Seragam

Indonesia memang punya hubungan istimewa dengan seragam. Dan menurut pengalaman saya, tak ada tempat yang lebih sukses mengajari anak-anak Indonesia tentang seragam lebih baik dari sekolah di masa Orde Baru.

Tak lama setelah bisa berjalan, kami diajari berpawai dengan berbagai macam seragam, dari lomba gerak jalan di ibukota hingga karnaval dalam rangka lomba desa. Ke sekolah kami berseragam, pelesiran juga pakai seragam. Kami diajarkan bahwa bila seragam melekat di tubuh orang bisa menjadi pusat perhatian, bahkan kadang pusat kuasa. Seorang kawan kecil saya boleh meminta permen bila mau mengenakan seragam sekolahnya, padahal giginya sudah nyaris pupus tergerus permen. Sejak kecil kami diajari merasa bangga mengenakannya.

***

Di sebuah desa, di ketinggian sembilan ratusan meter di atas permukaan laut, dua ratusan kilometer dari ibukota dengan ruas jalan berlapis batu cadas dan lumpur, sekitar tiga puluh anak sekolah dasar begitu serius mengikuti teriakan dan sempritan seorang guru. Usianya sangat muda, mungkin baru tamat SMA. Saya takjub melihat dedikasi mereka, sang guru dan muridnya. Mereka begitu bertekad merapihkan barisan, menyeragamkan setiap gerakan dan bunyi yang ditimbulkan oleh gerakan-gerakan itu. Berkali-kali sang guru melepaskan sempritan untuk berteriak kepada anak tertentu yang gagal membuat keseragaman.

Anak-anak itu terlihat gugup dan keringatan, mereka tersengat matahari yang kian meninggi di atas lapangan bola di tengah desa. Mereka dijajar dengan anak tertinggi berada paling depan, terpendek di bagian paling belakang. Anak-anak yang lebih pendek di bagian belakang mesti terus melempar langkah jauh-jauh untuk mempertahankan jarak dengan kawan di depannya. Mereka lah yang paling sering terkena teriakan sang guru.

Namun mereka terus saja berbaris, dan memang semakin rapih. Kelihatannya, mereka, atau mungkin sebagian dari mereka, tetapi tertama sang guru, bertekad untuk mencapai keseragaman sempurnah. Kata sang guru muda, itu mutlak dibutuhkan sebelum bisa membuat “variasi barisan”. Hanya dengan itu mereka bisa memenangkan lomba menyambut hari kemerdekaan.

Gerak jalan bukan hanya lomba keseragaman gerak, suara, dan tujuan (untuk memenangkan lomba). Ia juga adalah pameran pakaian seragam. Gerak jalan, dan sepupunya marching band, mungkin bisa kita lantik sebagai perwujudan keseragaman dalam bentuk paling lengkap, yang dilakukan oleh orang dari berbagai macam kelompok dalam satu peristiwa. Gerak jalan adalah sebuah karnaval keseragaman.

Dalam Karnaval ini, masing-masing tim memang bisa menampilkan ‘variasi gerakan’ atau pakaian seragam yang berbeda, tetapi semuanya masih dalam kerangka keseragaman, sebab yang dinilai adalah keseragaman dalam sebanyak mungkin hal. Semakin seragam-dalam-segala-hal, semakin tinggi nilai sebuah tim—semakin dekat mereka ke podium juara.

Proses pelatihan panjang dan berkesinambungan menuju pameran keseragaman di event lomba gerak jalan, dapat kita bayangkan, menjadi proses internalisasi keseragam yang membuatnya begitu wajar sehingga guru dan murid berdedikasi itu rela menjalankan segala siksaan fisik di bawah terik mentari khatlistiwa.

Begitulah, kira-kira, salah satu cara seragam dipahatkan ke cara berpikir kita.

***

Tapi ini bukan cuma terjadi pada pelatihan fisik cara berpakaian dan bergerak.

Awal tahun 1997, saya masuk ke sebuah kelas, bila tak salah ingat kelas lima, sebuah sekolah dasar di sebuah desa kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Guru mereka tidak datang, dan saya menawarkan diri menggantikannya. Jadwal mengharuskan mereka mengikuti jam pelajaran Bahasa Indonesia. Mengingat tak banyak yang bisa saya lakukan menutupi kurikulum berjalan, saya mengambil jalan pintas: mengajarkan salah satu keterampilan dalam menggunakan bahasa, yang saya asumsikan berlaku untuk pengajaran bahasa di mana pun. Saya mengajak mereka mengarang.

Karena saya tak ingin mereka memulai tulisan dengan seragam “Pada suatu hari”, merujuk pada pengalaman saya dan cerita dari kawan-kawan dari berbagai tempat di Indonesia, saya meminta mereka menceritakan apa yang mereka lakukan pada hari sebelumnya. Mereka pun menulis.

Sekitar lima belas menit berlalu, saya meminta mereka berhenti menulis, tulisan tidak harus selesai. Saya lalu meminta salah satu gadis kecil membacakan hasil karangannya. Dia membaca pelan, “Pada hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka…” Saya kecewa, tetapi dengan berusaha tetap sopan memintanya berhenti membaca. Saya lalu meminta seorang bocah pria membacakan hasil karyanya. “Pada hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka…”

Begitulah seterusnya, setiap anak yang saya minta membacakan syair yang sama. Saya tidak sanggup mendengar ulangan lagu itu, sehingga berhenti meminta setelah empat atau lima anak membacakan karangannya. Rupanya, saya memang berhasil membuat mereka tidak memulai dengan menulis “pada suatu hari..”, tetapi saya gagal membuat mereka menulis pengalaman pribadi yang berbeda-beda. Dengan berbagai alasan, mereka takut tidak seragam!

[tulisan ini adalah potongan dari karya yang lebih panjang]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s