Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa

PERJALANAN ke belasan desa selama belasan tahun telah mengajarkan saya tentang satu bahasa. Saya belum pernah menelitinya secara khusus, tak mampu menuturkannya, hanya berjumpa dengannya di banyak tempat, secara kebetulan. Tetapi perjalanan-perjalan itu memberi saya gambaran akan luas wilayah sebarannya. Jauh lebih luas dari yang saya bayangkan sebelumnya.

Pertemuan pertama dengan Bahasa Konjo terjadi tahun 1999. Seorang kawan mengajak saya bertandang ke kampung halamannya yang berada di dekat Tanatoa, lazim dikenal sebagai pusat penutur Konjo, di Kabupaten Bulukumba. Setelahnya, hingga beberapa tahun kemudian, saya bolak-balik ke wilayah itu, di pegunungan maupun pesisir.

Di tahun 2002, saya tiba di sebuah perbukitan yang cukup jauh dari Bulukumba. Jaraknya dari Tanatoa, bila ditarik garis lurus menyilang ke baratdaya, tidak kurang dari 93 km. Desa itu bernama Bulo-Bulo, terletak di Kabupaten Barru.  Mereka menyebut bahasanya sebagai Bahasa Dentong, yang bila ditelisik ternyata sangat dekat dengan Bahasa Konjo.

Saat itu saya belum sadar telah mengunjungi dua daerah yang menandai dua wilayah ujung penyebaran bahasa Konjo: Kabupaten Bulukumba di tenggara dan Kabupaten Barru di baratdaya. Atau bahwa saya telah mendatangi titik pusat dan paling pinggiran penutur sebuah bahasa—bila kita menerima asumsi bahwa bahasa itu berasal dari satu titik di Bulukumba.

Perjumpaan beberapa kali pada tahun-tahun berikutnya memberi gambaran lebih jelas mengenai wilayah sebarannya.

Setahun setelah bertemu Bahasa Konjo di Barru, saya berkunjung ke lembah utara Gunung Bawakaraeng, di Desa Kanreapia, Kabupaten Gowa. Tahun berikutnya saya tinggal dua minggu di sisi timurlaut kaki gunung yang sama, di desa Gunung Perak, Kabupaten Sinjai. Penduduk dua desa itu menggunakan Konjo dan mengidentifikasinya dengan nama tersebut.

Di Gunung Perak saya mulai bertanya kepada warga sampai di mana bahasa ini menyebar. Mereka jawab, bahasa ini menyebar ke barat sampai Desa Kanreapia; dan ke timur hingga ke desa-desa di Kecamatan Sinjai Tengah. Saya pun mendapat gambaran lebih rinci akan jangkauan bahasa ini. Dari Bulukumba, bahasa ini menyebar ke utara dan baratdaya, di wilayah pengunungan di Sinjai dan Gowa. Lalu terus ke utara sampai perbukitan Barru.

Bagaimana dengan kabupaten Pangkep dan Maros? Dua kabupaten ini punya wilayah pegunungan yang mengantarai para penutur Konjo di pegunungan Gowa-Sinjai di selatan dan Barru di utara. Kunjungan saya Desa Tompobulu, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, di sisi utara Gunung Bulusaraung, tahun 2005, menjawab pertanyaan ini. Mereka menuturkan bahasa yang sama. Dari merekalah saya tahu beberapa desa di pegunungan Pangkep, Maros, bahkan Bone, juga menggunakan Bahasa Konjo—sebagai bahasa utama maupun ke dua.

Bagaimana dengan wilayah sebelah barat Bulukumba, yakni di pegunungan Bantaeng dan Jeneponto? Saya menemukan jawabannya ketika berkunjung ke beberapa desa pegunungan di Jeneponto dan Bantaeng, antara 2008 hingga 2010. Di lereng-lereng Gunung Lompobattang itu mereka sehari-hari menggunakan bahasa Konjo, di samping Bahasa Makassar.

PERJALANAN yang merentang belasan tahun itu, saya menyimpulkan: bahasa Konjo menyebar setidaknya di 9 kabupaten: Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Gowa, Sinjai, Pangkep, Maros, Bone dan Barru.

Selanjutnya, bila kita berasumsi bahwa bahasa ini berpusat dan bermula di Bulukumba—yang terletak di ujung tenggara Sulawesi Selatan, maka penuturnya telah menyebar ke arah barat, utara dan barat laut. Sebuah gerakan yang masuk akal mengingat sebelah timur dan selatan kabupaten ini dibatasi laut. Namun satu hal yang sangat menarik dari pergerakan ini: bahasa Konjo hanya menyebar ke wilayah pegunungan. Bahasa ini tidak menyebar ke luar Bulukumba di menuju pesisir.

Bahasa ini seolah menyusuri lereng-lereng pegunungan Sulwasi Selatan, yang bermula di selatan dengan dua gunung kembar—Bawakaraeng dan Lompobattang; sebelum menyusuri perbukitan yang memanjang ke utara, yang kian menyusut dan berakhir di Kabupaten Barru. Dari kabupaten Barru ke utara hingga Sidenreng Rappang pegunungan menyusut dan baru menanjak lagi di Kabupaten Enrekang yang didominasi rumpun Bahasa Toraja.

Gerak persebaran seperti ini membawa saya ke pertanyaan berikutnya: mengapa bahasa ini hanya menyebar di dataran tinggi?

Satu praduga: wilayah pantai selatan di sebelah barat Bulukumba—pesisir Bantaeng, Jeneponto, Gowa dan Makassar—telah didominasi oleh penutur Makassar. Sementara pesisir timur dan barat jazirah didominasi Bahasa Bugis. Dua masyarakat ini sejak lama berorientasi ke laut. Paling tidak bila merujuk kepada sebagian besar pusat kekuasaannya sejak beberapa abad lalu.

Kita tahu dari banyak studi, kekuasaan Gowa mulai mengubah orientasi ke perdaganan laut sejak paruh awal abad ke 16. Lalu, setidaknya sampai satu abad kemudian, menurut William Cummings dalam Making Blood White dan The Chains of Kings, Gowa memastikan dominasi Bahasa Makassar di pesisir selatan lewat perang dan pengintegrasian tradisi tutur dan tulis wilayah sekitarnya ke ‘pusat’, yaitu Sombaopu. Sementara Bahasa Bugis, menurut Christian Pelras dalam Manusia Bugis, telah mendominasi dua sisi pantai propinsi ini setidaknya dari abad ke 15. Sejak masa Addatuang Siang dan Suppa di pantai barat; serta Addatuang Luwu dan Akkarungeng Bone di timur.

Lalu bagaimana rentetan perubahan besar di Sulawesi Selatan—runtuhnya Gowa, berkuasanya pemerintahan kolonial, terbentuknya Indonesia—bisa membatasi sebaran Bahasa Konjo tetap dominan di pegunungan?

Agaknya saya butuh lebih banyak perjalanan, juga teman jalan.

*Tulisan ini terbit di Rubrik Literasi KTM, edisi Rabu 1 Oktober 2013

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa

  1. Saat kecil, kalau perjalanan pulang kampung dari Makassar ke Sinjai, ketika melewati Bulukumba, orang-orang tua sering berpesan, “Berdoaki, hati-hati, jangan sembarang lihat-lihat..”

    *jadi mempertanyakan lagi.

    Laporan perjalanan berikutnya, kak.. ditunggu. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s