Dari “Catatan Akhir Tahun 2000”

Di sebuah desa terpencil, sebuah rumah panggung kuyup oleh hujan. Tiangnya sedikit meliuk, menunduk mengeloni tuan rumahnya yang tengah bersedih. Di halaman, bangkai-bangkai ayam berserak.

Sepanjang hari yang murung itu, sang tuan terus membayangkan hari-hari indah ketika setiap pagi dia dikejar ternaknya ke sana-ke mari, berebutan makanan yang dia bagikan. Juga mengenang uang kredit, tenaga dan waktu yang telah dia serahkan untuk memelihara mereka. Kandang dibangun, walaupun pakan harus diangkut dengan kuda karena tak ada jembatan, tak pernah dia menyerah. Mengeloni ayam-ayam itu setiap petang hingga mereka tertidur adalah pekerjaan yang paling dia gemari. Dia berharap ayam-ayam ini akan sanggup menambah penghasilan: membiayai anaknya bersekolah dan untuk si Ibu agar tak susah mengisi perbekalan dapur.

Beberapa hari sebelumnya harapan itu mulai buyar. Hidung unggasnya mulai berair, mata redup, sesekali lehernya tersentak seperi hendak muntah, kemudian dia pelan-pelan terduduk, patuknya bertumpu di tanah sebentar, lalu akhirnya terbaring lemas. Dia hanya mampu duduk menyaksikan dari detik ke detik hingga mereka benar-benar tak bernapas. Para penyuluh yang menempuh perjalanan jauh menuju desa itu, keringatnya belum mengering ketika dia melaporkan “mate manenni manu’e pa.” Ayam [saya] seluruhnya sudah mati, Pak.

Dia kemudian mengumpulkan bangkai-bangkai itu ke satu tempat, tempat sampah. Tak lama kemudian api pucat telah menyelimuti tidur panjang hewan-hewan malang itu

***

Di Takalar, para pengrajin keramik dengan dua keranjang yang digandengkan ke sepeda berangkat mengumpulkan tanah liat untuk direndam, kemudian dicampur air dan diaduk dengan rata menggunakan kaki selama berjam-jam, kemudian dibungkus agar tak kembali kering. Berhari-hari mereka menunggu bundaran tanah liat itu cukup kering untuk ditambah ke atas hingga membentuk guci, sehari tambah lima senti. Bahu-membahu mereka mengangkut tumpukan bahan bakar dari daerah sekitar untuk memanggang guci buatan mereka. Nenek, ayah, ibu, anak, cucu dan kerabat lainnya, semuanya terlibat. Guci harus jadi sebanyak-banyaknya agar ketika cukong datang uang cukup untuk bayar utang dan sekedar makan.

Kerja mereka bukan lagi kerja seni. Dan beberapa hari kemudian, berpuluh-puluh bahkan ratusan gentong bergambar naga dengan cat perak, merah-kuning menyilaukan mata berjajar siap dinaikkan ke truk untuk dijual ke berbagai Kabupaten. Sementara itu, sepasang patung mempelai berpakaian adat bugis makassar, kadal dan kerbau menatapnya dari bawah rumah panggung, mereka sudah lama di sana berselimutkan debu. “Kita akan hancur di sini,” mungkin begitu keluh mereka.

Sebenarnya, apa saja dapat mereka buat dari tanah liat. Mereka dan tanah sudah akrab sejak mereka mampu berjalan. Istri para pejabat datang silih berganti mengambil special order mereka. Namun, tiang rumah mereka yang rapuh itu tetap saja tidak tergantikan. Lalu, tak lama setelah truk tadi membongkar muatan, karya-karya mereka tiba di pintu-pintu rumah calon pembeli di Kabupaten sebelah. “Guci ini buatan Surabaya, Bu,” begitu biasanya mereka ditawari. Hukum permintaan menunjukkan taringnya.

***

Di Bulukumba, juga di desa terpencil di atas bukit, pada musim panen ini para petani harus bekerja melampaui jam tugas matahari. Kacang tanah yang mereka tanam harus segera meninggalkan bumi sebelum kelembaban dan air hujan menghancurkan hasil usaha mereka –curah hujan tahun ini memang agak tinggi. Mereka harus mempertahankan hidup, mereka tak bisa berharap banyak dari ternak mereka. Para pedagang dari kota terus-menerus menurunkan harga jual sapi-sapi mereka.

***

Di hotel berbintang di tengah gemerlap kota Makassar, beberapa kelompok orang sibuk membahas berbagai isu. Bapak-bapak berpakaian safari dan para akademisi diundang di sini. Mereka dengan gagahnya berbicara, berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus istilah barat digunakan “biar kedengaran ilmiah” begitu kata mereka. Di belakang mereka terpasang kain hitam dengan huruf-huruf gabus, temanya dapat dibaca di sana. Makanan wah dihidangkan di atas meja mengkilap, penyanyi cantik tak lupa dihadirkan untuk mengiringi lunchtime. Seorang yang bertanda panitia memberi wejangan pada kawannya, “Kalau Bapak itu sudah selesai bicara proposal sudah harus siap, kamu harus bisa mencegat dia. Yang penting dia bisa melihat proposalmu. Karena saya yang membuatnya pasti dia akan tertarik. Dan ingat, senyum.” Sedang di tepi ruang makan seseorang sedang sibuk mengarahkan handycam-nya ke segala arah untuk memastikan semua peserta terekam dalam dokumentasi kegiatan. Setelah itu, wallahu alam.

***

Di kampus-kampus, beribu-ribu lulusan SMU harus rela mengikuti kehendak seniornya. Mereka datang dengan wajah pasrah. Sementara para senior sibuk membicarakan penyambutan, mereka seru berdebat, nada suara mereka meninggi hingga serak, ada yang saling bersahutan, mengancam, menantang, tegang, marah. Berminggu-minggu mereka bekerja keras di kampus untuk itu. Begitu setiap tahun. Mereka adalah orang-orang yang beberapa waktu lalu berteriak dengan garang melawan penindasan atas nama kemerdekaan, hak asasi, keadilan, kemanusiaan dan segala macamnya, dan sebagainya, dan seterusnya.

Setelah itu semuanya seakan terlihat ‘normal’: yang rajin diam-diam mencibir Si malas, Si kumal tak sadar dihina Si rapih, fakultas ini merasa lebih baik dari fakultas anu, dan begitupun sebaliknya. Belum puas, mereka kemudian mencabik-cabik kampus sendiri atas nama solidaritas. Yang mereka tahu tak ada yang dapat menghentikan mereka.

Sementara di koridor kampus sekelompok mahasiswa berjajar rapih, kedua tangan mereka saling berpegangan di depan dada, dekat gambar ayam yang tertempel di jas almamater, mereka berdiri dengan gagah kepala sedikit menengadah, banyak orang lewat namun mereka seakan tak melihat atau terlihat. Dalam suara lantang dan harmoni mereka berkidung lagu mars universitas:

“Ilmu amal padu mengabdi……..”

Advertisements

2 thoughts on “Dari “Catatan Akhir Tahun 2000”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s