Orang-Orang dalam Perjalanan

Mengapa Linda meletakkan tokoh-tokohnya di tempat semacam itu di dalam kumpulan cerpennya, ‘Seekor Anjing Mati di Bala Murghab’? Orang-orang itu tak sedang di rumah. Mereka dalam perjalanan, di dalam atau luar negeri. Mereka mengunjungi bar atau rumah kawan, melancong atau mengikuti kongres internasional, membangun turbin, meneliti atau menyelundupkan ganja. Sebagian besar bepergian seorang diri, nyaris seluruhnya belum pulang.

Salah satu dari mereka “baru saja turun dari kereta, menjauhi pintu selatan stasiun dan membaur dengan mereka yang berjalan ke tempat tujuan berikutnya.” (‘Sihir Musim Dingin’) Seperti tokoh lain, ia masih punya urusan dan mesti bertemu orang lain di “tujuan berikutnya”. Di sela sibuk perjalanan, mereka menemukan kesempatan untuk merenung, atau memancing pembaca melakukannya. Nyaris seluruh tokoh utama di buku ini belum pulang di akhir cerita, untuk ‘menyelesaikan’ alur cerita. Kadang narasi terus bergerak hingga kalimat terakhir, ketika plot masih terurai. Agaknya ini bukan tanpa sebab.

Banyak dari tokoh dalam kumpulan cerpen ini muncul dengan profesi yang jelas: penyelundup ganja, peneliti, insinyur, staf ornop, hingga pekerja galeri. Profesi mereka termasuk langka dalam cerpen Indonesia mutakhir, yang bila menampakkannya, didominasi politisi, guru, pekerja informal atau seniman. Banyak cerpen Indonesia mutakhir pun cenderung menyajikan tokoh-tokoh yang dibentuk oleh insiden (kekerasan) tertentu, sementara tokoh-tokoh Linda ditempa oleh peristiwa yang tak melulu traumatis, termasuk pengalaman sehari-hari ketika bekerja.

Erika dalam ‘Kisah Cinta’, misalnya, bekerja sebagai staf galeri sekaligus menjadi “pemuja keindahan tubuh.” Pekerjaan Erika menuntutnya tampil dengan cara tertentu, bergaya hidup dan bergaul dengan kelompok sosial tertentu. Sebaliknya, sebagai pemuja keindahan tubuh, ia memilih pekerjaan yang mengizinkan kecenderungannya. Mana yang duluan tidaklah penting. Yang jelas, profesi punya ikatan kuat dengan kondisi atau kecenderungan pribadi seseorang. Pilihan pekerjaan adalah salah satu ekspresi publik terpenting seseorang.

Sebagian besar tokoh pun dibuat berbicara jujur mengenai pandangan agama, politik, dan kebangsaan mereka. Sehingga mereka tidak tampak sebagai sosok sophisticated yang melek segala macam bentuk toleransi; atau sebaliknya, tak punya pendapat samasekali. Mereka pun bukan tokoh-tokoh stereotipikal yang kerap muncul di film Indonesia. Dengan kualitas semacam itulah para tokoh Linda bergaul dalam dunia publik—hingga melintasi tapal negara.

Tokoh-tokoh mundane itu bepergian ke luar negeri, menunjukkan beragam bentuk pergaulan manusia antar-bangsa. Mulai dari perjumpaan sekilas di bar, beberapa malam di konferensi, mengembangkan hubungan menjadi sahabat hingga berpacaran bertahun-tahun. Dengan begitu Linda berhasil menghindari kecenderungan narsistik dalam cerita-cerita perjalanan orang Indonesia. Ceritanya bukan melulu tentang Indonesia. Dalam ‘Jack dan Bidadari’, seorang pria pengunjung kedai, memberondong pelayan kedai dengan cerita tentang kehidupan pribadinya. Ini salah satu gejala alienasi versi Durkheim, yang di AS sudah diamati para sosiolog sejak akhir abad ke-19.

Tokoh-tokoh itu bukan sedang mengumpulkan cerita, potret atau belanjaan yang membuat pemirsa dalam negeri ternganga. Bukan pelesiran menikmati pemandangan indah luar negeri untuk sejenak melupakan segala masalah di Indonesia. Bukan pula narasi survival tentang menaklukkan berderet tantangan hidup atau kerasnya alam di negeri orang. Mereka tidak sedang lari dari atau menyelesaikan masalah. Tetapi hanya menjalani salah satu bagian dari hidup, menjalani profesi.

Perjalanan mereka, di dalam maupun luar negeri, mengungkap beragam perihal publik—bukan tentang individu belaka. Mulai dari dampak berkuasanya rezim di Afganistan, gejala alienasi di Amerika Serikat, ruang-ruang kontak multi-etnis di Maroko atau dampak relasi perang dan ganja di Aceh. Hingga, dalam bentuk lebih subtil, tentang kerinduan akan gerakan sosialisme di Jerman.

Ketika mereka pulang, kita bisa bayangkan, masalah mereka belum ‘selesai’. Tokoh Zakaria dalam cerpen ‘Zakaria’ masih akan terus hidup dalam ketegangan di tengah konflik bersenjata di Aceh. Ia membantu kakak perempuannya mendapatkan uang dengan menjual ganja untuk secara diam-diam mensuplai para kombatan, sementara suami kakaknya adalah seorang polisi. Dan ia harus menjaga rahasia itu. Tokoh Aku dalam ‘Seekor Anjing Mati di Bala Marghab’, malah ingin—tapi belum—pulang untuk menghilangkan ketegangannya dengan “menonton film komedi dan makan popcorn.” Ia tengah bekerja di wilayah konflik Afganistan sebab perusahaannya memenangkan kontrak pembangunan turbin. Sebuah ‘bisnis perang’ menggiurkan. Sebagai staf kontraktor yang sama, bila merujuk Shock Doctrine-nya Naomi Klein, ia masih akan terus menjalani lakon serupa di daerah konflik lain.

Bisa jadi inilah yang dilakukan Linda dengan meletakkan tokoh-tokoh profesional di ruang antar-bangsa. Ia berkisah tentang bagaimana para tokoh, yang karena profesinya, menjumpai beragam persoalan publik dan terlibat di dalamnya. Mereka bukan sekadar pemirsa atau konsumen dalam pergaulan antar-individu beda negara. Orang Indonesia bepergian tidak hanya untuk memuaskan dahaga pelesiran ke luar negeri. Linda sepertinya sedang membangun sebuah sanggahan: antitesis dari kecenderungan cerita perjalanan yang kini menjamur di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s