Dugaan-Dugaan dari Masa Lalu

Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, saya terkenang beberapa kawan di masa silam.

Bertahun-tahun lalu, ketika di atas aspal orang-orang berderap membawa spanduk sembari membakar ban, kawan-kawan itu mekar sebagai pejuang tangguh dengan daya pikir memukau.

Di masa itu semua menjadi mungkin. Raksasa lalim nan perkasa menghadapi kenyataan kekuasaannya rontok di segala penjuru angin. Semua yang telah ia lemahkan telah menghimpun diri, lalu memanjati gedung yang ia kuasai tiga puluh kalender lebih. Dan memaksanya turun tahta. Sebuah ketakmungkinan telah terjadi.

Semua menjadi mungkin. Itulah semangat zamannya.

Saat itu, saya membayangkan mereka, kawan-kawan itu, akan berkembang menjadi raksasa pembawa obor raksasa, mereka bisa membakar ban mahabesar menerangi banyak bagian gelap negeri ini.

Tetapi angan-angan itu perlahan pudar. Bukan oleh kenyataan yang mereka tampakkan, tetapi lebih oleh kealpaan saya melihat apa yang kini tengah mereka kejar.

Kini pertanyaan-pertanyaan serupa membangunkan saya dari kealpaan sekian lama, membawa saya mengunjungi kembali rak-rak yang telah lama saya tinggalkan. Pertanyaan-pertanyaan masa kini itu mirip betul dengan yang sering saya dengar dan catat di masa silam—sebelum tersimpan lalu terabaikan.

Pertanyaan-pertanyaan itu berkisar tentang kepenulisan. Kira-kira bisa dihimpun menjadi satu pertanyaan: “Mengapa kawan-kawan dari kota kami kerap mengalami hambatan dalam menulis, menghasilkan karya yang diterima penerbit dan dibaca luas?”

Harap dicatat, di masa itu blog dan semacamnya belum ada.

Waktu itu, saya membangun beberapa dugaan. Di sini saya hanya akan menyebutkan dua di antaranya.

Pertama, mungkinkah mereka menunggu sampai diri mereka benar-benar siap sebelum berkarya, dan boleh jadi mengabaikan proses menuju kesiapan diri seorang penulis?

Karya-karya itu, ilmu pengetahuan dan informasi yang kami kunyah sebagian besar berasal dari luar kota, bahkan lain pulau atau negara, dari ‘pusat-pusat’ pengetahuan—setidaknya menurut anggapan sebagian orang. Ada jarak fisik yang memisahkan. Saya bayangkan, kami tak melihat seorang penulis membaca, berlatih, berdiskusi, merenung, dan seterusnya. Kami tak melihat secara langsung ia menempa diri, dan apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penulis.  Kami tak menyaksikan bagaimana bukunya ditempa hingga siap dikapalkan ke toko-toko buku di kota kami.

Jarak temporal juga memisahkan. Buku-buku yang direkomendasikan untuk kami baca biasanya adalah karya penulis terkenal. Karya ‘jadi’ dari penulis yang sudah ‘jadi’.

Ketika seorang penulis masih menulis dengan gaya dan isi pas-pasan, belum ada orang menyarankan kami membacanya, atau bahkan sang penulis belum mau menerbitkan karyanya. Keberadaannya sebagai seorang penulis, yang dipastikan oleh pembacanya yang kian meluas, butuh waktu. Rentang masa dari seorang penulis pemula hingga ‘dibaca orang’, menjadi misteri bagi kami.

Dugaan lain, apakah pertanyaan-pertanyaan itu merupakan buah dari inferiority complex, yang menggap orang dari pusat-pusat selalu mengatakan hal paling benar dari sesuatu yang juga dibicarakan orang dari pinggiran?

Di masa itu, mungkin hingga sekarang—saya tak tahu, sering saya mendapati orang di kota kami begitu terpukau oleh seseorang, yang terkenal, ketimbang sebuah tulisan. Lebih memuja ketokohan, ketimbang sang ‘tokoh’, apalagi karya, apalagi karya tulisan non-tokoh. Butuh limpahan pengakuan dari ibukota baru seorang penulis dibicarakan di kota kami. Orang-orang akan mendiskusikan bukunya, namanya disebut-sebut, penggalan kalimatnya dikutip, kadang secara serampangan, dan tak jarang tanpa harus membaca satu pun karyanya!

Padahal, sama dengan berkembangnya sebuah buku, begitu juga orang yang menulisnya. Waktu si fulan masih luntang-lantung menempa diri, bertualang di sana-sini dengan pengetahuan seadanya tidak ada yang menyebut-nyebutnya. Tapi ketika ia sudah dipuji di ibukota, orang kota kami pun ikut memujinya. Bahkan, kerap, bentuk pujiannya pun adalah jiplakan. Karena itu, yang mereka puji adalah ketokohan itu sendiri, bukan sang tokoh atau karyanya.

Gelagat semacam itu membentuk sebuah kecenderungan bahwa meraih ketokohan adalah tujuan antara, sebuah persinggahan, sebelum orang bisa melanjutkan perjalanan menjadi penulis. Sayangnya, menjadi seorang tokoh rasanya sangat jauh. Setidaknya, bagi mahasiswa bukan siapa-siapa dari kampus di pinggiran. Perjalanan ke pusat untuk menjadi pusat perhatian, dari pinggiran, membentangkan jarak, jarak ketenaran, yang bisa jadi telah menghentikan calon-calon penulis besar yang, sungguh sayang, tak pernah melanjutkan perjalanan.

Jarak fisik dan waktu telah mencipta ilusi tentang jarak ketenaran—dan menggugurkan banyak calon penulis. Begitulah terkaan saya waktu itu.

Saya belum tahu nasib dugaan-dugaan itu, saya tak sempat mengujinya sebelum melupakannya sekian lama. Tapi pertanyaan-pertanyaan serupa yang muncul lagi di masa kini, setidaknya menyadarkan saya bahwa waktu telah cukup membentangkan jarak antar-generasi, meski keduanya punya pertanyaan serupa.

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya penasaran. Mungkin sudah waktunya bertanya:

Apakah generasi terdahulu, yang mungkin masih membawa semangat zamannya, telah berhasil menjawab pertanyaan itu dan berusaha menjadi suluh di negeri yang tampaknya kian gelap ini?

Advertisements

11 thoughts on “Dugaan-Dugaan dari Masa Lalu

  1. jika tidak keberatan, kami mengajukan penawaran kepada Nurhady Sirimorok terkait tulisan ini. yakni pengajuan pemuatan ulang di majalah sastra lentera yang kami kelola di pangkep

  2. Kami sangat senang mendengarnya, trimah kasih atas kesepakatan saudara Nurhady Sirimorok, Dalam pembacaan kami selama ini terhadap tulisan di blog ini, ada tiga judul yang kami lirik untuk di muat di majalah sastra lentera. Pertama, Tulisan yang berjudul SERAGAM, Kedua, yang berjudul BILA PRAM MENULIS KORUPSI, dan ke tiga, yang ini (DUGAAN-DUGAAN MASA LALU). Selanjutnya jika tdk keberatan, kami tunggu kiriman via email ke: redaksi.lenterapress@yahoo.com/ sertakan foto/bio data/ dan nomor rekening. Hal ini di maksudkan agar redaksi Majalah Sastra Lentera mengetahui hal ini. Terimah Kasih

  3. Kuru sumange ,Dandi!
    Senang membaca tulisanmu lagi. Kangen pada buku2mu, reportasemu ttg gerak kontinyu di pelosok, rindu dengan ungkapan2 kritismu di panyingkul, di milis dan web.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s