Setelah Dua Dasawarsa Berlalu

Murid-murid berhamburan keluar dari satu atau dua kelas ketika kami menginjakkan kaki ke halaman sekolah. Mereka mendahului, mengelilingi, mengekori, seperti mengiringi penjaja mainan yang baru tiba setelah dinanti sekian lama.

Dari dalam jendela kelas yang cukup tinggi untuk ukuran anak sekolah dasar, tampak potongan wajah-wajah kecil, mencoba menyaksikan keramaian di luar. Tapi itu tak berlangsung lama. Wajah-wajah itu segera lenyap oleh suara parau sang guru yang mungkin sanggup menyeberangi pagar sekolah. Kami sudah mendengar suara itu sebelum memasuki tembok pagar setinggi satu meter, yang dicat putih kapur, yang mengelilingi deretan ruangan berbentuk U. Di tengahnya ada lapangan, dan di tengah lapangan terpacak tiang bendera.

Bangunan toilet yang terselip di salah satu sudut, menjajar beberapa kamar kecil yang bagian bawah dindingnya telah menghitam oleh alam pantai dan pembiaran entah sekian lama. Aroma pesing segera menyergap begitu seseorang mendekat. Tak ada air di bak yang kelihatannya juga sering ‘diairi’ oleh murid sekolah itu. Salah satu klosetnya telah pecah dan amblas, namun mereka cukup perhatian untuk menutupinya dengan beberapa batu sebesar dua kepalan tangan orang dewasa.

Kecuali atapnya yang berbentuk segi tiga, seluruh bangunan sekolah ini berbentuk segi empat. Tipikal SD Inpres.

Melihat kami memasuki salah satu kelas, mereka berseru, bersahut-satutan, mencoba menarik perhatian kami dan kawan mereka sendiri. Ada juga yang berbisik satu sama lain. Rombongan enam orang dan kebanyakan orang asing yang datang ke sebuah sekolah desa, memang bukan pemandagan wajar.

Kelas itu ditata dengan model ceramah, tiga kolom bangku-meja diletakkan lurus berjajar ke belakang, dengan bangku guru dan lemari berada di sudut depan di seberang sisi pintu masuk. Dindingnya dihiasi dengan gambar Presiden dan Wakil Presiden di atas papan tulis hitam. Di antara dua gambar itu, sedikit ke atas, tergantung gambar Burung Garuda. Sisi lain dinding dihiasi dengan tulisan Pancasila, gambar-gambar pahlawan nasional, dan tidak ketinggalan daftar tugas kebersihan murid. Semua kelas ditata seragam, sama dengan sekolah saya dan banyak sekolah lain yang pernah saya datangi. Inilah yang wajar, bahkan wajib, bagi mereka.

“Nama saya Yoko, saya mahasiswa dari Jepang. Saya senang bertemu dengan Anda semua.” Terbata-bata salah seorang anggota rombongan kami berusaha mengutip buku panduan pelesiran yang ia hapalkan sejak seminggu sebelumnya. Satu per satu kemudian menyusul ritual ini. Setelahnya, rombongan kami berpindah ke ruang guru.

Sementara kawan lain mewawancarai guru dan mengamati ruangan mereka, dan sebagian besar anak mengamati mereka sembari saling berkicau tentang tamu asing mereka, saya mengambil kesempatan, menyelinap ke kelas dua.

“Waktu saya masih SD, di desa seperti di sini, saya punya guru yang suka pukul-pukul murid,” demikian saya bercerita kepada mereka setelah perkenalan singkat. “Apakah ada guru yang begitu di sekolah ini?” Saya melanjutkan dengan pertanyaan ini untuk menguji dugaan. Bangunan sekolah kami jelas seragam karena didirikan lewat proyek serupa ketika harga minyak bumi melambung. Tapi mungkinkah perilaku guru juga masih sama, meski di antara kami terbentang jarak tak kurang dari dua dasawarsa?

Mereka terdiam.

Saya jelas merasa bersalah dengan pertanyaan ini, dan berpikir untuk tidak akan mengulanginya. Tapi salah seorang di antara mereka sepertinya kelepasan.

“Adaaa”, serunya. Kawan-kawannya menoleh ke bangku jajaran tengah. Mereka memperlihatkan wajah khawatir. Namun itu sebentar saja, beberapa di antara mereka mulai berebutan melempar komentar. “Itu, ibu nakal” atau, “Dia suka pukul kita,” dan komentar serupa yang tak dapat saya ingat lagi.

“Biasanya dia punya kayu yang disimpan, untuk memukul. Apa di sini kayu seperti itu ada juga?” Saya semakin ingin tahu kesamaan saya dan mereka meski rezim yang mendidik saya dulu sudah tumbang beberapa tahun sebelumnya.

Sebagian dari mereka, semuanya laki-laki, segera menunjuk ke atas lemari yang berdiri di sudut kelas dekat meja guru. Saya melirik ke arah itu dan, sebatang kayu tergeletak di sana, diameter sekitar dua kali lima sentimeter dan panjang sekitar setengah meter.

Beberapa hari kemudian, didorong rasa penasaran yang sama, saya dan seorang kawan mendatangi kantor kepala sekolah. Setelah berbincang-bincang menurut yang saya bayangkan sebagai kelaziman, saya akhirnya bisa bertanya, “Jika ibu punya wewenang lebih, apa yang pertamakali akan ibu lakukan untuk sekolah ibu?” Sang pengampu sekolah tampak berpikir keras. Ia terdiam, mungkin selama satu menit, sebelum menyerah dan menjawab, “Ya, terserah dari yang di atas.”

Kepala sekolah saya barangkali akan menjawab sama untuk pertanyaan serupa dua dasawarsa lalu. Tetapi di tahun 2002, ketika saya bertanya kepada kepala sekolah itu, saya mengharapkan jawaban lain.

Advertisements

One thought on “Setelah Dua Dasawarsa Berlalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s