Dimana Belajar Berteknologi?

Tahun 2005 silam sebuah stasiun radio di Makassar membacakan laporan yang sungguh mengejutkan: ada sekitar lebih empat ribu motor diimpor masuk ke kota ini setiap hari! Itu belum ditambahkan dengan mobil.

Saya langsung membayangkan, lalu kita akan gunakan mesin berjalan itu untuk saling meracuni: sadar atau tidak kita menyemburkan timbal (dari bensin) dan belerang (dari solar) ke mana-mana dan semua orang kena imbasnya.

Kita pun akan melabrak rambu lalu lintas dan sampai hati menghantam mahluk hidup ketimbang mengalah. Seorang pengemudi misalnya, akan marah jika ada manusia menghalangi laju mesinnya. Semua ini sudah jadi pemandangan klise, membosankan, lalu dianggap ‘normal’, sehingga tak banyak usaha edukatif-preventif dilakukan demi mengurangi, apalagi melenyapkannya.

Konvensi budaya yang menjadi pendukung teknologi kendaraan belum banyak pahami. Sebagai peradaban impor, kendaraan bermesin memang awalnya merupakan sesuatu yang a historis di jagad pemikiran kita. Namun sayangnya, pemahaman kita tentangnya nyaris tak beranjak kecuali pada bagaimana cara menggunakannya.

Mobil, misalnya, mengalami sebuah evolusi dari kereta yang kemudian menjelma mahluk super canggih selama lebih dari seabad terakhir. Secara perlahan alat angkut ini berganti tenaga pendorong, dari hewan, uap, hingga kini menggunakan minyak fosil. Tak heran, di tempat di mana dia berkembang, di dunia barat, mobil oleh sebagian besar orang dianggap sebagai alat transportasi, sebuah mesin yang fungsinya melayani kebutuhan ‘mobile’ manusia.

Bukan kejutan jika di salah satu negara itu, saya pernah menyaksikan, ketika seorang pejalan kaki hendak menyeberang di tempat di mana tak ada rambu terpacak, pengemudi kendaraan akan berhenti memberi penghormatan pada manusia yang akan lewat. Semua itu terjadi karena secara konvensi kultural mereka telah paham apa yang mesti dan tidak boleh dilakukan jika berurusan dengan mesin.

Lalu bagaimana dengan kita di sini, di tempat di mana mobil datang sebagian besar dibawa oleh kaum penjajah, kalangan elit dan para hartawan?

Mesin pengangkut ini dianggap sebagai penanda status sosial, dia lebih dikenal sebagai pengganti mustika. Dia dipuja, bahkan melebihi harga manusia. Pandangan ini lalu diadopsi pula oleh kalangan menengah dan bawah. Meski mereka tak memiliki, mereka bermimpi untuk memilikinya.

Maka terciptalah kesepakatan umum, sadar atau tidak: mobil lebih mewah dari manusia. Beragam masalah yang mengikutinya pun tak terhindarkan. Polusi di mana-mana, penistaan terhadap manusia, hingga sampai pada titik di mana seorang satpam hanya memberi hormat pada mobil, bukan orang yang mengendarainya, sebab dia tak mengangkat tangan kanan ke dahi saat orang yang sama lewat mengendarai motor.

Akan banyak cerita sejenis jika kita melacaknya, sebab kita benar-benar telah dijajah teknologi.

Lantas di manakah kita bisa belajar tentang teknologi alien ini? Jawabnya, sayang sekali, tak ada. Tidak ada tempat di mana kita bisa belajar tentang etika berteknologi. Yang kita pelajari hanyalah bagaimana menggunakannya, itupun secara serampangan, sekenanya. Seorang kawan membayar ratusan ribu untuk ikut kursus mengemudi di sebuah lembaga kursus mengemudi di kota ini. Di sana dia diajari untuk merebut setiap peluang, sekecil apapun, agar tidak didahului kendaraan lain.

Kita pun tak di ajari tentang efek negatif dari mesin-mesin ini. Kita tak pernah diajari bahwa sampai kondisi tertentu, mesin sudah tidak lagi layak pakai dan hanya akan mengotori pemandangan dan paru-paru orang sekota.

Kita tak diberitahu bahwa timbal yang terkandung dalam bahan bakar bensin, hingga kadar tertentu, berpotensi membuat anak-anak sekota perlahan-lahan akan menjadi idiot, lebih kerdil, sakit-sakitan, dan autis; orang dewasa menjadi mandul dan mudah keguguran, dan bahkan menurut sebuah penelitian di Pittsburg bisa membuat kaum remaja menjadi semakin brutal. Harian Tribun Timur, mengabari kita tentang ini pada 23/11/2005. Tapi berapa banyakkah yang membaca artikel kecil ini, yang bukan berita politik ataupun selebriti?

Informasi yang kita terima datang hanya secara sporadis. Dari brosur-brosur atau di kantor polisi, jika ada. Bila orang sempat melihat lembar-lembar informasi itu, ada berapa yang mengambil kesempatan untuk membacanya dan mengingat-ingatnya?

Di Taman Kanak-Kanak yang dikelola oleh lembaga kepolisian, ada pengajaran tentang rambu lalu lintas, tetapi itu tidak akan bertahan di ingatan anak-anak ketika kelak dia beranjak besar dan menjadi pengemudi. Mereka pun akan dipaksa tumbuh menurut aturan rimba lalu lintas Makassar.

Kurangnya media yang mengangkat permasalahan ini membuat isu ini seperti asap kendaraan, terlihat namun segera hilang. Ketika Tribun Timur menurunkan laporan pada November 2005 tentang Makassar yang menjadi kota paling terpolusi ke dua di Indonesia (23/11/2005), berita itu berlalu tanpa tanggapan sedikit pun.

Mungkinkah perhatian ini tak muncul sebab kerja merusaknya berlangsung diam-diam dan efeknya baru terasa dalam jangka waktu lama?

Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah bencana diam-diam ini? Bagaimana berhadapan dengan produsen yang kerjanya hanya membujuk konsumen untuk membeli? Kita bisa melakukan pembudayaan. Pengenalan terhadap teknologi bukan hanya pada bagaimana cara membuat dan menggunakannya, tetapi juga sejarahnya—yang membentuk etika penggunaannya, serta efek-efek buruk yang ditimbulkannya.

Upaya ini, bila perlu, dilakukan sejak dini. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan memperkenalkan rambu-rambu lalu lintas dan bagaimana seharusnya kita meresponnya.

Bila dianggap bahwa usaha sosialisasi ini akan memberatkan pihak sekolah sebab mata pelajaran dan kurikulum mereka telah begitu tambun oleh banyak kepentingan, kita bisa mengintegrasikan pelajaran ini ke mata pelajaran yang telah ada.

Dengan begitu, kita tidak hanya mengadopsi ‘barang’ tetapi juga ‘nilai’ atau ‘gagasan’ yang bersemayam di dalam tubuh barang itu.

***

Kini di negara-negara yang melihat langsung evolusi alat transportasi, mereka malah cenderung ingin kembali ke alam, menghindari penggunaan mesin sebisa mungkin. Di Belanda misalnya, sepeda begitu populer digunakan mahasiswa dan pelajar. Rektor di tempat saya pernah belajar di negeri itu, berikut seluruh professornya, sehari-hari bolak-balik kampus menggunakan sepeda. Di negara lain ada kawasan-kawasan yang ditetapkan tidak boleh dilalui oleh kendaraan bermesin, dan masih banyak contoh lain.

Di samping itu mereka tidak berhenti mendidik generasi muda mereka tentang etika berkendaraan, memperkenalkan makna rambu-rambu lalu lintas pada bocah-bocah mereka, membeberkan efek samping dari peradaban mesin yang mereka kembangkan. Pendeknya, mereka tidak membiarkan teknologi menjadi sosok legendaris, tidak dikenali dan keramat.

Mereka tahu bahwa jika bentuk budaya bendawi ini tidak terus-menerus dijelaskan maknanya, dia akan menjelma menjadi sebuah benda pusaka, semakin tidak dipahami akan semakin disembah.

Di media-media umum pun mereka terus memproduksi informasi tentang temuan-temuan baru yang bisa menjadikan teknologi lebih manusiawi, lebih ramah terhadap alam dan manusia. National Geographic, majalah tua yang sangat populer di seluruh dunia misalnya baru-baru ini mengangkat tema bahan bakar alternatif dari bahan nabati sebagai pengganti bahan bakar fosil (Edisi Agustus 2005).

Bahkan jauh-jauh hari, tahun 1912, Rudolf Christian Karl Diesel telah mengatakan, “Pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar seperti belum berarti untuk saat ini, tetapi akan menjadi penting suatu saat nanti, sebagaimana minyak bumi dan produk tir-batubara saat sekarang.” Untuk menyambut masa depan BBM fosil yang segera habis dan menggantikannya dengan BBM nabati yang lebih sehat, hemat dan ramah lingkungan, Jerman kini telah menanam Pohon Jarak di tepi Gurun Sahara, di sepanjang 1500 kilometer perbatasan Mali. Demikian tulis Effendi Syarief, seorang ahli perancang mesin pengguna BBM Nabati, dalam bukunya, Melawan Ketergantungan Pada Minyak Bumi, yang terbit tahun 2004 silam.

Jadi, karena kita telah mengadopsi penggunaan teknologinya, apa boleh buat, suka tidak suka, kita mesti melakukan sosialisasi besar-besaran secara sistematis mengenai seluruh hal tentangnya, termasuk dampak buruknya. Bukan hanya di koran, tetapi di sekolah-sekolah dan di tempat kerja, serta ranah publik lainnya. Agar generasi pelanjut kita kelak dapat menghirup udara yang lebih sehat dan lebih menghargai manusia ketimbang mesin [*]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s