Menonton Desa dari Tepi Lapangan Bola

Ketika mereka berdiri di tepi lapangan, menikmati gambus dan sepakbola, buah kentang tengah melambungkan kondisi ekonomi desa mereka. Namun tanda-tanda keruntuhan juga sedang mengintai.

Kabut mulai turun ketika para pemain memasuki lapangan bola. Pukul dua siang, seluruh pemain berlari dan melompat untuk menghangatkan tubuh. Penonton dapat melihat semburan embun dari hembusan napas para pemain, sebagaimana mereka bisa melihat punya sendiri melayang dari hidung ke jaket tebal mereka.

Di ketinggian sekitar seribu empat ratus meter di atas permukaan laut, lapangan itu menempati salah satu punggung bukit yang dikelilingi kebun sayuran. Di tepinya berderetan kios dadakan menjual makanan kecil dan rokok. Sebagian besar yang hadir adalah petani sayuran, terutama kentang yang diperkenalkan petani dari Jawa Barat dua dekade sebelumnya, yang kemudian menjadi penarik kas utama banyak rumah tangga.

Mereka tengah menanti pertandingan final sepak bola. Tetapi sebelum itu, ada perhelatan puncak lomba musik gambus.

***

Kerumunan penonton memadati bagian depan panggung kecil di tepi selatan lapangan. Peserta demi peserta tampil dengan serius. Seorang lelaki paruh baya bermain dengan tegang dan mata nyaris terpejam; seorang pemain ditemani penyanyi wanita dengan suara gemetar dan berkali-kali terpeleset keluar rel nada. Hebatnya, penonton tetap setia di hadapan mereka, sesekali berteriak mendukung dan bertepuk tangan menyambut naik turunnya penampil. Mereka sungguh-sungguh menikmatinya.

Barangkali kondisi ini bisa menjelaskan: harga kentang sedang membaik sejak tahun sebelumnya dan total produksinya tengah menanjak.

Puncak kegembiraan mereka terlihat ketika pemain gambus terakhir beringsut naik ke panggung. Panitia yang membantunya memegang dua mikrofon sekaligus, yang kanan mengarah ke mulut dan yang kiri ke depan dawai gambus sang maestro—selama sekitar sepuluh menit. Penampil itu seorang tunanetra.

Ia jelas peserta paling populer. Penonton yang berdiri agak jauh dari panggung langsung merapat sehingga panitia harus mengingatkan agar mereka tidak terlalu berdesakan dan meminta yang tepat di depan panggung untuk duduk supaya yang di belakang bisa menonton.

Tepuk tangan, sahutan dan siutan menyambut nada-nada awal yang dipetiknya. Ia bermain dengan lincah. Topi putihnya menutupi nyaris dua pertiga wajahnya, yang ia dongakkan menghadap penonton. Sesekali penonton menyambut lirik jenakanya dengan teriakan dan tepuk tangan. Melihat ini, panitia menaikkan volume suara. Ini tidak adil bagi penampil lain, tapi tampak mereka pun sangat menikmati. Semua larut sebagai penonton.

Pukul tiga pertandingan sepak bola dimulai. Tak satupun dari ratusan penonton yang menginjak garis, seperti dihimbaukan panitia. Tak ada saling-ejek untuk mendukung tim masing-masing. Dua tim dari dusun berbeda menyelesaikan final tanpa perkelahian.

Mungkin kondisi ekonomi desa bisa menjelaskannya: nyaris seluruh warga desa yang berpenduduk hampir 3800 itu punya lahan garapan. Pemasukan warga melonjak hingga 1.700 kali sejak datangnya kentang. Warga miskinnya bisa mencukupi kebutuhan dasar dan pendapatan mereka tak terpaut jauh dengan kalangan menengah-bawah. Mereka bahkan  sanggup mempekerjakan warga desa tetangga.

***

Namun sebagian kecil warga mulai mengkhawatirkan kebun kentang yang mengalami perluasan  tak terkendali, juga berkurangnya produktifitas karena sebagian petani tak bisa mengistirahatkan lahan. Desa mereka berada di pundak Gunung Bawakaraeng yang dulu dikepung hutan, yang dirawat seorang warga penerima penghargaan Kalpataru beberapa dekade silam. Menurut Francois Ruf, seorang agronomi dari perancis, membuka hutan untuk perkebunan berarti memanfaatkan ‘pinjaman kesuburan’ dari hutan (forest rent), yang akan terus tergerus seiring terhisapnya kesuburan tanah oleh tanaman, musim demi musim.

Kelak, kecenderungan turunnya produktifitas lahan kentang Indonesia dibenarkan penelitian Witono Adiyoga dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, yang melaporkan bahwa produksi kentang nasional antara 1996-2006 terus meningkat lebih karena perluasan lahan ketimbang produktifitas lahan.

Monokultur kentang yang terus meluas bisa merusak alam dan telah melorotkan produktifitas. Mereka terus menanami sembari membuka lahan baru karena tekanan harga dari pembeli, para pedagang pengumpul, yang sebagian besar tak begitu tahu informasi harga di kota, atau tak punya modal untuk membuka akses pasar ke tempat yang lebih menguntungkan.

Berbagai literatur menyebutkan bahwa desa dengan ekonomi berorientasi pasar memang menimbulkan dilema antara mempertahankan keuntungan ekonomi atau kelestarian alam—yang justru bisa menjamin keberlanjutan ekonomi itu sendiri. Sementara bertahan dengan pertanian subsisten juga akan menyulitkan mengingat harga barang konsumsi dari kota, barang pabrikan, tidak pernah turun.

Berapa ton kentang yang harus mereka jual untuk bisa membeli televisi, mengendarai motor atau menyekolahkan anak di kota?

***

Saya menyaksikan perhelatan gambus itu di hari pertama September 2003, ketika warga Desa Kanreapia, Kabupaten Gowa, merayakan hari terakhir rangkaian peringatan kemerdekaan. Mereka bergembira dengan gambus dan olahraga rakyat. Mereka tak menghabiskan banyak uang memproduksi sendiri hiburan itu, sekaligus merawat tradisi musik mereka. Tetapi sepertinya mereka akan membayar ongkos yang amat besar dari menjual murah produk mereka dan membeli mahal produk pabrikan dari kota. Anak-anak mereka pun semakin sering terlihat di hadapan televisi, mengeja pelajaran dari deretan artis yang menganjurkan untuk tidak menjadi diri sendiri, dengan membeli produk-produk pabrikan.

Setelah satu dekade, mungkin sekarang tahun yang tepat untuk tahu bagaimana nasib kebun kentang mereka. Lalu bagaimana dengan sepak bola dan sang maestro gambus mereka.

Apakah akhirnya mereka punya solusi?

*Tulisan ini terbit di Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar, Edisi 3 Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s