Misteri di Punggung Bukit

Jauh dari pusat kabupaten, di punggung sebuah bukit, berbaris lebih seratus lantai semen. Semuanya berbentuk segi empat. Seluruhnya berukuran sama.

Dulu deretan lantai itu adalah gugusan rapih rumah proyek Departemen sosial. Kini, nyaris seluruh atap dan dindingnya telah lenyap. Sekitar enam bulan setelah pembangunan perumahan itu rampung “angin gila” dari barat datang menerjang, menerbangkan seluruh atap. Angin musim yang sudah sangat akrab bagi warga di sana meniupkan nafas lega mereka. Sebagian besar warga memang tak begitu suka dengan gagasan perumahan itu. Di punggung bukit itu tak ada pasokan air teratur, jaraknya pun terlampau jauh dari ladang mereka.

Sapuan angin barat telah memberi alasan kuat bagi mereka untuk pelan-pelan meninggalkan punggung bukit itu, membawa bahan-bahan rumah pembagian mereka, untuk kembali ke permukiman asli yang bertebaran di lembah, tak jauh dari sungai.

Sekitar empat tahun setelah upacara pembukaan resmi perumahan itu, ketika saya berdiri di sudut sisa-sisa perumahan itu, pada tengah tahun 2002, semuanya masih misteri bagi saya. Bagaimana mungkin di punggung bukit, di tengah gugusan bukit tanpa pohon pelindung, di mana air tidak mugkin singgah berlama-lama dan angin barat bisa bertiup kencang tanpa hambatan, sehingga ladang tak mungkin digarap di sekitarnya, dan dengan fasilitas jalan pengerasan yang mudah tersapu aliran parit alami buatan musim hujan, yang semuanya bisa nampak jelas bahkan bagi seorang pendatang baru seperti saya, ada orang berpikir membangun lebih dari seratus rumah. Seluruh syarat perumahan yang layak apalagi nyaman untuk dihuni benar-benar alpa. Sungguh pemandangan yang misterius.

Setelah sebulan di desa itu mengumpulkan tradisi lisan, tak pernah warga menyinggung punggung bukit itu. Karena itu, saya baru tahu keberadaannya setelah diajak ‘jalan-jalan’ oleh seorang pemuda setempat. Hingga waktunya pulang saya hanya sedikit tahu soal ini.

Warga desa ini begitu sibuk dengan pekerjaan ladang, menggembala sapi dan kambing, berburu babi hutan yang merusak ladang kacang dan singkong; mereka sibuk berbincang soal penyakit katarak yang mulai berjangkit—yang menurut mereka karena semakin silau sejak hutan habis oleh perluasan sawah, mengeluh tentang air sungai yang lenyap tiap musim kemarau, sekolah dasar yang belum didatangi kepala sekolahnya setelah sebelas bulan ia dilantik, tentang pencurian sapi, tentang pemilihan umum yang memojokkan kepala desa karena tidak ingin mendesak warga memilih salah satu partai; namun tak ada yang bicara soal lebih dari seratus lebih rumah di punggung bukit. Dia lenyap, mungkin disembunyikan, atau mungkin tak begitu penting bagi sebagian besar warga.

Hingga pulang saya tidak tahu banyak, tapi dari semua yang saya ketahui, sebagian besar adalah keanehan. Perumahan itu dibangun oleh Departemen Sosial. Merekalah yang menunjuk lokasi itu tanpa mendengar saran warga setempat soal jaraknya dari ladang warga, soal ketersediaan air, dan di atas segalanya “angin gila” dari barat yang segera akan melumatnya. Setiap bulan petugas datang membawa ransum beras dan bahan sembako lain, bahkan setelah mereka tidak lagi tinggal di sana. Setiap jadwal kedatangan petugas mereka datang dari rumah ladang masing-masing, berbaris menerima ‘bantuan’, di tengah perumahan yang jelas-jelas terlihat sudah nyaris tak berpenghuni—saat saya di sana melihat masih ada dua rumah di tepi bukit yang berpenghuni. Bahwa proyek itu dibangun dengan bahan kelas sekian karena dana kucur setelah krisis finansial melorotkan nilai rupiah dan melambungkan harga bahan bangunan jauh melebihi proposal kontraktor yang membangunnya.

Bahwa kini—dengan pelan seorang warga berbisik—para pemilik sisa-sisa rumah itu dengan ketat menyimpan surat kepemilikan atas lahan perumahannya, sebab aspal dari kampung sebelah sedang dicurah, dan mereka mendunga harga tanah di perumahan akan membumbung begitu aspal mencapai kompleks tersebut. Kurang lebih hanya itu.

Saya pun tenggelam dalam kesibukan lain yaitu merekam dan mencatat soal isu keseharian, sejarah desa, legenda-legenda, potongan kisah Sawerigading dari epik La Galigo, lagu-lagu, cerita-cerita jenaka, beragam syair dalam upacara-upacara—yang semuanya tentu saja tak menyentuh dongeng tentang proyek tersebut. Namun saya terus menyimpan teka-teki soal bantuan perumahan misterius itu.

Adalah seorang antropolog dari Universitas Hasanuddin yang membuka mata saya bahwa proyek itu adalah pemukiman ulang kelompok penduduk benama ‘Komunitas Adat Terpencil’. Bahwa proyek itu bukan cuma ada di punggung bukit desa Bulo-Bulo, yang berbatasan dengan kabupaten Pangkep dan Soppeng, melainkan adalah proyek nasional yang dibangun di seluruh pulau besar Indonesia. Dan ini yang penting, saya bisa mencari laporan studi kelayakannya di Dinas Sosial Propinsi. Saya segera menuju ke sana, menemui seorang ibu yang dengan senang hati meminta saya ke rumahnya untuk menjemput laporan itu di rumahnya untuk difotokopi. Saya sempat bertanya-tanya, mengapa dinas yang menangani proyek itu tidak punya arsip? Ataukah sulit untuk meminjamkannya ke saya? Saat itu saya hanya berasumsi bahwa kantor itu tidak punya arsip.

Laporan itu begitu menarik perhatian sehingga saya lupa mewawancarai sang ibu perihal arsip kantornya. Saya cuma ingat bahwa dia terlibat dalam penelitian itu saat dia masih kuliah di pascasarjana jurusan Antropologi sebuah universitas di Makassar, di mana dia bersama kawan-kawannya ‘dikerahkan’ oleh seorang guru besar pengampu salah satu mata kuliah untuk melakukan penelitian untuk proyek tersebut. Sebab itulah dia punya arsip hasil penelitian tersebut.

Karena hanya berdasar rasa penasaran sehingga kekuarangan alat metodologis, saya luput mewawancarainya mengenai proses penelitian, kesimpulan dan persepsinya terhadap subyek penelitian, dan bagaimana dia memposisikan diri terhadap penelitian tersebut. Informasi-informasi yang kelak baru saya sadari sangat dibutuhkan untuk penulisan buku kecil ini.

Saat membacanya, saya takjub melihat betapa tidak sesuainya deskripsi laporan itu dengan apa yang saya lihat di lapangan. Memang ada jarak antara penelitian itu dan masa ketika saya mendatangi tempat yang sama—sekitar enam tahun. Namun asumsi-asumsi dalam laporan itu begitu menakjubkan. Mereka digambarkan sebagai peladang berpindah dan petani sawah yang merusak hutan yang menurut mereka di zaman Belanda adalah hutan lebat (tanpa menyebutkan laporan yang memverifikasi asumsi mereka tentang hutan). Mereka digambarkan sebagai penduduk yang terisolasi secara sosial dari dunia luar dan menjalankan ‘adat-istiadat’ mereka, hanya tahu bahasa mereka (‘Dentong’ yang merupakan varian dari bahasa Makassar-Konjo), padahal mereka bisa bahasa Bugis dan Indonesia, sekolah dasar berdiri sejak tahun 1980-an, sebagian penduduknya adalah perantau hingga ke Malaysia, dan seterusnya. Yang jelas, mereka bukan “masyarakat adat terpencil yang hidup terisolasi”. Ada banyak lagi asumsi-asumsi yang ditulis sebagai deskripsi hasil penelitian.

Benar saja. Ketika saya membawa laporan itu ‘pulang’ ke desa, di satu malam beberapa warga berkerumun membacanya dan bergumam tak setuju, lalu salah satu mengatakan, dalam bahasa Bugis, “Ini mengada-ada!”

[dari potongan buku yang tengah ditulis]

Advertisements

2 thoughts on “Misteri di Punggung Bukit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s