Prakarsa yang Mengalir di Pallambeang

Saluran itu menjulur tiga kilometer lebih, membelah dan mengairi kawasan sawah seluas ‘ribuan hektar’ di dua desa. Orang-orang dari lima desa bergantung padanya untuk mengairi sawah mereka. Padahal lebarnya lebarnya hanya satu setengah meter.

Berdiri di tepinya saya disergap aroma sawah dan tanah berlumpur. Mata disegarkan karpet hijau, padi berusia sebulan. Air semata kaki yang terkurung pematang memeluk batang-batang padi dan memantulkan sinar pagi yang mulai menyuilaukan mata. Di dalamnya sekawanan karper berenang menelusuri lorong-lorong yang dibentuk barisan batang padi.

Di utara sana, sang Bawakaraeng tengah sembunyi di balik kepulan awan.

Saluran air ini bukan sekedar lanskap. Namanya, Pallambeang, juga menjadi penanda hamparan sawah yang sungguh luas itu. Ia pun berperan sebagai monumen warga desa Majannang, di dataran tinggi Kabupaten Gowa, untuk mengenang sejarah kemandirian mereka.

Dari masa lalu yang tidak bisa dijejaki lagi, tetua desa mengalirkan kisah bagaimana warga menuntaskan masalah sendiri: mengalirkan air dari anak sungai Jeneberang ke kawasan teras iring yang luas di sampingnya.

Syahdan, seorang Karaeng Longka, gelar penguasa tradisional setempat, bernama Lantara, meminta warga bersama-sama membuat saluran air itu. Baik Basri yang berusia tigapuluhan, ataupun warga lain yang berusia tujuhpuluhan, tidak lagi bisa menuturkan kapan persisinya pekerjaan besar ini berlangsung. Sang kakek hanya mengatakan, ”Sebelum saya lahir Pallambeang sudah ada.”

Selain membangun kanal, mereka juga membentuk sebuah pranata untuk memeliharanya. Mereka membuat lumbung bersama, tempat warga mengumpulkan sumbangan beras sebagai tabungan demi pemeliharaan saluran air itu. Sungguh beda dengan budaya orang Sulawesi Selatan yang saya lihat sekarang, jago membangun tetapi loyo memelihara fasilitas publik.

Di masa lalu, urusan publik kampung mereka dikelola oleh duabelas pemangku adat, orang sekarang menyebutnya ‘adat duabelas’. Salah satu dari pemangku adat itu adalah ‘pinati’, yang berperan memastikan segala urusan pertanian, urusan utama orang Longka—nama lama kawasan tempat Desa Majannang kini berada, berjalan lancar. Orang inilah yang bertugas menjaga agar saluran air Pallambeang bisa terus mengairi hamparan sawah.

Namun di balik sejarah panjang ini, sang kanal menyimpan potensi konflik. Seiring kemerdekaan Indonesia, pemerintah pusat mulai melakukan penyeragaman tata-kelola seluruh desa di Indonesia. Tiba-tiba tercipta hirarki pemerintahan, dan pusat dari pemerintahan itu berada jauh di luar jangkauan orang-orang Longka.

Dengan peraturan pemerintah yang mengalir dari Jakarta, yang membawa gubernur, bupati, camat, dan seterusnya menginjakkan sepatu-sepatu mengkilap di jalan desa, surutlah rasa percaya diri orang desa. Dengan proyek-proyek pembangunan yang didesain dan didanai dari Jakarta susut pula inisiatif warga. Mereka hanya menunggu orang kota datang membawa proyek dan uang untuk urusan fasilitas publik. Banyak bangunan yang keberadaannya di desa didesain secara terpusat kini menjadi rumah semak dan semut karena tak digunakan warga.

Lambat-laun warga desa kehilangan daya inovasi dalam membangun dan merawat fasilitas kolektif mereka. Saat itu, saluran air Pallambeang mengalami masa surut.

***

Basri, Hakim dan upacara ngalle pare lolo yang menjadi berkah bagi bangkitnya kembali saluran ini.

Basri adalah seorang intelektual organik, ia lahir dan tumbuh di Majannang. Ia menghirup udara sawah setiap hari, suntuk di dalam lumpur dan saluran air. Ia kenal betul tiap sudut desa. Ia tahu persis relasi sosial setiap orang di desanya, bahkan hingga desa sekitar. Ia salah seorang petani yang menggarap sawahnya persis di tepi Pallambeang.

Hakim adalah warga Majannang yang juga aktivis LSM setempat bernama Karaeng Puang. Ia gemar belajar sejarah. Selama bertahun-tahun, bukan untuk urusan mendapat gelar atau proyek penelitian pesanan, ia mengorek informasi sejarah dari banyak orang tua di sekitar kampungnya. Ia memang putra seorang pemangku adat, namun itu tidak membuatnya pongah dan bermalas-malasan seperti banyak anak pejabat di kota.

Hakim terus belajar dan kini ia berubah menjadi literatur sejarah kampungnya di usia 38 tahun. Pengetahuan mendalam akan sejarah ini sangat membantu keterampilannya memfasilitasi yang ia peroleh di beberapa pelatihan fasilitator.

Upacara ‘ngalle pare lolo’ (memetik padi muda) adalah ajang konsolidasi. Upacara ini membuka kerja besar yang menyenangkan: panen raya. Mereka mengambil beberapa ikat padi yang belum matang betul, menumbuknya, lalu memasaknya dan makan bersama sebagai rasa syukur. Saat itulah mereka biasanya membincangkan masalah kekurangan air yang muncul tiap kemarau bertiup ke Pallambeang.

Hingga beberapa tahun lalu Hakim sudah mulai jengah dengan persoalan kekurangan air yang kerap mendatangkan konflik antar pengguna air di kawasan Pallambeang. Air tidak mengalir hingga ke sawah yang agak jauh dari saluran di musim kemarau. Jelas debit air menurun.

Tiap ngalle pare lolo berlangsung, ihwal ini dibicarakan namun belum ada upaya untuk menyelesaikannya. Mengapa? Mereka mengharapkan pemerintah menyelesaikan persoalan fasilitas publik, sebuah cara berpikir bentukan pemerintahan Orde Baru yang sentralistik.

Sejak sekitar empat tahun lalu Basri mengakui telah mulai mempelajari secara mendalam persoalan kekurangan air ini. Ia menelusuri saluran ini dari ujung ke ujung, mengamati setiap percabangan dan pintu air yang mengalir ke lahan. Ia menemukan bahwa persoalan terbesar adalah kebocoran saluran di beberapa tempat sehingga banyak air yang terbuang percuma ke sungai di daerah hulu (yang di sisinya tidak terdapat sawah) sebelum tersalurkan ke sawah-sawah di hilir dan yang berada jauh dari saluran air.

Surutnya debit air tentu membuat panik para petani. Mereka sering terpaksa membuka diam-diam dan secara paksa pintu air tertentu untuk mengalirkan air ke sawah mereka dan merugikan sawah orang lain yang berada lebih jauh dari saluran air. Tentu ini menyulut konflik.

Sementara itu berlangsung, Hakim dan kawan-kawannya di LSM Karaeng Puang sedang melakukan pengkajian berbasis masyarakat terhadap Desa Majannang. Salah satu bagian dari kajian itu adalah mencari pemimpin potensial di desa itu. Ini salah satu prinsip yang berupaya mencari solusi setempat, bukan melulu mencari masalah, termasuk mencari warga setempat yang punya potensi intelektual dan kepemimpinan.

Dalam kerja inilah Hakim ’menemukan’ Basri.

***

Di bulan Agustus 2007 lalu, warga yang menggarap sawah di Pallambeang mengadakan upacara ngalle pare lolo mulai membicarakan secara serius pembentukan kelompok pengguna air Pallambeang. Sebelumnya Basri telah membincangkan gagasannya ini kepada Hakim dan beberapa warga lain.

Setelah bincang-bincang di bulan Agustus itu Basri dan Hakim mulai bergerilya meyakinkan warga akan pentingnya membentuk sebuah ‘kelompok pengguna air’. Ada lebih seribu pemilik lahan yang memanfaatkan pallambeang, tentu sulit menata penggunaan air tanpa kelompok. Di sinilah Hakim menggunakan kepakarannya akan sejarah kampung.

Dalam sebuah perbincangan informal, yang biasa ia lakukan, ia sekali lagi mendengar keluhan warga akan kekurangan air. Hakim bertanya:

”Orang tua kita dulu bikin apa untuk mengatasi ini?”

”Mereka bekerjasama memperbaiki saluran” jawab salah seorang warga

”Apa dulu mereka mengandalkan pemerintah?”

”Tidak”

”Lantas kenapa sekarang kalian tidak bisa?”

Dengan ini mulailah ia menjelaskan prakarsa pendahulu-pendahulu mereka dalam menuntaskan masalah sehari-hari. Hasilnya, antara bulan Oktober dan Desember terjadi empat kali pertemuan maraton para calon anggota kelompok pengguna air Pallambeang. Mereka mulai dengan identifikasi masalah, fungsi kelompok dan berakhir dengan pembentukan pengurus Kelompok Penggunga Air.

Pertengahan Desember 2007 pengurus Kelompok Pengguna Air yang beranggotakan sekitar 200 orang dan diketuai Basri dilantik kepala desa.

Sejak itu mereka secara bertahap melakukan penambalan kebocoran saluran, membuat lumbung desa untuk mengumpulkan sumbangan padi yang akan dijual untuk membiayai kerja-kerja kelompok, dan merencanakan pembangunan jalan desa di tengah kawasan Pallambeang guna memudahkan petani mengangkut hasil panen.

Mereka membentuk kelompok penjaga pintu air untuk mengawasi jadwal pembukaan pintu air. Mereka melakukan pemeriksaan menyeluruh tiap bulan terhadap saluran air itu dari ujung hulu hingga ujung hilir. Pengurus bertemu tiap bulan dan pertemuan besar seluruh anggota dilakukan setidaknya tiga kali dalam setahun.

Tentu perjalanan mereka masih panjang, waktu masih akan menguji ketahanan mereka. Pertanyaan yang bisa diajukan kepada pemerintah: sejauh mana mereka boleh lepas tangan dari kewajiban membantu mendanai warga merawat saluran air itu. Atau setidaknya, sejauh mana mereka tidak boleh merusak inisiatif warga petani Pallambeang.

[tulisan ini terbit pertama kali di http://www.panyingkul.com, 11 Maret 2008]

Advertisements

2 thoughts on “Prakarsa yang Mengalir di Pallambeang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s