangsawan menyerahkan estate kepada mereka yang mampu membeli. Desa-desa di Wales pun menyaksikan hamparan demi hamparan luas berpindah tangan kepada pemilik yang “entah dari mana”. Ini menekan jumlah kepemilikan tanah warga setempat. Bagaimana satu kelompok warga desa menghadapi kecenderungan ini?

Ketika orang-orang ramai menjual rumahnya di kota besar, dengan harga yang lebih mahal, lalu datang menyerbu desa, para penghuni urban itu sedang menerbangkan harga tanah di pedesaan Wales. Keluarga-keluarga muda di desa berubah menjadi keluarga miskin, tak sanggup membeli tanah bahkan di desa mereka sendiri. Akhirnya, mereka mesti mencari nafkah di kota, sebab di sana peluang terbuka lebih lebar. Dan tentu saja, tanah bukan satu-satunya persoalan yang mereka dihadapi. Mereka menghadapi masa depan yang suram.

Namun selalu saja terbuka kesempatan bagi orang yang tekun mengamati lingkungan sekitarnya dan punya hasrat kuat untuk memperbaiki keadaan. Peluang semacam itu tiba ke telinga tiga orang dosen kenamaan Universitas Wales ketika seorang perempuan tua yang mewarisi sebentang estate hendak menjual sepotong tanahnya yang tak begitu ia sukai. Tanah itu tidak begitu subur.

Tiga dosen itu menyambutnya dengan sebuah ide yang dianggap aneh oleh sebagian kolega mereka: membeli estate sang bangsawan. Aneh karena harganya yang mahal, dan aneh karena mereka akan membelinya secara kolektif untuk kepentingan petani di sekitar tanah tersebut.

Memakan waktu cukup lama sebelum mereka mampu meyakinkan banyak orang di sekitar mereka untuk membeli potongan tanah itu. Soalnya, mereka mau membeli lahan yang tak begitu subur, dan hendak menjadikannya “sesuatu yang berguna” bagi banyak orang. Mereka mesti berkeliling memasarkan gagasan itu, mengadakan puluhan pertemuan dengan warga sekitar dan pemerintah.

Sementara itu, John Harold, seorang intelektual muda yang memilih tidak bekerja di bawah institusi resmi dan menjalani gaya hidup alternatif, melihat peluang itu untuk mewujudkan mimpinya. Pemegang gelar master Manajemen Lingkungan Hidup itu ingin punya kebun dan pusat belajar untuk warga kampungnya. Sebuah arena alternatif yang berguna bagi tetangganya. Ia pun kenal betul tanah yang akan dijual itu. Sejak kecil ia sering bermain di sana.

***

Akhirnya mereka sukses mengumpulkan cukup banyak uang untuk membeli tanah yang, tentu saja, harganya sangat mahal. Dengan nekad, dua orang penting dari kelompok ini mengagunkan rumah dan tanah sendiri demi mendapatkan pinjaman, agar dana mereka cukup untuk memboyong sertifikat estate tersebut. Mereka tahu betul, bila rencana tidak berjalan lancar mereka bisa menjadi gelandangan.

Maka berdirilah Moelyci Canolfan Amgylcheddol Environmental Center. Mereka menyebutnya “An industrial and provident Society, a model for community land ownership in North Wales.” Di lokasi ini ada pusat pendidikan lingkungan hidup dan pertanian organik. Mungkin sejenis dengan PPLH yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Namun di sini, di Wales utara, pusat ini dijalankan oleh masyarakat setempat.

Seluruh workshop yang diadakan di sini, misalnya pembuatan kompos, pertanian organik, penanaman pohon Woodland (sering digunakan untuk bahan mebel), dan berbagai isu lingkungan hidup, dibawakan oleh masyarakat setempat, menggunakan keahlian setempat yang digabungkan dengan berbagai inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir.

Seluruh pelatihan ini tidak hanya merupakan bahan ‘tontonan’ artifisial untuk diperlihatkan kepada para pengunjung. Kompos misalnya, adalah proyek dari Moelyci yang sudah nyaris bisa berdiri sendiri. Mereka memproduksi kompos puluhan ton setiap bulan untuk di jual ke warga setempat. Pohon Woodland mereka sudah menjadi penyuplai kayu yang cukup penting bagi masyarakat sekitar.

Sebagaimana gerakan petani seluruh dunia, mereka pun mencoba menjalankan prinsip food sovereignty (kedaulatan pangan). Kedaulatan pangan pada dasarnya adalah prinsip untuk mendekatkan produsen ke konsumen, untuk memotong harga, menghindari biaya mahal, yang bisa menekan ongkos produksi. Belum lagi, semakin dekat jarak antara produsen dan konsumen, maka semakin terjaminlah ketersediaan barang konsumsi tersebut.

Bagi para pengelola Moelyci, rantai produksi yang panjang (yang melewati pengolahan, pengepakan, pengangkutan, pemasaran dan periklanan), harus melalui ‘penambahan nilai’ yang tidak sedikit sebelum tiba ke konsumen dengan harga murah. Hanya perusahaan agrobisnis raksasa yang sanggup melakukannya.

Produk-produk yang melewati ‘penambahan nilai’ ini muncul seiring dengan semakin populernya supermarket. Petani besar, atau industri pertanian, dengan mudah bisa membunuh petani kecil dengan berkembangnya supermarket di seluruh dunia. Mereka lebih suka membeli produk dalam jumlah banyak, seragam dan terpaket dengan indah.

Selain menekan ekonomi petani, ‘penambahan nilai’ juga bermasalah bagi lingkungan hidup, soal yang juga coba ditekan oleh para pengusung Moelyci. Produksi dalam jumlah besar membutuhkan banyak bahan kimia, mulai dari pupuk hingga bahan pengawet makanan. Selain itu, udara akan terpolusi oleh pengangkutan bahan baku atau barang jadi dari negara produsen ke seluruh dunia. Kedelai dari Brasil dan daging dari Argentina, misalnya, harus diangkut ke berbagai negara di Amerika Utara dan Eropa dengan menghabiskan minyak fosil dalam jumlah besar setiap tahunnya. Begitu pun sebaliknya, bahan kimia pertanian harus diangkut dari negara-negara maju ke negara produsen pertanian—sebagian besar di negara berkembang.

***

Lalu siapa yang menjalankan proyek ini? Sebuah koperasi. Seorang anggotanya harus membeli saham minimal 25 buah, dengan setiap lembar saham berharga satu pound. Anggota koperasi ini datang dari beragam latar belakang, dari orang yang bersekolah tinggi hingga rendah, orang kota dan desa, orang Wales maupun orang Inggris—antipati orang Wales masih belum habis terhadap Inggris dan tentu ini merupakan upaya integrasi sosial yang luar biasa.

Namun menurut John, harga saham bukan segala-galanya. Yang paling penting adalah keterlibatan dan dukungan anggotanya. Menurutnya, sebagian besar anggota koperasi hanya terlibat sebagai pendukung, sesuatu yang tidak terlalu bermasalah karena memang di nyaris setiap upaya kolektif selalu ada tim inti yang punya cukup banyak waktu dan komitmen untuk terlibat penuh, dan pendukung atau simpatisan dengan keterlibatan terbatas.

Selain itu, nyaris seluruh proyek yang dijalankan Moelyci masih didanai oleh berbagai macam penyandang dana. Mulai dari universitas sampai lembaga pendana berbasis lingkungan hidup.

Perihal dana hibah, John dan kawan-kawan tidak berhenti melakukan otokritik terhadap ketergantungan mereka. Ia dan kawan-kawannya selalu berharap, dan terus berusaha, untuk lepas dari ikatan dana hibah tersebut. Mereka bermimpi memiliki pusat pelatihan yang bisa membiayai diri sendiri.

Mereka menganalogikan bantuan sama dengan penggunaan pupuk kimia, sesuatu yang terpaksa digunakan sebagai penopang sementara, yang akhirnya harus dihentikan. Untuk itu mereka menjalankan beragam siasat. Mereka misalnya ‘menjual’ produk pelatihan dan paket pariwisata, di samping menyewakan lahan pertanian, serta menjual produk tani, ternak organik dan kompos yang menjadi basis pendapatan utama.

***

Sayang kami hanya bisa berada di sana beberapa jam untuk menggali informasi lebih banyak. Saya mulai mengidolakan para pengelolanya. Terutama seorang tua berjanggut panjang putih, yang sangat tahu jenis-jenis pohon, kapan boleh ditebang, bagian pohon mana cocok untuk mebel tertentu, jenis burung apa yang biasa hinggap di pohon tertentu, dan masih banyak lagi. Sayang sekali, karena keasyikan mendengar dongengnya tentang pohon, burung, alat pertukangan kayu di bengkelnya, saya lupa menanyakan namanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s