Kaki-Kaki di Sungai Boyantongo

September tahun lalu, banjir bandang menyeret ratusan potong kayu gelondongan yang meluncur dari hulu dan menghantam patah jembatan yang menghubungkan kota Palu dan Poso. Sebuah potret dramatis yang menggambarkan tinggalan bencana itu kemudian menghiasi halaman depan sebuah koran nasional: close-up ratusan kayu gelondongan bertumpuk di dekat muara.

Berminggu-minggu setelahnya, ketika saya berada di sana, tampak pemandangan yang lebih menarik. Di samping tumpukan kayu gelondongan yang masih tergeletak dan jembatan yang masih putus, ada ratusan orang menunggu di dua sisi sungai. Mereka adalah pengendara dan penumpang kendaraan yang menunggu giliran diseberangkan.

Setiap sepeda motor yang menyeberang sungai diangkut oleh empat orang pria. Dua pasang pengangkut masing-masing memanggul sebatang kayu besar yang disusupkan di bagian depan dan belakang sepeda motor. Entah berapa ratus sepeda motor yang mereka seberangkan setiap hari. Ini potret penting: kaki manusia kembali menjadi tumpuan alat angkutan umum. Sayang tontonan itu tak lagi muncul di halaman depan.

Tetapi pemandangan itu memaksa saya membuka kembali esai Darmaningtyas, Non-Motorized Transportation: Sejarah dan fakta yang terlupakan, terbit di Jurnal Wacana delapan tahun silam. Di sana kita bisa membaca bahwa kaki sebagai bagian dari alat angkut tak bermotor memang telah lama didiskriminasi—oleh manusia sendiri. Dalam Peraturan Pemerintah saja alat transportasi tak bermotor, termasuk kaki, diganduli banyak kewajiban namun tidak diberi hak apa-apa. Alat angkut tak bermesin mesti memberi jalan, harus minggir, memberi isyarat, dan seterusnya. Tetapi hak apa yang mereka peroleh, peraturan itu bungkam.

Menurutnya, pembangunan jaringan transportasi seperti hendak menghapus seluruh kendaraan tak bermotor. Terjemahan saya:demi melayani kendaraan bermotor, utamanya mobil pribadi, segala sesuatu dikorbankan. Untuk sang pengeran bermotor dibangunlah ribuan kilometer jalan tol (menurut rencana Infrastructure Summit II pada Februari 2005, sepanjang 1.500 km) dilengkapi underpass atau fly-over, tentu dengan menggusur apa dan siapa saja yang menghalanginya. Ruang gerak kendaraan seperti becak dan gerobak dibatasi, jalur sepeda dan trotoar lebih banyak diabaikan.

Angkutan umum juga sama diabaikannya—tetapi terlalu panjang bila dibahas di sini: yang dikelola negara kian susut atau diprivatisasi hingga menjadi mahal dan memaksa orang-orang miskin membeli sepeda bermotor dengan mencicil. Lalu di lampu merah mereka harus berpanas-panas, menghidup debu dan asap, sembari melirik orang-orang kaya bersantai di mobil berpendingin ruangan nan harum semerbak.

Ini mempertontonkan dengan terang benderang bahwa pembangunan sesungguhnya diabdikan hanya untuk kenyamanan kalangan bermobil pribadi; selain bagi alat angkut milik mereka yang bekerja menyerap sumberdaya murah dari wilayah pinggiran.

***

Di tepi sungai itu, sembari menenteng sepatu siap menyeberang, saya menyaksikan bagaimana kaki manusia, alat angkut yang selama ini dianaktirikan berubah menjadi pahlawan. Sementara anak-anak emas pembangunan, lunglai tak berdaya. Ketika muncul hambatan di jalan raya, kendaraan bermesin turut lumpuh. Jalan beraspal dan kendaraan bermesin mirip pasangan kembar siam, bila salah satu mengalami masalah, keduanya akan merasakan akibatnya.

Saat mereka lumpuh, kaki manusialah yang membantu mengangkut mereka. Kaki-kaki yang dianaktirikan itu bisa tetap menggerakkan perpindahan barang dan orang, meski kabar yang tersiar di banyak media massa menyebutkan bahwa sekian kecamatan atau desa menjadi ‘lumpuh’. Kaki-kaki warga desa setempat, beserta kendaraan tanpa mesin lain seperti rakit, bekerja sepanjang hari mengangkut kendaraan bermesin—sudah berminggu-minggu ketika saya berada di sana. Kaki-kaki yang diabaikan itu mungkin telah merasakan kota-kota Indonesia dimana jalanan sering menjadi ruang yang mencemaskan dan tidak nyaman bagi mereka.

Kaki-kaki itu mungkin akan merasa iri dan sedih membayangkan jalanan di negeri sendiri bila bertandang ke kota-kota di luar negeri, di mana semua ruas jalan diperuntukkan bagi seluruh jenis alat angkut. Di Belanda, misalnya, di dua sisi lajur kendaraan bermesin ada jalur sepeda yang tidak boleh dimasuki oleh kendaraan bermesin. Di sisi luarnya lagi ada trotoar yang haram bagi kendaraan bermesin maupun sepeda. Ini bisa terjadi karena mereka dengan berbagai cara membatasi jumlah mobil pribadi. Selain sepeda dan jalan kaki, ada angkutan publik massal: trem untuk dalam kota, kereta untuk luar kota, serta bis untuk dalam dan luar kota. Semuanya nyaman dan tak mahal.

(Wajar bila seorang kawan berkebangsaan Belgia terheran-heran menyaksikan kawan Indonesianya begitu malas berjalan kaki. Seorang kawan sering menunggang sepeda motor untuk ke warung yang jaraknya tak sampai 100 meter.)

Masih menurut Darmaningtyas, dalam esai pengantar edisi Jurnal Wacana di atas, di banyak kota negara maju, gabungan antara pengguna alat angkut tanpa motor dan kendaraan umum selalu jauh lebih banyak dari penggunaan mobil pribadi. Di Groningen Belanda, orang bersepeda dan berjalan kaki mencapai 58%, pengguna angkutan umum 6%, sementara pengguna mobil pribadi hanya 36%. Di Kopenhagen Denmark, angka ini berturut-turut adalah 47% dan 15%, versus 34%. Di Barcelona, 32% plus 39%, versus 29%.

Bila sempat bertandang ke salah satu kota di atas, kak-kaki itu, yang menyeberangkan kendaraan bermotor di Sungai Boyangtongo, dekat Kota Parigi, Sulawesi Tengah, mungkin akan berseru: “Di sini kitorang pe enak, pe banyak orang jalan sama naik sepeda.”

*Tulisan ini terbit di rubruk Literasi, KTM, Edisi 11 September 2013

Advertisements

One thought on “Kaki-Kaki di Sungai Boyantongo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s