Tentang Dua Perempuan

INI kisah dua perempuan, mungkin cocok menemani saat santai anda, di akhir hari yang panjang misalnya, sembari menikmati lembut rasa coklat di lidah.

Perempuan pertama berusia duapuluhan awal. Serupa prajurit yang membakar perahu di pantai, ia maju ke medan perang, bersama suami dan putrinya yang baru masuk sekolah. Mereka menjual satu-satunya sapi peliharaan untuk membeli tanah pekarangan dan satu hektar kebun. Sawah pembagian yang tidak dilirik peminat, mereka tinggalkan begitu saja. Mereka menemukan diri di tanah pembagian yang tak subur bagi banyak tanaman setelah tersingkir dari kampung halaman oleh ketiadaan tanah garapan. Mereka pun memutuskan pindah ke desa di mana kakao bisa tumbuh subur.

Perempuan itu memboyong dapurnya ke kebun. Putri mereka berangkat ke sekolah dari kebun dan pulang kembali ke kebun. Suaminya mengantar-jemput setiap hari hingga anak mereka bisa berjalan sendiri. Mereka tidur di pondok kebun demi menjaga tanaman jagung dari serangan babi hutan. Untuk makanan sehari-hari, mereka menanam sayuran dan cabe, selain jagung. Mereka hanya pulang ke perkampungan lima hari sekali untuk membeli ikan, garam dan bawang—yang tak bisa mereka hasilkan sendiri.

Ia dan suaminya juga bekerja sebagai buruh tani demi mengumpulkan modal untuk apa yang mereka anggap sebagai masa depan: menanam kakao. Memang butuh uang lebih untuk bibit dan merawat pohon kakao muda. Dua tahun setelah pindah, barulah mereka bisa mulai menanam kakao. Sembari menunggu pohon berbuah selama lima tahun, mereka terus bekerja sebagai buruh tani untuk makan sehari-hari, terutama menjadi buruh panen padi di desa sebelah. Beras hanya bisa mereka dapatkan dengan menjadi buruh di sawah.

Setelah tujuh tahun yang berat, masa jaya akhirnya tiba. Ia hanya perlu memetik buah di kebun kakao mereka untuk mendapatkan uang. Ia bisa memilih mengurangi jam kerja dan meningkatkan belanja keluarga. Mereka pun bisa pulang ke rumah dan menikahkan sang anak yang telah beranjak remaja. Masa depan terbentang cerah bagi seisi rumah.

PEREMPUAN ke dua tidak muda lagi, awal limapuluhan. Ia menjadi buruh tani sejak tanahnya habis terjual dalam serangkaian peristiwa yang tak terhindarkan. Kebun terakhir melayang ketika membiayai upacara ngaben menantunya yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Sebagai buruh mereka tidak dapat memilih pekerjaan. Mereka bekerja memetik buah dan menyiangi kebun kakao, memisah daging kelapa dari tempurung untuk bahan kopra dan memanen padi. Dua pekerjaan pertama lebih ringan namun kian langka, dua yang terakhir berat tetapi selalu tersedia. Di samping itu, ia dan suaminya merawat lahan orang lain dengan bagi hasil dan menjadi pekerja upahan. Mereka menjadi buruh di dua sistem sekaligus.

Ia harus bangun pukul lima pagi, kadang setengah lima, untuk beragam tugas pagi. Pukul tujuh ia berangkat ke kebun setelah memastikan dua cucunya berjalan ke sekolah. Ia pulang pukul lima sore. Setelah menyiapkan makan malam dan membersihkan seluruh sisa hidangan, ia istirahat pukul sembilan. Ia bekerja five-to-nine.

Bagi perempuan paruh baya itu masa istirahat hanya datang pada hari-hari sembahyang: saat purnama dan bulan mati, nyepi, galungan, ngaben dan lainnya. Di samping bila ia sakit. Ia pernah terserang asam urat yang memaksanya terapi jamu cukup lama. Saat libur berkebun untuk melaksanakan sembahyang sekalipun, ia akan sibuk menyiapkan sesajen. Sering ia harus bangun di pagi buta untuk itu.

Sebagai buruh harian ia bekerja selama dua atau tiga hari sebelum pindah ke lahan lain. Jadwal kerjanya antara pukul tujuh pagi sampai lima sore. Di satu titik, ketika saya tanyai, ia lelah menghitung jumlah hari kerjanya. Ia hanya menyimpulkan, “mungkin setiap hari, kalau ada yang panggil. Saya tidak pernah menolak lagi, seperti dulu.” Itulah masa depan baginya.

SEMENTARA perempuan pertama tengah menatap masa depan yang gemilang, perempuan kedua lebih suka tidak memikirkannya. Padahal mereka hidup di satu desa dan bekerja untuk komoditas yang sama. Bedanya, mereka hidup di dua masa yang terpisah sekitar dua dekade. Perbedaan nasib mereka hanya mewakili dua titik berbeda di satu garis melingkar: ‘siklus kakao’ menurut Tania Murray Li. Sebuah putaran boom and bust, di mana masa gemilang akan disusul oleh keruntuhan. Dua perempuan itu sesungguhnya orang yang sama.

Untuk masa yang singkat, sekitar satu setengah dekade, ia dan petani kakao lain memang menikmati hasil kerja keras. Namun begitu pohon menua dan ‘pinjaman kesuburan’ hutan—yang mereka ganti menjadi kebun kakao—menipis, beragam penyakit datang, pohon-pohon berbuah dengan malas dan tanah butuh waktu untuk memulihkan kesuburan.

Tapi tak ada satu orang pun yang memberitahu tentang ‘siklus kakao’, agar ia bisa bersiap menghadapi masa surut. Ia bisa saja memberi perlakuan khusus terhadap tanah, menyiapkan tanaman komoditas lain, menabung untuk investasi alih usaha, atau pilihan lain yang dapat mereka kendalikan. Ketika masa itu akhirnya datang tujuh tahun lalu, perempuan itu tak berdaya mencegah keping demi keping tanahnya lepas untuk memenuhi beragam kebutuhan yang tak dapat ia hindari. Setelah bertahun-tahun menguras tenaga mudanya, kembali ia harus bekerja keras ketika ia tidak muda lagi. Entah sampai kapan.

Satu informasi hilang, tanah mereka melayang bersama masa tua yang santai.

Kini ia juga mesti merawat tiga cucu. Lapangan kerja di desa menyusut bersama surutnya kakao, putrinya pun terpaksa meninggalkan anak-anaknya untuk mencari hidup sebagai buruh bangunan di kota. Mungkin tak jauh dari tempat orang-orang menikmati lembutnya rasa coklat di lidah.

*Terbit di Rubrik Literasi KTM, edisi Rabu 13 November 2013

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Dua Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s