Jalanan Kita di Iklan-Iklan

BILA anda punya masalah dengan debu dan sengatan sinar matahari di jalanan, produk pembersih muka, tabir surya dan pemutih kulit siap mengatasinya. Jika anda terserang hawa panas atau sakit kepala di tengah macet, beragam minuman kemasan, obat penghilang sakit kepala, mobil ber-AC nan lapang, akan membuat semua persoalan itu lenyap.

Masalah anda, menurut iklan-iklan yang saban hari kita tonton di televisi, sudah punya solusi. Anda hanya perlu berbelanja.

SESUNGGUHNYA, beban itu terlalu berat untuk diemban oleh iklan. Hanya perlu sedikit lebih teliti untuk melihatnya, deretan persoalan di atas sejatinya adalah persoalan publik. Jalan berdebu macet atau sengatan panas di jalanan adalah masalah publik. Lebih tepatnya, soal kebijakan publik. Untuk menyelesaikannya kita butuh solusi jangka panjang, dengan fasilitas dan sistem transportasi dan tata ruang publik yang baik.

Macet akan susut bila pembatasan jumlah kendaraan pribadi dan perbaikan layanan transportasi publik bisa berjalan mulus. Anda akan terlindung sengatan matahari bila di sepanjang sisi ruas jalan tersedia pohon pelindung. Debu akan gagal mencapai anda bila berbagai proyek pembangunan di sekitar tempat publik tidak macet dan mengikuti aturan menjaga kenyamanan orang banyak di sekitarnya—bila aturan itu ada, sebagaimana di kota-kota dunia.

Tetapi semua terlantar sekian lama dan terlihat seperti akan menemani kita selamanya, tak akan pernah teratasi. Pengalaman sehari-hari itu kemudian menjadi ilham bagi para pembuat iklan, memakainya sebagai ‘latar belakang masalah’ yang bisa diatasi oleh produk mereka. Bayangkan jutaan orang terjebak macet, terkena debu dan sengatan matahari setiap hari di banyak kota besar. Sungguh pasar yang besar, penuh keluhan, berkelanjutan pula.

Mengikuti watak produk yang mereka tawarkan, iklan mesti meniupkan pesan ini secara samar: seluruh persoalan anda adalah masalah pribadi, soal kenyamanan masing-masing anda. Solusi masalah publik menjadi beban individual anda. Mustahil membayangkan orang lain yang punya masalah serupa akan membantu anda, bukan? Masing-masing orang harus mengumpulkan uang sendiri dengan cara masing-masing lalu berbelanja produk yang sama untuk mengatasi masalah yang sama.

Di dunia terekayasa yang diciptakan iklan, cara menyelesaikan masalah bukan lewat protes atau melayangkan permintaan kepada pemangku kebijakan publik untuk merapihkan produk kebijakan mereka.

PADAHAL setelah anda benar-benar membeli produk itu, dengan merujuk iklan atau tidak, masalah anda akan datang lagi besok hari, dan datang bersama masalah-masalah lain. Anda pun harus terus berbelanja, dengan daftar yang kian memanjang. Sungguh menyedihkan.

Salah satu skenarionya kira-kira begini: bila anda sudah tak tahan sebagai pejalan kaki dan pengguna kendaraan umum yang kian menyiksa dan sulit diandalkan, anda membeli motor. Karena orang lain juga melakukannya, ruas jalan penuh dan macet tak terhindarkan, anda harus membeli bahan bakar lebih banyak. Macet put datang bersama asap kendaraan, hawa panas dan tak jarang debu. Anda harus membeli masker penutup hidung atau helm yang lebih mahal berikut segala macam pelindung tubuh. Macet dengan seluruh tubuh tertutup juga akan membuat anda dehidrasi dan sakit kepala, anda pun harus mengeluarkan uang untuk itu.

Ketika mereka yang mengendarai motor tak tahan lagi, mereka membeli mobil ber AC. Dengan beban cicilan tiap bulan, mereka harus merogoh kantong lebih dalam untuk merawat mesin dan aksesorisnya, membayar pajak lebih tinggi, membeli bahan bakar lebih banyak, membangun parkiran di rumah.

Karena semua orang melakukannya, macet kian menjadi, dengan masih menanggung beban di atas, anda membeli bahan bakar lebih banyak lagi, biaya perawatan lebih besar, menyiapkan makanan kecil untuk perjalanan yang semakin lama. Bahkan mungkin menambah aksesori hiburan agar anda tidak bosan?

Demikianlah lingkaran itu membawa anda terus berputar tanpa ujung.

BOLEH JADI, inilah yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya, di mana menurut survei Urban Transportation Policy Integration Project 2011, jumlah pengguna angkutan umum menyusut lebih tiga kali lipat dan pengguna kendaraan pribadi meningkat lebih dua kali lipat dalam waktu delapan tahun. Jumlah kendaraan tahun 2011 mencapai 11,7 juta unit, delapan juta di antaranya beroda dua. Khusus di Jakarta 98 persen kendaraan itu milik pribadi!

Kota ini, menurut perkiraan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) pada 2010, bila tidak mengalami perubahan revolusioner, akan menyaksikan macet total pada tahun 2014. Bandung, Surabaya, Semarang, Medan dan…. Makassar akan menyusul antara tahun 2015 hingga 2025. Danang Parikesit dari MTI menyimpulkan, “kalau tak ada revolusi, 10 tahun lagi jalan kaki lebih cepat dari naik motor.” Demikian dilansir situs TempoInteraktif tiga tahun lalu.

Lalu bagaimana bila harga-harga terus menanjak dan kebutuhan anda semakin bertambah? Jangan khawatir, setiap saat iklan menawarkan kendaraan murah dan hemat bahan bakar. Ada diskon, potongan harga, cash-back atau berderet bonus. Agar anda tetap berbelanja.

Lantas dari manakah anda bisa mendapatkan uang untuk memuaskan kebutuhan yang pasti terus bertambah itu, bila akar masalahnya belum diselesaikan?

*Terbit di Rubrik Literasi Koran Tempo Makassar Edisi Rabu, 22/5/2013

Advertisements

One thought on “Jalanan Kita di Iklan-Iklan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s