Parfum Paris di Tangan Patrick

Image

PARIS, kota memuakkan. Bau manusia, selokan, sayur dan bangkai binatang setiap saat siap menyergap hidung, di jembatan, pasar dan sungai-sungai. Ambisi dan ketamakan menggantung di gedung-gedung dan mengalir di jalan raya. Gang-gang dan sudut pasar dipenuhi begundal dan gembel. Seluruh parfumnya pun tidak sanggup menutupi.

Gambaran itulah yang menggema sepanjang novel dahsyat Parfum, karya Patrick Suskind (Dastan Book 2006).

 

BAYI Grenouille terlahir hanya untuk dibuang ibunya ke tong sampah bersama perut dan kepala ikan. Sejak kecil ia menjalani hidup keras, sementara ibunya dijatuhi hukuman pancung akibat berlapis-lapis dakwaan, termasuk membuangnya, sebuah percobaan pembunuhan. Bahkan di titik awal ini kita sudah berjumpa gambaran yang mirip dengan nasib bayi Oliver dalam karya terkenal Charles Dickens, Oliver Twist, yang memamerkan tabiat zaman Revolusi Industri di Inggris.

Dari seorang ibu susu yang ketakutan karena kerakusan si bayi menghisap air susu, Grenouille dikirim ke panti asuhan yang dijalankan seorang wanita tak berperasaan, bukan untuk sebab yang bisa dicela, mengumpul ongkos pemakamannya. Kemudian ia dikirim kepada seorang penyamak kulit serakah nan pelit yang mempekerjakannya sebagai anak remaja, dari pagi buta hingga malam hari. Ia tak pernah mengeluh dan menjalani saja hidup.

Ia menjelma mahluk yang hidup di pinggiran, di tapal batas terang dan gelap, seperti katak. (dalam bahasa Prancis grenouille berarti ‘katak’). Itu terjadi hingga ia berjumpa seorang gadis belia.

Di sepanjang novel, parodi tentang kerakusan dan keimanan palsu muncul dalam bentuk persentuhan Grenouille dengan beragam karakter. Karakter lain melihat Grenouille dalam kacamata awam, yang dalam konteks Prancis abad ke 18—atau di Inggris pada masa Charles Dickens—adalah bocah paria tanpa orang tua yang harus siap menjadi mesin produksi dalam kondisi apa pun. Menyedihkan, namun sekaligus lucu karena karakter lain menampilkan parodi kebebalan dalam bentuk telanjang.

Tokoh-tokoh yang ia temui adalah para pendaki kekayaan dan pujian, atau mereka yang dengan cara apapun hendak mempertahankan diri dari kejatuhan, dari kemiskinan dan kehinaan—sembari memiskinkan dan menghinakan yang lebih lemah. Bagi mereka Grenouille kecil adalah bocah malang dan dungu yang, karena itu, siap diinjak-injak tanpa perlawanan.

Kontras antara tokoh-tokoh lain dan sang tokoh utama untuk menciptakan konflik—dan secara umum menciptakan plot. Membuat pembaca sadar bahwa Suskind mewarisi peninggalan-peninggalan sastrawan dunia. Pandangan awam tokoh lain terhadap Grenouille dalam Parfum sangat mirip dengan kisah aparat militer di tengah perang dunia pertama yang geleng-geleng menghadapi kedunguan Schweik, dalam novel karya Jaroslav Hasek Prajurit Schweik; atau reaksi para pekerja kebun terhadap si Lennie dalam Of Mice and Man karya Steinbeck yang berlatar masa depresi besar di Amerika Serikat tahun 1930an. Atau, dalam karya yang lebih tua, perlakuan orang terhadap Si lugu Candide, dalam karya Voltaire yang berlatar perancis modern awal, tepatnya pertengahan abad ke-18.

Tetapi Grenouillle bukan tokoh dungu dan lugu sepanjang novel. Ia bukan tokoh prototype yang tak berubah sepanjang cerita. Ia mengalami transformasi. Tahun-tahun persentuhannya dengan tokoh lain menciptakan seorang remaja dengan pertanyan-petanyaan mendasar tentang hidup di kepalanya, yang dibentangkan penulis lewat tindakan sang tokoh, bukan secara verbal—bukan soliloqui maupun dialog. Hingga, ketika Grenouille akhirnya angkat bicara, kita berjumpa narasi lirih dari kesunyian yang jernih, hasil sebuah pertapaan di tengah keramaian dan kelak di dalam sebuah gua nyaris di puncak gunung. Herman Hasse (juga orang Jerman) mungkin salah satu pesaingnya, terutama lewat tokoh utama dalam novel Demian dan Siddharta.

Transformasi Grenouille pun tidak membuatnya menjadi cendikia, tahu banyak hal dan menyebarkan revolusi, seperti tokoh-tokoh hewan ternak yang tiba-tiba menyadari kekuatan revolusionernya dalam novel Animal Farm karya George Orwell. Ia hanya menjadi lebih bisa bersembunyi, menjalankan misinya diam-diam. Lebih mirip tokoh kesepian Erik dalam Panthom of The Opera karya Gaston Leroux.

Ia bertumbuh sebagai orang tertindas dan merasa ditolak oleh dunia, oleh semua orang di dalamnya. Ia hendak meninggalkan seluruh bumi manusia, yang telah memperlakukannya begitu buruk ketika membangun peradaban baru: Revolusi Industri, termasuk industri parfum Paris, kota yang menurut Walter Benjamin merupakan ibukota dunia moderen pada abad-18.  Sebuah peradaban yang akan memperlakukan anak-anak pariah seperti Grenouille bagai kutu busuk hingga berabad-abad kemudian—seperti dialami Oliver atau Lennie.

Lewat Grenouille, Suskind menjungkirbalikkan dunia lalu mengguncangnya untuk merontokkan semua yang tersembunyi—kebusukan dibalik kota yang menghasilkan semerbak parfum.

.

GRENOUILLE terlahir dengan kemampuan penciuman sangat tajam. Ia bisa mencium semua jenis bau, bahkan dari jarak jauh. Ia mampu membedakan benda-benda lewat penciumannya, karena seluruh benda punya bau, selemah apa pun. Ia bisa berjalan tutup mata dan ‘melihat’ dengan hidungnya. Karena itu Grenouille tak kagum dengan bebauan. Hidungnya tak mengenal estetika bau. Baginya, bau tak lebih hanya fungsi, bukan gengsi. Aroma parfum atau comberan sama saja.

Namun ia menganggap bau sebagai fungsi hanya sampai ia berjumpa bau gadis yang baru mengalami pubertas. Setelah itu, ia punya bau favorit. Sejak itu hidungnya hanya memuja satu aroma: perempuan puber.  Remaja Grenouille pun berubah, menjadi punya cita-cita. Dan tidak ada satu orang pun yang mau dan bisa membantunya.

Demi mengejar cita-citanya, Grenouille menawarkan diri bekerja pada seorang ahli parfum yang sedang menghadapi karier yang meredup, dan sebenarnya sudah berniat menutup usahanya. Namun apa yang ia inginkan, dengan penciuman maha tajam, di kota parfum, sungguh di luar dugaan. “Ia tak ingin hidup dari situ kalau memang ada jalan lain untuk mengongkosi hidup.” (hal. 195).

Demi melihat ketajaman hidung Grenouille, rencana sang ahli parfum berbalik. Keuntungan dan kesohoran berada di depan mata, siap menjungkirbalikkan nasib di ujung hidupnya yang tengah dirundung murung. Apalagi sang bocah tak berniat bersaing dengan sang bos atau ‘ahli parfum lainnya’. Bahkan, “tak pernah terlintas niat untuk menjadi kaya dengan bakat ini.”

Lantas apa untungnya bagi Grenouille?

Setelah bertumbuh sebagai seorang pembenci dunia, dan lari dari dunia yang tidak menerimanya, ia merasakan kesepian, kerinduan untuk diterima oleh orang lain. Ia jadi sadar, “semula ia mengira hanya menjauhi dunia secara umum, tapi ternyata bukan dunia—bukan, tapi manusia penghuninya yang ingin ia jauhi.” (hal. 207). Ia kemudian berusaha mencari cara agar bisa diterima sebagaimana manusia lain. Sulit tak menangkap kemiripannya dengan tokoh Frankenstein yang terus merenungi nasib buruk hidup di dunia yang menolaknya.

Grenouille kemudian meramu parfum yang bisa membuatnya disambut dengan tangan terbuka oleh manusia lain, parfum berbau manusia. Ia butuh bau manusia, bukan bau yang menyamarkannya. Sebab ia sendiri tidak punya bau tubuh. Dari mana bau itu bisa ia ramu? Dari bau tubuh gadis-gadis remaja. (Oh, bukankah mereka yang gemar menyamarkan bau tubuh mereka dengan parfum?)

Untuk itu sang pemuda mesti membunuh belasan perempuan muda.

Jika indera penciumannya tidak mengenal estetika, pikirannya sulit menangkap batas etika. Grenouille beranjak remaja dengan membawa satu kekosongan. Ia tak dapat memilah kebaikan dari kejahatan. Ia hidup dalam ruang hampa etika. Sebagai anak yang senantiasa menerima tindakan jahat, kejahatan menjadi sesuatu yang wajar baginya. Ketika ia akhirnya melakukannya, ia tak tahu bahwa itu kejahatan. Seperti Lennie dalam karya Steinbeck, yang ‘tidak sengaja’ membunuh seorang gadis belia karena takut sang gadis berteriak dan membayahakan dirinya.

Dan Grenouille berhasil. Ia sukses menciptakan parfum yang membuat manusia lain mencintainya tanpa syarat. Lantas, Suskind mau menunjukkan apa dengan sukses tokoh utamanya?

MENURUT Jefferey Adams (2000), sesungguhnya novel ini adalah parodi kutipan dari sastra-sastra sebelumnya. Sebuah intertekstualitas dengan gaya main-main. Lewat Das Parfum—judul asli novel ini—Suskind tengah mendesakralisasi aliran sastra yang memuja ‘orisinalitas’ dan ‘individualitas’ pengarang. Bagi Suskind, setiap pengarang adalah peramu sejarah estetika literer yang sudah ada sebelumnya. Peminjaman bagian-bagian tertentu dari karya yang sudah ada tak dapat dihindari, dan plagiarimse tak perlu dipusingkan. Seorang sastrawan tidak perlu membanggakan diri telah ‘menciptakan’ sesuatu yang orisinil.

Suskind pun mengamalkan pandangannya. Ia  hidup menutup diri agar tak menonjolkan individualitas dan menjadi sasaran pemujaan. Ia juga menyatakan sulit mengingat isi buku-buku yang telah ia baca atau kutip, apalagi yang telah ia tulis. Meski ini lebih merupakan kesengajaan daripada keterbatasan. Patrick Suskind pernah berlatih menjadi sejarawan. Ia belajar sejarah di Munich sebelum menulis novel. Mungkin inilah yang membuatnya bisa menulis Parfum yang bukan sekadar ‘novel sejarah’. Ia melancarkan kritik terhadap penghambaan diri dan pemujaan orang masa kini terhadap citra parfum berlabel Paris. Ia melakukan pembusukan terhadap parfum. Dengan begitu, ia menunjukkan apa yang bisa dilakukan sejarah ketimbang apa yang diceritakan sejarah.

Sehingga parfum di novel ini bisa juga adalah simbol pemujaan individualitas. Suskind mengolok-olok pemujaan terhadap keunggulan rasio individual dan turunannya: orisinalitas estetika pengarang. Buah zaman Pencerahan. Ia menempel-nempel berderet karya sastra dengan caranya sendiri, menciptakan pastiche: parade sekaligus parodi atas karya-karya sebelumnya.

Dengan begitu, Suskind menggerakkan gerbong cerita tanpa memusingkan telah mengutip siapa saja, sebab pengarang adalah peramu bukan pencipta. Ia tidak menunggu ilham jatuh dari langit untuk menciptakan kanon orisinil, yang baginya tidak mungkin terjadi dan tindakan mengejarnya adalah laku narsistik pengarang. Ia pun berhasil menggelar sebuah cerita dengan gaya tutur yang segar, sekaligus melakukan pembongkaran aib manusia lewat tokoh utamanya.

(Das Parfum juga memenangkan beberapa penghargaan dan dicetak beratus ribu eksemplar serta diterjemahkan ke berbagai bahasa.)

Mengejek Grenouille yang mengklaim akan meracik parfum “yang tidak pernah ada sebelumnya,” Suskind menunjukkan betapa orisinalitas sang sastrawan sebenarnya adalah omong kosong, betapa orisinalitas sebenarnya adalah ramuan dari apa yang sudah pernah ada. Betapa kerja kreatif adalah sebuah dialog. Sebuah laku sosial, bukan individual. Sehingga pemujaan terhadap keaslian individual adalah tindakan narsistik yang berujung pada pelupaan atas karya para pendahulu. Bahwa parfum seharusnya tidak bermerek, sebab merek adalah tindak pelupaan terhadap sejarah.

Suskind lalu menggambarkan laku ‘dialog’ pencipta-pengguna ini sebagai sesuatu yang menghasilkan kesadaran baru, transformasi. Grenouille jadi sadar bahwa aura identitas yang diciptakan oleh parfum ajaibnya adalah sebuah ilusi, dan bahwa kebencianlah, bukan cinta, yang mendorongnya menjadi seorang jenius parfum. Kebencian terhadap dunia yang menolaknya, membuatnya ingin menciptakan dunia yang menerimanya. Ia meracik parfum untuk menaklukkan dunia.

Setelah berfikir ulang, Grenouille diserang kekecewaan mendalam mengetahui bahwa cinta-mati orang-orang terhadap dirinya merupakan rekayasa yang ia buat sendiri. Ia pun kembali ke tempat asalnya di kampung kumuh Paris untuk mengakhiri hidupnya. Ia menyiram diri dengan parfum ciptaannya yang paling sempurna dan menyerahkan diri kepada kerumunan pembunuh dan pencoleng. Tersihir oleh semerbak parfum yang membuat sinting, mereka mencincang Grenouille dan memakannya cabik demi cabik.

Namun Suskind belum puas. Secara menggelikan ia menutup novel dengan menggambarkan kondisi psikologis para pemuja parfum—para pemuja kanon—seusai saling mencabik. Setelah tersadar, mereka cuma “kaget menyadari kejadiannya berlangsung begitu mudah sampai tak sempat merasa bersalah. Hanya sedikit malu saja.” (hal. 423).

Ia ingin menunjukkan bahwa ilusi yang membius, yang menutupi kenyataan, bisa menyebabkan kemunduran sebuah masyarakat hingga ke titik terendah. Ia seperti mengkritik para pendahulunya yang terbius oleh sihir Hitler dan melakukan kehancuran di mana sembari menghancurkan diri sendiri. Bahwa pemujaan terhadap individualitas, dalam bentuk benda maupun citra, bisa membuat kehancuran kolektif. Mengapa demikian?

Mengutip lagi analisis Jeffrey Adams terhadap Das Parfum: menindas dan menutup-nutupi rentetan peristiwa tragis di masa lalu akan membuat sebuah masyarkat mundur bersembunyi di balik melankolia. Seperti yang terekspresikan dalam bentuk ‘lagu-lagu cengeng’ era 1980an di Indonesia—dihujat penguasa korup yang geram melihat buah kebuasannya. Bahwa untuk bergerak maju, sebuah masyarakat justru harus melakukan sebaliknya: senantiasa mengenang peristiwa-peristiwa menyedihkan. Tindakan ‘berduka’ dengan mengangkat berlapis tragedi dalam bentuk main-main parodi, seperti yang dilakukan Suskind, bisa membuat sebuah masyarakat senantiasa awas, tetap terhibur, sembari terus bergerak menuju kedewasaan.

Suskind mungkin ingin meningatkan kita: ketika Anda membeli parfum bermerek di Paris, Anda harus mengingat kembali peradaban macam apa yang membangun citranya. Mencari tahu masyarakat melankolik seperti apa yang menerbangkan Anda ke Paris, sekaligus memasukkan uang ke dalam dompet Anda.

Advertisements

2 thoughts on “Parfum Paris di Tangan Patrick

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s