Antara Penyanyi, Musik dan Saya

Sudah tiga jam kami di cafe itu, menikmati lengang sembari mengejar tenggat masing-masing. Menjelang pukul empat sore tempat itu tiba-tibai ramai. Seorang selebriti akan datang. Begitu yang saya dengar dari pembawa acara—orang-orang tetap saja menyebutnya MC (Master of Ceremony) meski untuk acara temu selebriti.

Dari seberang meja, kawan saya melempar bisikan mencoba memberitahu nama si selebriti. Tangan kanan mengangkat majalah menutupi sisi kanan wajah, agar gerak mulutnya tak tertangkap orang lain. Saya gagal menangkap gerak bibirnya. Jarak kami sekitar satu setengah meter.

Seperti robot dikontrol dari jauh, entah dari mana. Si pembawa acara merapal susunan acara baku dengan cara baku dunia entertainment. Apa yang hendak ia katakan mudah tertebak: akan ada bincang-bincang, satu lagu teaser untuk konser malam di sebuah club hotel berbintang, dan berfoto bareng sang selebriti. Kalimatnya meluncur dengan logat Jakarta di tengah orang-orang Makassar. Banyak penyiar radio melakukannya, menyulap diri sebagai penutur logat Jakarta selama beberapa jam, sebelum kembali ke dunia nyata. On air logat Jakarta, off air logat Makassar.

Ia mengakhiri agenda acaranya dengan sebuah melodrama—juga prosedur standar dunia hiburan. Seorang penggemar datang dari jauh, teriaknya, sebuah kota kecil berjarak 10 jam perjalanan bis dari Makassar. Sang pemuja mengangkat tangan, seorang pria akhir duapuluhan ber-poloshirt merah, berambut klimis. Ia disambut tepuk tangan penggemar lain.

***

Selama itu saya hanya tahu kejadian di panggung lewat si pembawa acara. Saya duduk membelakang, lebih tertarik memerhatikan para penggemar. Rambut klimis basah, jilbab modis, wajah-wajah tak berminyak, gadget multi-fungsi, pendar lampu kamera. Bisik-bisik. Tunjuk-tunjuk malu.

Tapi saya berbalik ketika mendengar suara sang penyanyi mengalun diiringi gitar saja. Suaranya serak merdu. “Anak muda ini bisa nyanyi.” Sinis saya berkurang padanya. Saya suka, menikmati lagunya, meski tak tahu judulnya.

Sembari mendengar lagu itu mengalun, saya kembali sadar betapa nikmat musik unplugged. Hanya pengeras suara atau tanpanya sudah cukup. Saya menikmati suasana macam ini, dulu, sebagai mahasiswa di kampus; atau ketika nongkrong di tempat kost. Ada spontanitas. Tak ada dandanan menor pakaian, gerak atau suara.

Saya sudah sering dengar potongan lagu yang ia nyanyikan; diletakkan semena-mena oleh siapa pun yang berkuasa menjalankan program iklan, untuk mengganggu konsentrasi nonton saya, dan mungkin orang-orang semacam saya. Sebagai iklan, potongan itu tak lebih sebagai pengganggu. Karena itu saya merasa tak perlu tahu judul, nama penyanyi, atau mengenali wajahnya—meski potongan lagu itu terlanjur tertinggal dalam ingatan.

Ironi semacam ini kerap menghiasai relasi antara para penyanyi muda dan saya. Hubungan kami dihambat sesuatu yang justru menjadi alat menghadirkan mereka, membuat mereka ada.

Infotainmen dan industri dandanan telah merusak hubungan saya dengan mereka. Wartawan gosip mengejar mereka dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting. Membuat mereka terlihat seperti sosok-sosok tak bertulang dengan kisah telenovela. Sementara industri dandanan menempa mereka menjadi wajah dan tubuh tak berkarakter. Karena itulah, saya jarang nonton acara musik di televisi. Sekian tahun terakhir saya hanya menikmati suara mereka dari MP3. Saya bisa merdeka memilih lagu dan penyanyi untuk mengiringi momen tertentu, tanpa disela.

Setelah sore di cafe itu, saya mencari tahu apa yang dilakukan industri hiburan terhadap si penyanyi muda. Dari informasi internet dan menonton si anak muda bernyanyi di televisi, saya melihat bagaimana ia dipermak. Ia ditampilkan seragam dengan selebriti lain. Meski dunia hiburan mengizinkan keragaman, itu sebatas tipe-tipe yang sudah ditetapkan. Mereka dimasukkan ke dalam salah satu kategori itu. Terutama bagi yang muda dan pendatang baru.

Di televisi, ia mengenakan kemeja lengan panjang warna gelap mengkilap. Tata rambut, mimik dan koreografinya; cara bernyanyi, suara dan aransemen lagunya, semua direkayasa sesuai kategorinya. Nyaris tak ada yang tersisa dari penampilannya sore itu. Ia menjelma: penyanyi pop solo pria muda.

Pada masa industri musik, ketika musik menjelma barang jualan, demikian tulis Theodor Adorno, seluruh musik yang ditawarkan begitu identik sehingga pembedanya hanya ada di data biografis dan suasana ketika musik itu didengarkan. Wajar bila selebiriti harus bergantung pada infotainment dan acara telivisi yang diiklankan setiap saat. Familiaritas menjadi kunci kesuksesan penjualan mereka. Tak kenal maka tak suka. Familiaritas sebuah lagu—dan penyanyinya—menjadi penentu kualitasnya. Menyukainya menjadi nyaris sama dengan mengakui kualitasnya. Lagu yang dibuat secara otonom, lepas dari kehendak industri, tidak lagi punya tempat.

Adorno menulis ini dalam esainya, On the Fetish Character in Music and the Regression of Listening, pada tahun 1938. Namun kita masih bisa merasakan relevansinya hingga hari ini.

***

Sore itu, dari jarak tujuh meter, saya kembali menikmati musik langsung dari sumbernya. Saya melihat sosok lain. Pakaiannya casual, kaos oblong merah dan celana kargo bermotif army—­dandanan yang bisa kau temui di pasar atau terminal bis. Suaranya keren. “Mungkin ia benar-benar seniman,” pikir saya. Mungkin ia tak pernah ada di daftar saya bila tak sengaja melihatnya di cafe sore itu.

Tampaknya saya mesti lebih banyak mendatangi konser bergaya casual. Menikmati langsung pertunjukan seniman tanpa perantara industri musik, gosip dan dandanan. Mengembalikan hubungan baik saya dengan para penyanyi.

*Tulisan ini terbit Rubrik LITERASI Koran Tempo Makassar, Sabtu 2 Maret 2013.

Advertisements

5 thoughts on “Antara Penyanyi, Musik dan Saya

  1. F. Daus AR says:

    Wah,,inspiratif. Tapi, soal penulisan selebriti, yang benar yang mana ya? ‘selebriti’ atau ‘selebritas’

  2. Ah, tulisan ini. Ketika menjadi penyiar radio, kami hanya mendengar suaranya, membaca siaran persnya sambil menikmati lagu yang memang benar-benar bagus. Tanpa harus terpengaruhi oleh gangguan visual tidak penting karena memang sekali lagi, musik yang akan kita nikmati. Saya merindukan masa-masa itu, ketika musik hadir sebagai teman. Bukan sebagai komoditas.

    Siapa penyanyi itu? :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s