Cerita yang Membunuh Setan

Menjelang tutup usia seorang ayah berpesan kepada tiga putranya, “Saya punya tiga ratus sukusuku emas. Tetapi kalian harus membaginya empat dan baru boleh membelanjakannya jika bagian ke empat telah dibagikan.” Ketika anak-anaknya bertanya kepada siapa bagian keempat itu diberikan, sang ayah menjawab “kepada setan.” Anak-anaknya terperanjat.

Potongan cerita di atas membuka cerita rakyat yang dikumpulkan dan ditulis ulang oleh Nurdin Yusuf, seorang pengajar sastra daerah di Makassar. Cerita di atas ia beri judul Papaseng To Matoa, atau Pesan Orang Tua. Dalam pengantar seri Cerita Rakyat ini Mattulada mengungkapkan bahwa cerita-cerita semacam ini biasanya dituturkan pada malam hari, selepas makan malam atau setelah salat Isya. Anak-anak usia enam hingga dua belas tahun adalah audiensnya, sementara si penutur biasanya adalah kakek, nenek, ayah atau ibu.

Cerita ini dibuka dengan sebuah kejutan. Sebuah teknik yang banyak digunakan pada cerita maupun film moderen, karena sangat digemari penonton atau pembaca. Kita bisa membayangkan bagaimana anak-anak akan memperbaiki posisi duduknya agar merasa nyaman dan bisa konsentrasi mendengarkan lanjutan cerita.

Dari pengenalan konteks cerita kita bisa membayangkan, kira-kira, apa fungsi cerita rakyat tersebut: pembentukan karakter. Sesuatu yang amat penting dalam setiap budaya jika ingin menghasilkan pendukung-pendukung budaya yang kuat.

Tujuan ini nampak semakin jelas pada sambungan ceritanya.

* * *

Kisah dilanjutkan. Sang ayah meninggal. Tak lama kemudian, ketiga anak ini kehabisan uang. Maka berundinglah mereka untuk mencari setan. Mereka lalu menanyakan pada dukun. Dukun menjawab, “Carilah di kuburan pada malam Jumat.” Mereka pun melakukannya. Mereka bahkan berteriak-teriak memanggil setan untuk datang mengambil bagiannya. Namun, setelah menanti hingga pagi, hasilnya nihil.

Lalu mereka memutuskan untuk mencari dukun lain. Dukun ke dua ini menyarankan agar mereka menanti di persimpangan jalan pada malam Jumat. Mereka pun melakukannya. Namun hasilnya sama. Setan tidak datang. Akhirnya, setelah siang, mereka menyerah. Mereka kemudian menemui kepala perampok, sebab, menurut saudara yang paling tua, kepala perampok mungkin tahu di mana setan berada.

Singkat cerita, kepala perampok menyarankan mereka menunggu di pelimbahan rumah sendiri, “dan tunggulah sampai jauh malam di malam Jumat,” tambahnya. Maka mereka pun melaksanakannya. Hasilnya juga nihil.

Mereka lalu mendatangi ‘seorang tua yang tinggal berkebun di puncak sebuah gunung [bukit?]’. Mereka menceritakan seluruh pengalaman mencari setan kepada orang tua ini. mendengar itu dia lalu menyesali, “Memang tidak ada setan di tempat-tempat itu.”

Pada bagian ini, cerita bergerak menampilkan tokoh-tokoh dan tempat-tempat yang biasanya berhubungan dengan mahluk gaib bernama setan. Tokoh dan tempat yang paling umum dikenal dalam dunia hitam magis adalah dukun dan kuburan. Hingga kini, fenomena ini masih melekat erat dalam alam pikiran kebanyakan masyarakat kita.

Dalam banyak tradisi lisan, kita mendengar banyak jenis dukun, dan kekuatan apa saja yang bisa dilakukannya. Mereka dicitrakan begitu digdaya, sanggup menyelesaikan segala masalah. Maka pantas jika masyarakat menjadikan mereka sebagai referensi pertama jika tertumbuk suatu persoalan. Apalagi jika itu berbau mistis seperti setan, sebagaimana cerita di atas. Tokoh lainnya adalah kepala perampok. Tempat lain adalah persimpangan jalan dan pelimbahan air di rumah. Semuanya memperlihatkan tempat dan tokoh yang umumnya dianggap keramat oleh masyarakat kita.

Tak kalah pentingnya adalah setting tengah malam Jumat. Setting ini ditampilkan juga untuk melengkapi elemen yang dimitoskan ‘keramat’ oleh masyarakat. Dengan menampilkan semua elemen ‘keramat’ dan ‘jahat’ ini, cerita jelas ingin menyampaikan sesuatu. Pertanyaan besarnya adalah “mengapa setan tak ada di tempat-tempat keramat dan orang-orang keramat dan jahat tidak dapat menunjukkan tempat yang pasti tentang keberadaan setan?”.

Jawabnya dapat kita temukan di bagian akhir cerita.

* * *

Lantas di manakah setan? Tanya ketiga pemuda itu. “Di mesjid.” Kata orang tua itu. Dia menyarankan mereka datang ke Mesjid pada hari Jumat. Orang yang lebih dahulu keluar setelah shalat Jumat, itulah setan. Mereka harus memberi bagian ke empat untuk setan itu sebanyak empat kali.

Mereka berusaha melaksanakan tugas ini dengan baik. Pada Jumat pertama, orang pertama yang keluar mesjid diberi suku-suku emas. Maka tersebarlah kabar tentang orang yang memberi sedekah emas bagi orang yang pertama keluar mesjid. Di Jumat berikutnya kejadian serupa berulang.

Pada Jumat ke tiga, sang imam, yang telah mendengar berita ini, menggunakan kekuasaannya untuk keluar mesjid lebih awal. Dia pun memperoleh apa yang dia inginkan. Akan tetapi, ketika itu terjadi, si petani tua yang hadir di mesjid itu berteriak, “Rupanya setanlah yang kalian jadikan imam di mesjid ini.”

Minggu ke empat tak ada orang yang mau keluar lebih awal. Semua takut disebut setan. Setelah berunding, mereka akhirnya keluar secara serempak. Demikianlah cerita ini ditutup.

Nah, pada bagian ini muncul tokoh imam serakah. Padahal, menurut ‘shared knowledge’, atau pengetahuan bersama yang menjadi semacam ‘keyakinan’, dan hanya tersebar dari mulut ke mulut, imam selalu digambarkan sebagai orang suci. Selain itu, cerita ini juga menghamparkan setting mesjid, yang lagi-lagi menurut kepercayaan awam masyarakat, selalu merupakan tempat suci.

Jadi, pembongkaran terhadap mitos berlangsung ke berbagai arah. Pertama, pada sisi tokoh: dukun dan rampok tidak selalu tahu segala hal yang berbau mistis dan jahat; imam tidak selalu suci dari kehendak duniawi seperti harta. Kedua, pada sisi setting; malam Jumat bukanlah malam yang ‘keramat’ dipenuhi setan; kuburan, persimpangan jalan dan pelimbahan di rumah, bukanlah tempat di mana setan selalu berkunjung; mesjid bisa juga menjadi tempat di mana setan(-setan) berada.

Di sisi lain, cerita ini mengangkat tokoh petani tua di atas gunung, sebagai orang yang punya jawaban. Dengan begitu, cerita ini terlihat begitu konsisten melabrak mitos kecendikiaan dan relasinya dengan kekuasaan. Misalnya mengungkap penyelewengan kekuasaan yang bisa dilakukan para imam (kekuasaan agama), dan mengingatkan kita bahwa dukun tidak tahu segalanya, dan terkadang hanya menjawab berdasarkan apa yang sudah dipercaya orang (kekuasaan ilmu gaib).

* * *

Uniknya, cerita rakyat ini tidak membiarkan pemirsa bertanya-tanya apakah itu ‘setan’?

Cerita ini punya jawaban. Cerita ini ingin menggambarkan bahwa setan bukanlah ‘mahluk’ melainkan sebuah sikap atau perilaku. Karena itu, ‘Setan’ melekat pada diri setiap manusia, ke mana pun dia pergi. Tidak hanya ada di tempat keramat, tetapi juga di mesjid. Tidak hanya pada dukun atau rampok, tetapi juga pada imam.

Karena itu, yang paling penting, ‘setan’ itu adalah sesuatu yang temporer. Sulit untuk mendeteksi kapan dia muncul di hati manusia. Dia hanya bisa diketahui lewat perenungan yang mendalam, yang dalam cerita ini muncul dalam sosok petani tua di puncak gunung. Profesinya sebagai petani yang punya banyak waktu luang, tempat tinggalnya di gunung yang menyediakan pemandangan dan kesunyian, serta usianya yang panjang, sangat memungkinkan dia untuk melakukan perenungan demi perenungan untuk menemukan hakikat ‘setan’ dalam kehidupan manusia.

Demitologisasi ini penting untuk memupuk penggunaan nalar dalam menghadapi masalah. Dalam catatannya tentang mitologisasi politik dan budaya di Indonesia, Kuntowijoyo mengingatkan bahwa perjalanan politik dan budaya Indonesia dipenuhi dengan mitologisasi, sakralisasi, mistifikasi, yang kesemuanya ampuh membunuh nalar kita.

Dengan demikian, cerita rakyat di atas dapat menjadi contoh sebuah tradisi yang mesti direproduksi secara kreatif untuk membunuh kecenderungan mitologisasi generasi penerus kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s