Marie Louise Pratt tentang Catatan Perjalanan (1)

Image

MARIE LOUISE PRATT mengampu kelas ‘Travel Writing and European Expansion’ di universitas Stanford Amerika Serikat tahun 1978 hingga 1981. Kelak dari disuksi dan seminar di kelas itu muncul benih sebuah buku berpengaruh dalam kajian teks dan pasca-kolonial. Terbit dua dekade lalu, 1992, buku itu melewati masa penelitian primer pada 1982-1983, dan penulisan pada tahun 1987-1988. Untuk menulisnya, Marie Pratt membaca secara ketat berderet catatan perjalanan dan eksplorasi orang Eropa yang berkelana di tanah-tanah jajahan, atau yang akan dan telah dijajah, di benua Afrika dan Amerika, dalam berbagai bahasa. Ia menunjukkan bagaimana telaah tekstual, beserta alat-alat analitiknya, berguna untuk membaca sejarah dunia dengan cara baru—sejarah dominasi pemaknaan.

Proses empatbelas tahun itu terbayar oleh sebuah buku yang menakjubkan: Imperial Eyes, Travel Writing and Transculturation.

SUBYEK UTAMA Imperial Eyes adalah catatan perjalanan dan eksplorasi orang-orang Eropa, yang dianalisis dalam hubungannya dengan ekspansi ekonomi dan politik Eropa sejak sekitar 1750. Teks-teks ini, menurut Marie Pratt, adalah bagian dari sejarah sastra Eropa yang sangat berpengaruh membentuk cara berpikir orang Eropa mengenai non-Eropa.

Dengan cara apa itu bisa terjadi? Inilah yang menjadi tema utama Imperial Eyes: bagaimana catatan-catatan perjalanan yang ditulis orang Eropa mengenai non-Eropa menciptakan sebuah “subyek domestik” bangsa Eropa, baik di masa lalu maupun sekarang (ketika Imperial Eyes ditulis); dan bagaimana teks-teks itu melibatkan publik pembaca metropolitan di Eropa, dengan (atau tanpa) ekspedisi ekspansionis, yang keuntungannya diraup oleh segelintir pihak.

Untuk itu Marie Pratt menelaah tulisan-tulisan orang Eropa abad ke 18 mengenai Afrika bagian selatan dalam konteks ‘ekspansi ke pedalaman’ dan bangkitnya bidang ilmu ‘sejarah alam’ (natural history). Ia juga mengurai tentang munculnya catatan perjalanan bertabiat sentimental melalui bahan-bahan dari Karibia dan eksplorasi awal Inggris di Afrika barat (1780-1840); menelusuri penciptaan ulang wacana (reinvensi diskursif) mengenai Amerika Selatan selama periode gerakan kemerdekaan bagian Amerika yang dikuasai kerajaan Spanyol (1800-1840); hingga mejejaki keberlanjutan dan mutasi imajinasi tentang ‘emporium’, baik di kepala bangsa Inggris di Afrika tengah (1860-1900) hingga para pengelana pasca-kolonial pada tahun 1960an dan 1980an. (hal. 4)

CARA MARIE PRATT membaca catatan-catatan ini berbeda dengan banyak kajian lain terhadap bahan serupa, yang biasanya bersifat “merayakan”: merangkum petualangan para eksentrik pemberani atau ilmuan berdedikasi; atau bertujuan “dokumenter”: memperlakukannya sebagai sumber informasi  mengenai tempat, masyarakat dan masa yang mereka catat; atau kecenderungan lebih baru dari para ilmuan ahli “estetika” atau “sastra”, yang  menilai catatan-catatan tersebut, yang biasanya ditulis para figur sastrawan, sebagai subyek telaah artistik dan intelektual dengan merujuk pada dilema eksistensial ala Eropa.

Ia tidak melakukan semua itu. Ia mengarahkan perhatian kepada ‘konvensi representasi’, atau cara orang Eropa menampilkan non-Eropa yang kemudian memadat jadi aturan tak tertulis, menjadi tradisi. Ia mengidentifikasi beragam elemen di dalam teks-teks itu, menimbang beragam cara pembacaan, dan menganalisis retorika yang beroperasi di dalam teks-teks tersebut (hal. 10). Sebab, menurutnya, tujuan akhir bukunya adalah menjadi sebuah kajian genre dan kritik ideologi.

Karena ia ingin agar hasil analisisnya dialektis (menunjukkan ada saling respon ketimbang dominasi mutlak) dan historis (saling respon itu terjadi dalam konteks politik dan ekonomi di masa dan tempat tertentu); dalam membaca catatan-catatan perjalanan itu Marie Pratt mengadopsi beberapa istilah dan konsep.

Pertama, “zona kontak” (contact zone), atau ruang perjumpaan kolonial, ruang di mana bangsa yang terpisah secara geografis dan historis menjalin kontak dan menciptakan relasi yang terus berlanjut, yang biasanya melibatkan kondisi yang penuh kekerasan, ketimpangan radikal, dan konflik yang tak berkesudahan. Istilah ini mewakili upaya Marie Pratt mengangkat ‘kehadiran secara bersamaan’ (pihak pencatat dan yang dicatat), di ruang dan waktu yang sama, di mana berbagai pihak yang sebelumnya terpisah secara geografis dan historis, sejak itu berjumpa di simpangan yang sama. Gunanya, untuk menunjukkan dimensi interaktif dan improvisasional perjumpaan tersebut di momen kolonial; menekankan pada bagaimana berbagai pihak dibentuk di dalam dan oleh relasi mereka. Ia memperlakukan relasi antara kaum kolonial dan terkolonisasi, atau para pengelana dan tuan rumah, sebagai pihak yang ‘hadir secara bersamaan’, berinteraksi, saling terkait, kerap dalam relasi kuasa yang timpang. (hal. 6-7)

Kedua, “anti-penaklukan” (anti-conquest) atau strategi representasi yang digunakan kaum borjuis Eropa demi menunjukkan ketakbersalahan mereka sembari menegaskan hegemoni bangsa-bangsa Eropa. Ini menunjukkan bahwa dalam catatan perjalanan dan eksplorasi ‘strategi tidak-bersalah’ ini dibentuk dengan merujuk pada bentuk ‘retorika penaklukan’ yang lebih tua, yang berhubungan dengan era absolutis. Protagonis utama anti-penaklukan ini adalah mereka yang dengan “mata imperial secara pasif mengidarkan tatapan [ke lanskap jajahan] dan memiliki.” (hal. 7)

Ketiga, “auto-etnografi”, yaitu teks-teks dimana pihak terjajah berusaha merepresentasikan atau menampilkan diri sendiri, dengan beragam cara, yang melibatkan piranti-piranti bahasa kaum penjajah. Teks semacam ini merupakan respon terhadap, atau dialog dengan, representasi buatan metropolitan (ibukota bangsa-bangsa penakluk), melibatkan kolaborasi parsial dengan dan pengadopsian idiom-idiom kaum penakluk. Idiom-idiom yang disadur dan ditransformasikan ini berasal dari catatan-catatan perjalanan dan eksplorasi, dicampuradukkan atau diinfiltrasi hingga beragam taraf dengan piranti bahasa lokal. Biasanya teks-teks ini bilingual dan bersifat dialogis, penerimaannya di kalangan pembaca pun beragam, umumnya ditujukan kepada pembaca metropolitan (kampung para penakluk) dan kaum terpelajar kelompok yang membuatnya (bangsa terjajah), dan memang dimaksudkan untuk diterima secara berbeda oleh kedua pihak tersebut. Marie Pratt percaya, ekspresi autoetnografik merupakan fenomena jamak di zona kontak, dan akan menjadi penting dalam mengungkap sejarah penaklukan dan perlawanan dilihat dari tempat kejadiannya.  (hal. 7-8)

Singkatnya, zona kontak menjadi gelanggang tempat autoetnografi tercipta dalam merespon dan berdialog dengan teks-teks warga metropolitan yang kerap berbau anti-penaklukan.

PERTENGAHAN ABAD KE 18 menjadi titik berangkat kajian buku ini, masa ketika Eropa Utara mengalami dua proses penting yang saling berkaitan: mencuatnya ‘sejarah alam’ sebagai struktur pengetahuan terpisah, dan momentum ketika kolonialisasi mulai melakukan eksplorasi ke pedalaman setelah hanya hilir mudik di wilayah pesisir. Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan berbagai proses penting lain yang terjadi di Eropa seperti konsolidasi bentuk-bentuk subyektifitas dan kekuasaan kaum borjuis, bermulanya fase baru kapitalisme yang didorong oleh pencarian bahan baku, upaya meluaskan perdagangan dari pesisir ke pedalaman, dan kecenderungan bangsa-bangsa Eropa untuk meluaskan teritori jajahan demi mencegah agar tidak didahuli kekuatan-kekuatan rival Eropa lain. (hal. 8)

Konteks geografis dari kajian ini, Amerika Selatan dan Afrika, sangat ditentukan oleh sejarah pada masa tersebut. “Pembukaan” Afrika dimulai pada 1780an, dengan pendirian African Association (lembaga yang berdiri di London 1788 untuk mendanai ekspedisi penelitian ke pedalaman Afrika). Di saat bersamaan gerakan kemerdekaan di benua Amerika yang dikuasi Spanyol sedang terbangun, yang juga membuka Amerika Selatan kepada kekuatan ekspansionis lain (sebagian pengusung gerakan tersebut meminta bantuan Inggris). Di tahun 1806, Inggris menginvasi Rio de la Plata dan Tanjung Harapan, menggunakan komandan-komandan armada yang sama.  Sementara pada dekade 1960an dan 1970an, gerakan kemerdekaan di benua Amerika dan Afrika berbagi cita-cita, praktik, kepemimpinan intelektual yang serupa. Dan menjadi subyek wacana metropolitan sebagai ‘dunia ke tiga’.

Latar historis seperti ini dibentangkan Marie Pratt untuk menjawab teka-teki yang ditinggalkan teks-teks tersebut, demi menunjukkan bagaimana watak sebuah genre teks terbentuk, dengan dukungan cara berpikir tertentu, sebelum kemudian mendominasi.

RICHARD PIETSCHMANN, seorang ahli Peru, mempresentasikan pertamakali artikelnya di London pada tahun 1912. Kajian itu menganalisis surat dari seseorang bernama samaran Felipe Guaman Poma de Ayala, bertitimangsa Cuazco 1613, ditulis dalam bahasa campur-aduk Quechua dan Spanyol. Judulnya, “Kronik Baru, Pemerintahan Bijak dan Keadilan”. Pietschmann menemukan surat itu di perpustakaan Kerajaan Denmark di Kopenhagen pada tahun 1908. Panjangnya 1.200 halaman; 800 halaman teks tertulis, 400 halaman gambar berikut keterangannya masing-masing. Tak ada yang tahu siapa penulis sebenarnya, bagaimana surat itu sampai ke perpusatakaan di Kopenhagen, dan berapa lama sudah ada di sana. Sebelum Pietschmann tidak diketahui apa ada yang pernah membacanya, atau tahu bagaimana cara membacanya. Bahkan Quechua belum diketahui sebagai bahasa tertulis hingga Pietschmann memulainya. Bahkan budaya Andean di Peru sebagai budaya tulis belum dikenal.

Surat itu dimulai dengan menulis ulang sejarah kristiani dengan mengikutsertakan masyarakat asli benua Amerika sebagai aktor di dalamnya, lalu menjelaskan secara rinci sejarah dan cara hidup bangsa Andean, kemudian catatan tentang penaklukan spanyol dari sudut pandang berbeda, diikuti ratusan halaman dokumentasi dan penghujatan terhadap eksploitasi dan kekerasan bangsa Spanyol. Surat itu diakhiri wawancara imajiner, sebuah ejekan di mana penulis mengingatkan raja bahwa ia turut bertanggungjawab, dan menawarkan bentuk baru pemerintahan melalui kolaborasi elit bangsa Andean dan Spanyol. Surat ini ditujukan kepada Raja Spanyol, Philip III.

Baru di akhir dekade 1970an, ketika tabiat membaca ala positivis mulai menyerah pada kajian berwatak interpretif dan Eurosentrisme menyerah kepada pluralisme pasca-kolonial, teks Guaman Poma mulai dibaca sebagai mahakarya interkultural yang tidak biasa. Ketika Pietschmann menyajikan temuannya di hadapan kongres internasional para ahli benua Amerika enam dekade sebelumnya, ia hanya berjumpa kebingungan. Ini menandai terjadinya perubahan dinamika intelektual dimana pemaknaan kolonial, cara pandang kolonial, telah menjadi subyek penelitian kritis.

Bagi Marie Pratt, ‘surat’ Guaman Poma adalah sebuah autoetnografi, menjadi dan menjelaskan zona kontak sekaligus, untuk menelanjangi watak ‘anti-penalukan’ teks-teks kaum penjajah. Surat Guaman Poma dan catatan serupa menunjukkan betapa ‘sejarah dari kacamata kaum penjajah’ telah menyebar begitu luas dan berpengaruh, sehingga sanggup meminggirkan catatan-catatan dari pihak terjajah, ‘Yang Lain’—dan efeknya menggelinding hingga jauh setelah masa kolonialisasi berakhir.

Untuk menggeledah watak inilah Marie Louise Pratt menulis Imperial Eyes.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s