Pesan dari Iwan Fals

Di awal April lalu, rumor Iwan Fals mangkat memaksa ia muncul di hadapan wartawan untuk memastikan dirinya sehat. Akhir bulan, usai menyanyikan lagu-lagu protesnya pada sebuah konser, penanggap acara merampas mikrofonnya.

Dua peristiwa dalam satu bulan, seperti ingin menyampaikan dua pesan. Satu, dunia hiburan (entertainment) masa kini gemar meributkan gosip tentang pribadi seseorang sembari membungkam suara protes mengenai persoalan publik. Dua, lirik protes bukanlah hiburan dan tidak menghibur—bagi siapa?

Apakah ini pertanda bahwa masa pembungkaman sudah kembali bagi Iwan Fals, meski dilakukan oleh dua model aparatus kekuasaan yang berbeda?

***

Iwan kerap membuat pening pemerintahan Orde Baru, terutama bila ia tampil live di sebuah konser. Khrisna Sen dan David Hill dalam Media, Culture and Politics in Indonesia, menilai bahwa ‘konser’ di Indonesia pada masa  itu serupa karnaval, tempat rakyat beramai-ramai mengungkap rasa senang sekaligus frustasi, yang dengan mudah bisa berubah menjadi pembangkangan komunal, tak peduli apapun politik penyanyinya.

Bila dua elemen itu—Iwan Fals dan konser—berbaur, mantra ‘keamanan dan ketertiban’ yang dihembuskan aparat di stadion manapun tidak akan sanggup menyihir massa menjadi tunduk dan patuh. Sen dan Hill mencatat: pada Februari 1989, selesai menonton Iwan tampil di Senayan bersama Swami, seratusan ribu penonton membuat keributan di Jalan Sudirman. Penampilannya bersama Kantata pada 1990 membuahkan pelarangan tampil bagi Iwan hingga 2 tahun lebih.

Pada Januari 1993, ketika boleh tampil kembali dalam konser amal gempa Flores, aparat hanya mengizinkan ia tampil di Lebak Bulus, bukan Senayan. Sekitar dua ribu aparat keamanan yang bertugas memperlihatkan tingkah tak bersahabat  terutama ketika Iwan melantunkan lirik-lirik protes. Itu disambut penonton dengan ejekan serta lemparan botol plastik dan sandal ke aparat—botol kaca, penggeret, ikat pinggang berkepala berat dan benda tajam, semua sudah disita di pintu masuk. Suara Iwan pun kerap tenggelam oleh nyanyian lebih dari sertus ribu penggilanya, yang meneriakkan lagu-lagu seperti ‘Bento’, ‘Wakil Rakyat’, ‘Penguasa’ dan ’Bongkar’.

Selesai konser keributan pecah.

Tampil di Bandung pada Januari 1996, meski disponsori komando militer setempat, gelegak berontak penonton tetap meledak. Lima bulan berikutnya, Iwan batal tampil di Makassar “karena alasan keamanan”, izin pertunjukannya dibatalkan pukul sebelas malam sebelumnya.

Karnaval penggemar Iwan Fals ini mirip dengan deskripsi Ariel Heryanto dalam Entertainment, domestication and dispersal: street politics as popular culture tentang massa kampanye buatan rezim Orde Baru. Di masa itu partai penguasa tanpa sengaja menciptakan machoisme dalam kampanye pemilu. Dengan itikad menciptakan citra pemilu yang demokratis mereka mengorganisir massa yang pura-pura mendukung tiga partai peserta pemilu selama masa kampanye. Mereka pawai motor mengelilingi kota sembari melanggar seluruh aturan lalu lintas.

Mirip dengan penonton konser Iwan Fals, pemerintah Orde baru juga was-was melihat kepulan massa melepas hasrat di ruang publik. Karnaval itu juga melabrak aturan suci pemerintah masa itu: ‘ketertiban dan keamanan’. Meski berusaha meredam perilaku ‘menyimpang’ massa kampanye ini, pemerintah Orde Baru tidak pernah sepenuhnya berhasil.

Namun, lanjut Ariel, zaman sudah beralih. Bertahun-tahun kemudian, dunia hiburan yang dibantu media internet menjadi salah satu aspek yang berhasil menundukkan massa. Kini, kekuatan massa ‘liar’ yang ditakuti pemerintah otoriter Orde Baru sudah nyaris lenyap di masa ketika pemilu menjadi lebih bebas. Mereka sudah kian “buyar dan jinak,” tulis Ariel.

Melihat dua jenis karnaval ini, muncul pertanyaan: apakah surutnya ‘politik jalanan’ massa kampanye ini bisa kita terapkan kepada para penonton konser Iwan Fals di masa kini? Karakter keduanya mirip dan muncul semasa.

Saya belum menemukan jawabannya.

***

Terlepas dari masih hidup tidaknya karnaval para penggemarnya, Iwan Fals sepertinya masih belum surut. Menjelang akhir Maret lalu, dua dekade setelah penontonnya membangkang di Lebak Bulus dan beberapa hari sebelum ia diisukan meninggal, Iwan bernyanyi di hadapan penonton yang duduk tertib di dalam studio televisi berlatar glossy. Ia muncul pukul setengah sepuluh Waktu Indonesia Barat—masih prime time, memetik gitar akustik, mengenakan kemeja merah yang dibiarkan tak terkancing dan tergantung di atas jins belangnya yang tak ketat. Ikat kepala hitam melingkari kepulan ubannya.

Sang legenda menyanyi di panggung ‘hiburan’ yang kini didominasi lantunan lagu cinta muda-mudi dari boy band, girl band atau para diva. Malam itu Iwan Fals menciptakan kejutan yang sudah jarang muncul di acara musik televisi. Ia seperti mengirim pesan: zaman sudah beralih, tetapi Iwan Fals tidak. Ia tahu, penontonnya tak hanya duduk di studio. Di luar sana banyak orang akan tergetar, sekaligus terhibur, menyaksikan ia menyanyikan ‘Bongkar’.

Kesedihan hanya tontonan

bagi mereka yang diperbudak jabatan

Ternyata kita harus ke jalan

robohkan setan yang berdiri mengangkang…

*Tulisan ini terbit di Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar, Edisi 3 Juli 2013

Advertisements

One thought on “Pesan dari Iwan Fals

  1. Selalu ada jalan bagi para pendamba demokrasi dan keadilan utk menunjukkan ekspresinya. Iwan Fals pasti tau bahwa keberadaannya telah dijadikan arena bagi para fans setianya. Jadi meskipun zaman berubah, atau pemerintahan berganti arena itu tetap eksis. Sebab arena itu lahir dari kesadaran kolektif anak bangsa yang rindu kebebasan berekspresi misalnya melalui jalan seni.
    Saya suka Iwan dan karya-karyanya. Seperti saya menyukai penulis ini dan mengagumi tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s