Berkebun Sayur di Tengah Kota

Pagi itu Salma berjibaku dengan pakaian kotor di rumah salah seorang tetangganya, seorang pejabat di Kantor Pemerintahan Sulsel. Ia bekerja setiap hari di sana. Namun di sela itu, Daeng Calla, demikian orang mengenalnya, juga menyisihkan waktu luangnya untuk bertani di sebidang tanah di belakang rumahnya di Jl. Andi Tonro, di kawasan selatan Makassar. Tanah itu milik seorang pengusaha yang tinggal di Bone dan memercayakan Daeng Calla untuk menjaga sambil menempatinya.

Pada suatu sore yang tak bisa ia ingat lagi kapan persisnya, Daeng Calla melihat anaknya sedang menyiapkan butiran-butiran, yang katanya untuk jadi peluru dalam sebuah permainan perang-perangan. Daeng Calla tertarik melihatnya lebih dekat. Ternyata butiran itu adalah biji kangkung kering yang dikumpulkan anaknya di rambatan kangkung liar tak jauh dari rumahnya. Melihat itu Daeng Calla jadi bersemangat.

“Kalau di kampung saya biasa tanam kangkung,” katanya. Daeng Calla memang berasal dari sebuah kampung di Takalar, dan di sana, ia tumbuh sebagai petani yang terbiasa menanam apa saja. Dan anaknya telah membawa kenangan itu kembali ke kehidupannya. Sudah lama juga ia tidak bertani, “Terakhir kita tanam jagung di sana,” menunjuk kompleks perumahan paling baru di kawasan itu. “Buahnya banyak sekali,” tambahnya.

Namun ia tidak hanya beromantika, hidup keras masih harus ia jalani, dan untuk itu ia mesti pandai mencari cara. Waktu itu ia berpikir biji kangkung itu adalah jalan keluar yang patut dicoba.

Ia tahu tanah yang ada di belakang rumahnya sekarang bisa ditanami, meskipun “tidak begitu subur dibandingkan yang di sebelah sana,” katanya sembari menunjuk sekali lagi lokasi perumahan itu. Ia sudah tinggal di kawasan ini sejak tahun 1973. Ia datang ke Makassar tahun 1968 segera setelah menikah, diboyong suaminya yang waktu itu bekerja sebagai sopir angkutan kota. Ia menunjukkan juga beberapa perumahan lagi yang katanya dulu daerah sawah basah dan merupakan kawasan banjir. “Kalau banjir kita harus naik sampan ke sini,” tuturnya.

Daeng Calla tahu bahwa di Jalan Veteran Selatan ada Toko Tani yang menjual berbagai jenis bibit sayuran dan alat pertanian lainnya. Ia pun membeli biji kangkung, tomat dan cabe. Memakan waktu lebih seminggu untuk menggemburkan dan membuat bedengan di tanah yang agak berpasir itu. Untuk menghindari terjangan ayam dan gangguan anak-anak yang bermain, ia tentu harus memagari kebun barunya itu.

Kebetulan kemanakannya sedang bekerja sebagai mandor pada proyek pembuatan sebuah bangunan besar yang menggunakan banyak bambu untuk menopang beban beton basah. Tetangganya punya pete-pete (mikrolet) yang bisa dipinjam untuk mengambil bambu itu, “hanya perlu uang bensin,” tutur Daeng Calla. Maka diangkutlah bambu itu ke rumanya, dan beberapa hari kemudian, siaplah bedengan-bedengan aman berpagar bambu untuk menerima kucuran biji-biji kangkung dan bibit tanaman lainnya.

Daeng Calla membeli paket biji sayuran berupa kangkung, tomat dan cabe, seharga Rp13.000. Setelah menanamnya, setiap hari Hamzah, suaminya, menyiram bedengan-bedengan itu, tiap pagi sekitar pukul tujuh dan sore sekitar pukul empat. Kebunnya itu terletak di tengah perumahan padat sehingga sulit mendapatkan sinar matahari yang cukup karena terhalau bangunan sekelilingnya.

Pagi itu Hamzah harus antre sebab air untuk menyiram kebun diambil dari sumur umum sekitar tujuh meter dari kebun itu. Sebaliknya, ibu-ibu yang mencuci di sumur itu mesti jeda sejenak bila tiba giliran Hamzah menimba air.

Untuk urusan menyiram kebunnya Daeng Calla membeli alat penyiram menyerupai leher angsa berbahan logam, alat yang juga dia beli di Toko Tani seharga Rp30.000. Dari alat itulah menyembur air yang membasahi daun-daun kecil kangkung yang saat itu berusia sekitar tiga minggu.

Namun usia Hamzah sudah 55 tahun, dan mengangkat alat penyiram itu berulang-ulang hingga frekwensi yang banyak adalah pekerjaan yang sangat berat baginya. Untuk itu dia memebuat sistem penyaluran air ke kebunnya dari sumur. Dia menempatkan ember besar di dekat sumur, sisi bawah ember itu dia lubangi dimana kemudian terpasang selang yang mengalirkan air ke sebuah baskom besar yang diletakkan di sudut kebun yang terdekat dari sumur itu. Jadi dia hanya perlu menimba dari sumur mengisi ember besar itu lalu menanti airnya di sudut kebun.

Kelak, setelah usia kangkung semakin tua, Hamzah merasa kangkung itu perlu air lebih banyak. Karena kurang efektif untuk senantiasa membasahi kebunnya sengan alat itu, dia membuat selokan khusus ke kebunnya dari sumur. Jadi seluruh air buangan di sumur itu mengalirlah ke kebun kangkungnya. Untuk itu dia membuat semacam kanal kecil mengelilingi setiap bedengan yang dia usahakan terus berisi air.

Singkatnya, dalam mengelola kebunnya itu Daeng Calla dan Hamzah, mengatasi seluruh masalah yang menghadangnya dengan segala sumber daya yang bisa mereka jangkau. Tentu mereka tak tahu bahwa hari itu, saat saya berkunjung ke kebun mereka tanggal 12 Agustus 2006 lalu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulsel sedang mengadakan lokakarya di Hotel Makassar Golden bertajuk ‘Percepatan Transfer Teknologi Pertanian’. Sementara para ahli dan pejabat terkait membahas masalah ini, sepasang suami isteri di kawasan Andi Tonro justru sedang menerapkan secara sederhana apa yang menjadi tujuan BPTP yaitu, “merakit teknologi pertanian spesifik lokasi.” Daeng Calla dan Hamzah tak pernah mengeluhkan berbagai percobaan di kebun mereka. Bahkan, Hamzah mengatakan, “Kalau ini dicatat dalam catatan harian, bisa berhasil ini,” sambil membuka kacamatanya untuk melap peluh di wajahnya. Iia baru saja selesai menyiram kangkungnya.

Sementara di hotel berbintang itu, kepala BPTP Sulsel mengeluh — sebagaimana tertulis dalam koran lokal terbitan Makassar, “…perlu disadari bahwa dalam kurun waktu 10 tahun kiprah lembaga ini dalam membangun sistem dan usaha agribisnis berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi inovatif spesifik lokasi belum optimal dan masih jauh dari harapan.”

Yang jelas, beberapa minggu kemudian, Daeng Calla mulai panen. Menurut penuturan Murni, tetangga Daeng Calla, pelanggan pertamanya adalah tetangga-tetangganya sendiri. Mereka senang karena tidak perlu pergi jauh mencari kangkung, dan tentu saja harganya lebih murah. Keberhasilan ini kemudian memicu permintaan tetangganya akan jenis sayuran lain. Daeng Calla dan suaminya pun mulai menyusun rencana untuk menanam sayuran jenis lain seperti sawi dan bayam, meskipun menurut mereka harga bibitnya lebih mahal dan perawatannya lebih intensif.

Bila ini terwujud, maka mereka telah menjadi pelayan masyarakat yang sebenarnya, menyediakan kebutuhan riil warga sekitarnya, dan itu mereka lakukan di usia yang tidak muda lagi dengan peralatan seadanya. Tujuan awalnya sederhana, untuk mencari tambahan demi menghidupi sepuluh anaknya, dan menyekolahkan sebagian diantaranya—sebagian lagi telah putus sekolah karena tak cukup biaya. Namun, dengan melakukan itu, mereka telah berhasil memberi manfaat kepada keluarga dan orang-orang sekitarnya.

[terbit di http://www.panyingkul.com tanggal 12 September 2006]

Advertisements

2 thoughts on “Berkebun Sayur di Tengah Kota

  1. J. sitorus says:

    Namun pertanyaan yang belum terjawab adalah: mengapa dg calla harus bercucuran keringat berjibaku di lahan orang lain (ehm seorang pengusaha tentunya)? kemanakah tanahnya di kampung hingga beliau harus merantau ke makassar? pertanyaan ini penting dianalisa lebih jauh sebab mungkin karena kehilangan tanah (alat produksi) itu yang menghempaskan hidupnya menjadi tukang cuci di rumah seorang (ehm pejabat pemerintah pastinya).
    dg calla mungkin satu yang bisa bertahan diantara ‘rantau desa’ (proletar) yang diblejeti tanahnya di kampung halaman hingga dipaksa menjual tenaga untuk bertahan hidup di kota. Ribuan proletar lain terkapar di bawah kolong jembatan, di lampu-lampu merah, emperan toko, menunggu ajal singgah di sepertiga malam. salam kenal dari sumatera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s