Membayangkan Masa yang Menciptakan ‘Layang-Layang’

Cukup banyak orang mengungkap bahwa lagu anak-anak makin buruk, jumlahnya menyusut dan dikhawatirkan membawa pengaruh buruk pada anak-anak. Namun masih sedikit yang bertanya, masyarakat seperti apa yang menciptakan lirik-lirik semacam itu? Lagu ‘Layang-Layang’ dan permainan layang-layang bisa jadi ilustrasi, tentang masa seperti apa yang menopang penciptaannya dan bagaimana ia kian dilupakan seiring berubahnya masyarakat.

Sebagai anak-anak pada sepanjang dekade 1980an, saya dan kawan-kawan masih membuat layangan sendiri. Setiap Agustus, ketika angin barat bertiup kencang di pantai barat Sulawesi, orang-orang akan menerbangkan layang-layang yang seluruhnya bikinan kampung sendiri. Bersama sang merah putih di pucuk-pucuk tiang, karya tangan-tangan kami menari di udara.

Di akhir 1980an, layang-layang jualan mulai menyerbu kota kecil kami. Pelan-pelan, kian banyak anak-anak yang lebih suka membeli daripada membuat sendiri, orang dewasa pun melepaskan tugas mengajari anak-anak membuat layangan. Ingatan kolektif tentang pembuatannya jadi susut. Nyaris bersamaan, serangan lain datang dalam bentuk permainan bermesin dan kelak berkontrol jarak jauh. Pembangunan kota pun membuat tanah lapang untuk menerbangkannya jadi menyempit.

Aktivitas rekreatif anak-anak perlahan beralih menjadi nir-gerak, anti-sosial dan konsumtif, dimanjakan beragam fitur di telepon genggam, tablet, televisi dan berbagai jenis video game. Ruang gerak mereka semakin terkurung teknologi. Bersama permainan rakyat lainnya, layang-layang takluk lalu terkurung di museum dan festival-festival—menjadi tontonan, entah sampai kapan. Perubahan sosial besar-besaran telah terjadi, menciptakan dua kecenderungan yang sungguh berbeda: memproduksi dan mengkonsumsi.

Ini terlihat dalam lirik-lirik lagu anak-anak yang semakin banyak disusupi aspirasi bagian tertentu dari orang dewasa. Setidaknya sejak dua dekade lalu, anak-anak Indonesia mulai dikepung lagu-lagu yang bersenandung tentang bagaimana mengkonsumsi jenis hiburan impor seperti berlibur berkeliling dunia, menonton lumba-lumba, mengendarai mobil, bergoyang samba dan semacamnya. Anak-anak kita seperti diarahkan belajar menikmati dunia tertentu, konsumsi yang butuh uang banyak, sejak usia belia.

Padahal sebelum itu, lagu anak-anak masih ramai dihiasi lirik tentang relasi antar-kawan, cerita tentang guru atau orangtua, mengenai buah-buahan atau permainan rakyat—seperti lagu ‘Layang-Layang’.

***

Sangat sedikit keterangan mengenai ‘Layang-Layang’ di dunia maya. “NN” adalah pencipta lagunya dan mulai dikenal pada tahun 1960an. Itu saja. Jejak paling awal justru saya peroleh dari penuturan Amarzan Loebis, yang mengaku mendengarnya pertama kali ketika ia berusia belasan tahun di pertengahan 1950an—beberapa orang lain menyebut awal hingga akhir 1960an sebagai masa pertamakali mereka mendengarnya. Jadi anggaplah lagu ini dibuat pada paruh kedua 1950an.

Lagu ini merinci sebagian besar proses pembuatan layang-layang, sebuah mainan rakyat yang dulu—saat itu—lebih banyak dibuat sendiri oleh penikmatnya.

Kuambil buluh sebatang

kupotong sama panjang

kuraut dan kutimbang dengan benang

kujadikan layang-layang

Dari lagu ini kita pun tahu bahan-bahan membuat layang-layang, berikut sejumlah jenis pekerjaan yang terlibat di dalamnya. Tak kalah pentingnya, penggunaan kata ganti pertama yang menempel pada berderet kata kerja: ‘kuambil’, ‘kupotong’, ‘kuraut’, ‘kutimbang’, ‘kujadikan’. Ini  menunjukan bagaimana seseorang tidak sekadar mengungkap pengalaman membuat layang-layang tetapi juga sebuah proses kerja yang menghasilkan sesuatu yang nyata, sebuah sumber kegembiraan. Ini sangat jelas membedakannya dengan lirik lagu anak-anak masa sekarang.

Lirik seperti pun ini bisa berperan sebagai manual. Seorang kawan, sebagai seorang bocah di Jakarta pada pertengahan 1960an mengenang bagaimana ia dituntun oleh lagu ini ketika membuat layang-layang. Ia sering membuat layangan sembari menyanyikannya.

Selain memberi petunjuk tentang di mana lazimnya orang bermain layang-layang—tanah lapang yang kian langka di kota-kota, sebentuk kegembiraan yang khas juga terwakili dalam bait lain lagu ini:

Bermain, bermain, bermain layang-layang

Bermain kubawa ke tanah lapang

Hati gembira dan riang

Repetisi kata bermain, dengan melodi ala lagu mars seperti mengekspresikan betapa sang ‘aku’ menikmati hasil kerjanya, menghiasi langit dengan karya tangan sendiri. Honore Balzac, sastrawan Perancis abad ke 18, pernah bilang “seluruh kebahagiaan bergantung pada keberanian dan kerja.” Pengarang lagu ini seperti tengah menerjemahkan nasihat Balzac—yang terkenal berani bekerja berjam-jam dari malam hingga pagi dengan asupan bergelas-gelas kopi. Lirik ‘Layang-Layang’ tidak sedikit pun berisi keraguan. Dengan penuh yakin si aku bekerja mengolah bahan, merakit lalu menerbangkan layang-layangnya. Kenikmatan memuncak setelah melewati proses kerja. Keseluruhan proses ini tentu sulit dirasakan anak-anak yang suntuk memainkan game dari beragam gadget.

Lagu ini menunjukkan betapa kita bisa mengubah dunia, bahwa untuk bergembira kita tak perlu menunggu, kita bisa menciptakan bergembira dengan menghasilkan sendiri sumber kegembiraan itu—yang juga merupakan proses menggembirakan. Bahwa kita dapat memegang kendali terhadap kegembiraan. Pemandangan di mana anak-anak harus merengek kepada orang tua untuk membelikan mobil-mobilan atau pesawat berkontrol jarak jauh, tidak terlukis di sini.

Ini membawa kita pada pertanyaan penting, yang sedang disuntuki banyak ahli sejarah, apa yang terjadi di Indonesia pada dekade 1950an—periode yang melahirkan lagu ini?

Jennifer Lindsay dalam esai pengantarnya di bungarampai ‘Heirs to World Culture: Being Indonesian 1950-1965’ menyebutkan bahwa periode itu adalah masa pembentukan bangsa. Lahirnya sebuah bangsa baru, membuka peluang dan kebutuhan untuk segera mencari arah bagi kebudayaan bangsa baru: ‘Indonesia’. Masa itu penuh janji, “ketika masa depan terlihat penuh dengan kemungkinan.” Masa ketika berbagai pihak terlibat banyak eksplorasi, percobaan dan debat yang dinamis untuk menciptakan sesuatu yang baru.

*Tulisan ini terbit di Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar, edisi 24 Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s