Ketika Media Massa Melongok Orang Desa

Beberapa tahun silam seorang ibu rumah tangga meminta saya membawakan baju bekas untuk orang-orang To Balo. Sebelumnya ia bertutur dengan lancar tentang uniknya komunitas ‘berkulit belang’ itu, dan betapa buruk penampakan fisik mereka—sebagaimana ia saksikan di tayangan televisi.

Rupanya hatinya tersentuh usai menyaksikan tayangan tentang ‘komunitas’ itu, yang mukim di pegunungan Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Ia tahu saya pernah berkunjung dan tinggal sekitar tiga minggu di desa mereka, dan mungkin bisa membantu membawakan baju bekas ke sana.

Cerita di atas membawa kita pada pertanyaan, apakah yang benar-benar mereka butuhkan adalah baju bekas? Apakah kesan yang ditangkap ibu di atas tentang To Balo cukup dekat dari kenyataan? Pertanyaan ini penting agar reaksi pemirsa (atau pembaca untuk media cetak) tidak salah arah.

***

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, baiklah secara super ringkas kita lihat dulu bagaimana, kira-kira, pandangan orang kota terhadap orang desa terbentuk, dan apa sumbangsih media dalam hal ini.

Pertama, orang kota lebih punya banyak peluang untuk memberi penjelasan terhadap apa yang terjadi di desa. Mereka didukung banyaknya sumber daya dan media. Di perusahaan koran dan televisi, orang-orang yang mengerjakannya hampir seluruhnya adalah orang kota, atau paling tidak telah mengadopsi gaya hidup atau cara pandang urban terhadap orang desa. Sehingga, kita bisa bayangkan, media—dan pranata-pranata buatan kota lainnya—cenderung bisa memaksakan sudut pandangnya, meski memang tidak selalu secara sengaja. Tapi hasilnya tetap sama, wajah desa yang kita lihat di media massa adalah ‘wajah desa versi orang kota’.

Kedua, media selalu datang dengan membawa fokus liputan mereka untuk ditimpakan ke komunitas yang akan diliputnya. Setiap pengambilan gambar, aktivitas atau ikon, mereka akan perpegang pada fokus tersebut, yang bisanya dibuat sebelum betul-betul berada di lapangan. Padahal, fokus atau tujuan peliputan ini sering tidak mewakili keadaan desa yang sebenarnya, atau setidaknya mendekati.

Ambil contoh kasus Komunitas To Balo di atas. Pertama, desa itu adalah sebuah kawasan administratif bernama Desa Bulo-Bulo yang terdiri dari beberapa dusun. Kedua, orang di sana menyebut asal diri mereka mengikuti nama dusun tempat mereka tinggal (To Lappa Temmu, To Maroangin, dan lain-lain). Ketiga, jumlah penduduk desa itu menurut data September 2002 adalah 1.551, dan jumlah orang yang berkulit belang saat itu hanya 9 orang, termasuk satu orang yang tidak tinggal di desa itu. Jadi desa itu bukan hanya diisi orang berkulit belang, sehingga mereka tidak dapat direduksi menjadi hanya, dan menyebutnya sebagai, komunitas To Balo.

***

Pencitraan ala media tentu tidak bekerja sendiri. Sayangnya, sebagian besar orang kota datang ke desa untuk mencari masalah, dan yang paling getol untuk kerja semacam ini adalah para akademisi, yang selalu ‘turun ke lapangan’ (berarti mereka dari ‘atas’) dengan ‘tujuan penelitian’ (mungkin beda dengan tujan hidup warga desa) dan ‘rumusan masalah’ (biasanya jarang mencari solusi). Dalam bukunya, Rural Development: Putting the Last First, Robert Chambers menulis bahwa, “para akademisi dilatih untuk mengkiritisi dan malah dihargai untuk kritikannya. Terkhusus para ilmuan sosial, mereka diajari untuk mengajukan argumen dan menemukan kesalahan…aturan mental mereka bersifat evaluatif.” Kecenderungan itu juga mereka bawa hingga ke lapangan. Maka wajar bila pada akhirnya desa akan ditampilkan oleh mereka sebagai taman masalah. Ketimbang melihat secara seimbang hal-hal baik yang juga ada di desa.

Dapat dibayangkan, kecenderungan ini pun mempengaruhi pranata orang kota lainnya, termasuk media. Dari laporan-laporan penelitian, tesis-tesis, desertasi-desertasi, cerita tentang desa dan masalah terus menyebar dan membentuk cara pandang kota terhadap desa. Lama-kelamaan orang kota menganggap diri semakin superior, dan sebaliknya orang desa lambat-laun percaya bahwa mereka memang inferior.

Satu contoh, dalam sebuah Diskusi Kelompok Terfokus, saya menanyai sekelompok siswa-siswi SMU dari sekitar 10 sekolah di 3 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan, “Apa yang terlintas di pikiran mereka ketika mendengar kata petani?” Di antara jawaban yang keluar adalah: miskin, tertinggal, bodoh, kotor, dan sebagainya. Itulah pencitraan yang akrab bagi generasi muda urban terhadap petani di desa. Jadi, sebenarnya image tentang desa telah terbentuk, dan menyaksikan tayangan tentang To Balo seperti di atas hanya mempertegas asumsi-asumsi yang selama ini mereka, anak-anak urban itu, telan bulat-bulat.

Kita kembali lagi pada pertanyaan, apakah asumsi orang-orang kota di atas sesuai dengan kenyataannya? Apakah mereka memang menginginkan baju bekas?

Kepala desa Bulo-bulo, tempat To Balo [orang berkulit belang] itu tinggal, pernah menyatakan kejengkelannya pada saya. Ia bilang, “orang kota selalu datang dengan membawa sumbangan baju bekas, yang kadang-kadang sudah tidak layak pakai.” Ia menegaskan, “Kalau hanya baju bekas, Insyaallah kami tidak akan kehabisan.”

***

Jika penampakan fisik orang Bulo-Bulo terlihat ‘lusuh’ bagi orang kota, itu wajar. Mereka adalah petani desa. Hidup mereka sehari-hari dipenuhi dengan aktifitas pertanian. Adalah sebuah pemborosan dan kebodohan untuk berpakaian ‘bersih dan rapih’ dalam aktifitas keseharian mereka. Mereka bahkan punya bola koko (Rumah Kebun) untuk terus-menerus menjaga ladang dan sawah di musim tanam hingga panen. Bahkan dulu, sebelum diperkenalkannya ‘rumah kampung’ oleh beberapa penduduk yang telah berinteraksi dengan orang kota, mereka tinggal di bola koko, dan berpindah-pindah mengikuti berpindahnya lahan pertanian mereka.

Seorang petani bahkan pernah mengeluh dalam bahasa daerah yang kira-kira terjemahan bebasnya adalah: “Orang kota itu selalu memandang kami kotor karena selalu terlihat berlumpur. Padahal mereka tidak menyadari bahwa makanan yang mereka makan itu ada karena kami berkubang dengan tanah.”

Di sisi lain, orang kota dalam banyak aktifitasnya dituntut untuk senantiasa berpakaian rapih, karena itu akan membuat mereka merasa ‘nyaman’ berada di kantor, di sekolah-sekolah, di pusat-pusat perbelanjaan, atau pun di jalanan. Tiap hari mereka disuguhi tontonan TV dan koran yang berjejal iklan yang memperlihatkan orang dalam balutan busana yang ‘rapih’ atau lazim menurut standar orang kota.

Singkatnya mereka berada pada dua kutub budaya yang beda. Kesalahpahaman seperti kasus baju bekas di atas terus berlangsung dalam bentuk yang berbeda-beda karena informasi yang tiba di kota tentang orang desa cenderung tidak lengkap, tidak akurat atau bahkan bertolak belakang. Dan hingga kini, belum ada upaya yang cukup memadai untuk membuat interaksi sosial di antara kedua belah pihak ini berjalan seimbang dan sehat.

Bahkan kini, dengan semakin menjalarnya gurita teknologi, urbanisasi justru semakin tajam. Orang-orang desa mulai menikmati media televisi dan koran. Setahun lalu, di desa itu, televisi sudah mencapai dusun yang terdekat dari kota. Pembangunan jalan sedang berlangsung, tiang listrik kemungkinan juga segera menyusul.

Akan sangat menarik untuk mempelajari bagaimana orang di Desa Bulo-Bulo atau desa-desa lainnya menghadapi serbuan teknologi dan gaya hidup urban. Akankah media menjadi berkah atau bencana bagi mereka? Akankah mereka beramai-ramai melepaskan cangkul dan parang untuk pergi bekerja sebagai penjaga toko di kota, sebagaimana yang terjadi pada banyak anak muda desa sekarang ini?

[tulisan ini terbit di http://www.panyingkul.com, 2 Nov 2007]

Advertisements

One thought on “Ketika Media Massa Melongok Orang Desa

  1. muh fahmi iskandar says:

    juli 2010 lalu saya sempat ke rumah To balo yang dan ketemu sama mereka dan penampakan fisik mereka tidak seburuk apa yang ku bayangkan, malah ada anak bungsu To balo yang masih balita itu memiliki belang yang mirip avatar di kepalanya dan saya pun memanggilnya avatar. perjalanan ke To balo penuh perjuangan, dari makassar kami ke barru terus rencananya kami ingin mencari air terjun 14 tingkat, kami numpang truk yang melewati jalan bulu dua, dan harus mencari pete-pete untuk sampai di desa gattareng, tapi hampir semua pete-pete geleng-geleng kepala pas kami bilang mau ke gattareng. karena memang medannya sangat berat karena harus nanjak dengan jalan yang rusak berat. cuma sopir yang berpengalaman lewat di situ saja yang berani mengantarkan kami yang berjumlah 13 orang dan numpuk di satu pete-pete. sampai di gantareng suasana pengunungan barru yang asri menyambut kami, dan kami ke rumah kepala desa. kepala desanya dan penduduknya ramah menyambut kami yang notabene orang kota yang ngaku dari unhas mau mengadakan penelitian di air terjun 14 tingkat. tapi menurut penuturan kepala desa air terjun yang ada di desanya ngga ada yang sampai 14 tingkat. tapi pak kepala desa bilang ada memang air terjun yang sangat besar tapi berada sangat jauh, perlu jalan kaki 1 hari satu malam. akhirnya kami mengurungkan niat ke air terjun 14 tingkat yang memang belum jelas ada atau tidak, jadi kami memilih ke air terjun yang berada di sekitar desa gattareng yang ditempuh setengah jam berjalan kaki melintasi kebun-kebun penduduk. Ternyata air terjun ini di manfaatkan sebagai sumber air bersih desa dan pengairan. kami memilih camping di sekitar air terjun terjun. keesokan harinya kami kembali ke rumah kepala desa, memang kepala desa yang patut jadi teladan. sampai di rumah kepala desa kami di jamu makan pagi dan kami menanyakan tentang To balo yang ada di daerah barru. dan kebetulan pak desa masih punya hubungan keluarga dengan To balo, pak desa bilang rumah To balo itu masih ada 30 km dari sini, pak desa menyarankan mencarter mobil yang biasa mengantar penduduk desa ke barru. kalau bukan pak desa yang langsung meminta kepada itu sopir untuk di carter mobilnya untuk mengantar kami ke To balo, si sopir pasti menolak karena dia sudah ada penumpang yang akan di antar ke barru dan jumlah kami memang banyak yaitu 13 orang dan harus numpuk di mobil suzuki cary, 7 dibelakang 6 di tengah dan supir dan kernek serta satu penumpang mobil itu. di perjalanan ternyata sopir itu juga tidak tahu dimana rumah To balo, ya kami pun bertanya ke tiap orang yang kami temui di jalan dan kami pun singgah di rumah salah satu warga dan ternyata ini rumah kepala desa tapi saya lupa desa apa itu namanya. dan kepala desa itu yang sedang ada di kebunnya kami pun minta tolong ke anaknya kepala desa itu untuk memanggil bapaknya. tidak lama kemudian pak desa muncul dengan senyuman merekah menyambut kami, mungkin pak desa sangat senang di kunjungi oleh orang kota yang munkin mereka mengira kami akan kkn di desanya, pak desa memberitau kami kalau kediaman To balo, ikuti saja jalan aspal ini terus di ujung ada persimbangan belok kiri yang jalannya belum di aspal. dan sampai di sana temui pak desanya karena biasanya To balo tidak mau di temui oleh orang belum dikenalnya atau orang asing. sesampainya disana ternyata pak desanya tidak bisa mengantar kami kami karena da keperluannya yang tidak bisa ditunda dan pak desa menyuruh kami menemui adiknya bernama bu hasan, kami pun menyusuri jalanan kampung itu dan mendatangi rumah bu hasan dan sampai di rumah bu hasan cuma ada anaknya dan bersedia mengantar kami ke To balo, kami bertanya pada anak itu bilang rumah To balo masih jauh sudah dekat atau masih jauh karena saya rasa saya sudah berjalan selama 1 jam naik turun bukit melewati kebun-kebun penduduk, dan saat berpapasan dengan penduduk yang sedang membersihakan kebunnya, saya menyempatkan bertanya bahwa rumah To balo dimana, dia bilang sudah dekat mi, terus mi saja ada itu sungai kecil yang dilewati dekat situ mi itu. tapi setelah 2 jam berjalan tapi belum ada tanda-tanda ada sungai, sekarang aku baru percaya dekat menurut orang desa itu beda dengan dekatnya orang kota. setelah berjalan kira-kira setengah jam akhirnya kami melewati sungai dan ketemu bu hasan adiknya kepala desa yang ternyata seorang lelaki,hehehe
    bu hasan, eh pak hasan tawwa. dia yang mengantar ke rumah To balo.
    Rumah pamggung yang salah satu tiangnya sudah mulai di grogoti rayap dan itu rumah To balo, disana kami temui anak bungsu To balo yang memili belang di kepalanya yang mirip avatar yang di gendong oleh pengasuhnya yang masih kerabatnya tapi dia tidak belang seperti T0 balo ini.
    setelah melepaskan lelah di rumah To balo kami pun pamit pulang dan kami tidak ketemu bapaknya karena mereka sekeluarga pergi ke ladang. setelah berjalan tidak jauh kami berpapasan dengan bapaknya anak To balo tadi kami menanyai perihal belang yang menimpa keluarganya, si bapak cuma bilang singkat itu karena takdir karaeng taala….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s