Nasib Birokrasi di Cerpen Indonesia

Anton Chekov kerap menuliskan dengan lumayan rinci dunia birokrasi dan para birokrat di masanya. Ia menampilkan banyak birokrat sebagai karakter utama, dan plot-plot pun terbentuk di seputar laku mereka di jagad birokrasi. Semua itu nyaris tak tersentuh sepuluh buku cerpen Indonesia terbitan 2009 yang saya baca.

Dari terjemahan bunga rampai cerpen Chekov “Pengakuan”, misalnya, kita berjumpa Grigorii Kuzmich yang terkurung ironi, mendapati seluruh orang dekatnya segera memperlakukannya begitu manis sembari meminta kebaikan hatinya begitu ia diangkat menjadi kasir, namun sekaligus mengancam akan membuangnya bila ia melakukan korupsi. Atau Fyodor Petrovich, seorang direktur departemen, yang kelimpungan menerima katabelece demi meloloskan seorang pemuda manja untuk menjadi pengantar surat di kantornya—dan melabrak janjinya kepada seorang guru yang sudah mengabdi belasan tahun namun terpaksa ia pensiunkan dini karena kerusakan pita suara.

Di buku ini Chekov terbentang kemungkinan-kemungkinan saling pengaruh antara watak lembaga birokrasi dan tabiat para aparatnya—di tengah konteks lebih luas.

Dengan jumlah Pegawai Negeri Sipil Indonesia  empat setengah juta lebih dan total gaji seratus delapan puluh trilyun, per desember 2010; agak membingungkan bila fenomena raksasa ini terabaikan oleh dunia cerpen kita. Saban hari-kerja, amat mudah menemukan tumpukan orang mengurus surat kelahiran, keterangan mati, keterangan miskin, masuk sekolah, bayar pajak, bikin paspor. Kuping penduduk negeri juga sudah kenyang mendengar keluhan tentang birokrasi dan para birokrat, dari yang lazim seperti KKN hingga yang baru seperti moratorium perekrutan  PNS atau bangkrutnya beberapa kabupaten sehingga tak sanggup membayar gaji pegawai negerinya. Pendeknya, bila ada masalah dengan sistem birokrasi dan aparatnya, maka sebagian besar orang Indonesia langsung merasakan efeknya.

***

Membaca 10 buku kumpulan cerpen, termasuk jurnal, kebanyakan terbit tahun 2009, saya mendapat gambaran, yang ringkasnya kira-kira begini.

Cerpen Indonesia banyak berkisah tentang politisi, seperti “Wakil Rakyat” karya Vivi Diani Savitri yang berkisah tentang bagaimana kebijakan diambil oleh seorang politisi—karena desakan isteri.  Kisah-kisah seperti ini, secara langsung maupun tidak, memang menuntun kita melihat bagaimana kebijakan dibuat atau tidak dibuat.

Namun para ahli Kajian Pembangunan di Indonesia menilai ada banyak keterputusan dan pembelokan terjadi di ‘wilayah’ yang dikuasai birokrasi—yang kerap tak terjangkau para politisi. Mereka bisa menyihir risalah kertas kebijakan yang diteken para politisi menjadi lain samasekali ketika tiba di lapangan, atau bahkan lupa singgah sama sekali. Bahkan sebuah berita yang dilansir baru-baru ini menyatakan hanya sekitar setengah dari instruksi presiden yang akhirnya dijalankan para pembantunya.

Cerpen Farizal Sikumbang “Guru Safendi” memang berkisah tentang seorang guru, namun ia lebih berkisah tentang kemiskinan yang dialami seorang guru honorer. Memang sedikit menyinggung tumpang tindihnya kurikulum di sekolahnya akibat kebijakan para petinggi, namun keadaan itu tidak banyak berpengaruh pada alur kisah utamanya.

Sementara itu, buku kumpulan cerpen Martin Aleida “Mati baik-baik, Kawan”. Lebih banyak berkisah tentang para korban peristiwa 1966, baik tepat maupun jauh setelahnya. Dengan sendirinya, kerja birokrat yang dikisahkan dalam buku ini, seperti laku Pak Carik dalam “Malam Kelabu”, lebih mengarah kepada peristiwa atau tema spesifik tersebut. Tugas serupa juga diemban oleh cerpen penulis lebih muda, seperti cerpen Puthut EA “Bebek Mati di Tepi Kali”. Cerpen-cerpen ini merespon kebijakan politik nasional tertentu di masa Orde Baru berikut dampak sosialnya pada warga dan birokrat. Tetapi hanya kebijakan tertentu, bukan yang lain.

Tumpukan cerpen Indonesia juga banyak menampilkan efek atau dampak kebijakan, baik yang dilaksanakan maupun yang tidak, terhadap rakyat (kelas bawah). Tetapi sangat sedikit tentang bagaimana birokrasi bekerja, bagaimana para pengelola dan pelaksana kebijakan itu sendiri, para birokrat yang sedang bekerja di kantornya maupun di lapangan—di Indonesia. “Karyawan Tua” karya Bamby Cahyadi bisa disebut sebagai kisah menawan tentang seorang karyawan, Tetapi latarnya bukan di Indonesia, melainkan San Fransisco.

Sehingga, di banyak bagian, buku-buku cerpen Indonesia yang saya baca, mengabaikan ‘kompleks birokrasi’: bagaimana para birokrat bekerja (di kantor maupun di luar); bagaimana kebijakan diejawantahkan (setelah disahkan para politisi dan sebelum sampai ke rakyat); dan apa dampaknya terhadap birokrat sendiri (bukan semata terhadap penerima manfaat resmi).

** *

EKA Kurniawan, mungkin bisa kita sebut sebagai salah satu pengecualian. Dalam “La Cage aux Folles” ia menjadikan salah satu aspek khas para diplomat Indonesia di Amerika, seksualitas, sebagai latar untuk mengajukan sebuah tesis tentang homoseksualitas.

Ia juga kemudian menulis satu cerpen, yang terbit tahun ini, “Tak Ada yang Gila di Kota Ini”, yang mengisahkan ‘permainan’ pegawai rendahan di sebuah kota kecil tempat pelesiran di selatan Jawa. Cerpen ini berhasil mengilustrasikan bagaimana birokrasi mungkin bekerja pada kondisi spesifik, bukan sekadar tentang kebijakan di tingkat atas, juga bukan hanya mengenai efeknya terhadap masyarakat bawah. Ia mengisi ‘ruang tengah’ yang masih sering kosong.

Ia langsung mengingatkan saya, barangkali juga Anda, pada cerita-cerita Chekov, plus Steinbeck. []

 

Advertisements

2 thoughts on “Nasib Birokrasi di Cerpen Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s