Wajah Lain Musik Kita

Di beranda rumahnya ketika hari sudah gelap, saya menyaksikan wajah lain musik negeri kita. Saya jadi sadar mengapa musik sang pegambus—yang berarti lirik, melodi, gaya penyajian, serta alat musiknya—masih bisa bertahan.

Ia memang mulai memetik gambus kesayangannya atas permintaan kami yang hendak merekamnya. Namun setelah dua atau tiga lagu berlalu, deretan obor bergerak mendekat dari kegelapan, dari dua arah setapak yang belawanan. Mendengar sang maestro bermain para tetangga bergegas dari rumah masing-masing. Tanpa listrik warga dusun itu tak punya tontonan atau musik untuk mereka dengar dari alat elektronik. Malam-malam mereka sering hening.

Beberapa lagu kemudian, kopi panas telah terhidang di hadapan duapuluhan pendengar. Seiring bergantinya lagu, pria wanita, anak-anak hingga dewasa berdatangan. Mereka duduk bersila di beranda dan ruang tamu. Setengah jam kemudian, aroma serabi menaiki rumah panggung sang maestro dari halaman yang telah menjelma dapur untuk perhelatan malam itu. Nyala petromaks dan  teplok memainkan wajah sumringah pemirsa mendengar lirik nakal sang maestro. Di sela-sela lagu mereka bergantian melempar kelakar. Kopi dan serabi terus mengalir.

***

Sebelum dan sesudah malam itu, selama sebulan berada di sana, saya menyaksikan banyak rumah menyimpan gambus. Mereka memainkannya, membicarakannya, tahu siapa saja bisa bermain dengan baik, mirip penggemar musik di kota yang memperdebatkan pemain gitar kesukaan mereka. Mereka pun menceritakan siapa pembuat gambus terbaik, jenis kayu yang menghasilkan gambus terbaik, sebagaimana penggemar musik di kota membicarakan merek gitar terbaik dapat dibeli di toko mana.

Sesekali, anak-anak muda desa itu terlihat lalu lalang menenteng gambus mereka di jalan setapak, sama dengan anak muda kota menenteng gitar atau biola mereka di trotoar.

Di belakang itu, ketiadaan listrik mencegah hadirnya beragam acara televisi, membuat perhatian mereka bisa terpusat ke satu pertunjukan. Apresiasi mereka juga dibentuk oleh absennya teknologi informasi. Mereka punya rentang masa yang panjang untuk menghidupkan dan menempa musik mereka. Musik mereka masih punya pendengar dalam jumlah yang cukup untuk memungkinkan sang maestro mengembangkan kelihaian bermain dan bernyanyi sekaligus menempa musik dan lirik itu sendiri.

Mereka—pemain dan pendengar—kerap menyaksikan penampil lain dari dusun dan desa tetangga dan berbagi pengetahuan serta trik. Sang maestro masih bisa punya banyak waktu luang karena tidak harus dipusingkan berbagai ‘kebutuhan’ ala urban yang mahal. Musik ini bisa hidup karena berbagai kondisi pendukung.

***

Meski tanpa disengaja, kondisi musik rakyat seperti ini bisa dibaca sebagai tindak perlawanan terhadap industri musik, yang menurut Adorno bertanggungjawab menjadikan masyarakat hanya sebagai konsumen musik yang kian seragam. Berkembangnya teknologi baru mungkin dapat menjadi inspirasi dan membantu musik rakyat untuk melanggengkan tradisi bermusik mereka.

Jens Roland, seorang ahli teknologi digital, dalam How to Kill the Music Industry mengamati, alasan utama susutnya keuntungan industri musik adalah karena hilangnya keterbatasan pilihan para konsumen musik dan monopoli teknologi produksi dan konsumsi musik. Pilihan terhadap musik menjadi kian demokratis.

Di masa lalu, orang harus membeli satu album meski hanya menyenangi satu dua lagu di dalamnya, tentu dengan harga mahal. Kini dengan alat produksi (perekaman digital) dan konsumsi (mis. mp3) musik digital yang murah. Ragam musik yang bisa diakses orang pun kian meluas, baik secara geografis maupun genre. Dapat diunduh secara bebas lewat perkembangan teknologi informasi. Teknologi ini seperti membobol pintu air bendungan yang tadinya hanya mengalir ke tempat-tempat yang ditentukan lewat saluran khusus—bagi mereka yang membayar per album.

Kini, pada industri musik justru terlihat “geliat panik sebuah model bisnis yang sekarat, penolakan sebuah industri yang sudah mapan untuk menerima surutnya peran mereka di dunia digital.” Sebab menurut Roland, “pembajakan bukan alasan dan surutnya mereka bukanlah penyakit, tetapi obat” dari monopoli industri musik yang berlangsung cukup lama.

Membaca ulasan Roland kita tergoda untuk memikirkan kerjasama antara teknologi rekaman digital, internet dan para pemusik desa. Saya cukup yakin bahwa sekarang listrik dan telepon genggam telah menjadi bagian kehidupan mereka; dan industri hiburan mungkin sudah berhasil membelokkan selera setidaknya sebagian dari warga di sana. (Semua cerita di atas dikutip dari catatan lapangan saya di sebuah kampung perbukitan di kabupaten Barru pada tahun 2002.)

Namun apresiasi dan pengakuan dunia luar masih bisa menjaga vitalitas bermusik mereka, sebagai produsen maupun konsumen musik gambus. Bila mereka bisa dikenal di dunia luar lewat teknologi informasi dan perekaman yang murah dan bebas, apalagi sampai menginspirasi pemusik dari genre lain untuk mengadopsi sebagian unsurnya—yang bukan tidak mungkin terjadi bila mereka diperkenalkan, maka musik mereka mungkin bisa bertahan lebih lama.

Bukan tidak mungkin mereka bisa membantah praduga setiap jenis musik yang tidak tunduk pada logika komodifikasi musik akan tertindas dan lenyap tanpa bisa melawan. Tapi itu harus diusahakan. Sama dengan praktik budaya lain, musik tidak bisa bertahan dengan sendirinya.

*Tulisan ini terbit di Literasi, Koran Tempo Makassar, edisi 21 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s