Satu Rumah Dua Dunia

Setelah beberapa hari tinggal di rumah itu saya sadar telah berjumpa dua dunia dalam satu rumah. Mereka menyantap makanan dan minum dari sumber yang sama, namun anak dan orangtua seperti menjalani hidup yang berbeda.

Saat sang anak bersiap ke sekolah, ibunya memasak dengan kayu bakar dan merapihkan rumah, sementara ayahnya mengurus ternak atau unggas. Ketika sang gadis berangkat sekolah mengendarai motor, orangtuanya berjalan menuju kebun. Sepulang sekolah, ketika sang anak menikmati tayangan televisi, ibunya bersantai di teras membelah daun pisang untuk bungkusan penganan—setelah pulang dari kebun sambil membawa kayu bakar. Sementara sang ayah masih di luar rumah, mungkin di kebun atau memeriksa saluran air.

Bila sore tiba, ayah masih di kebun atau mengurusi ternak. Ibu mengepulkan asap dapur. Anak bangun dari istirahat siang, menonton televisi atau mengutak-atik telepon genggamnya. Sehabis makan malam, ketika sang ibu sudah berangkat tidur dan ayah ngobrol dengan kawan di beranda, tentang naik-turun harga komoditas, serangan hama, ancaman kekurangan air. Sang putri menghapalkan buku pelajaran, entah tentang tugas-tugas ASEAN atau dewan keamanan PBB. Setelah itu ia menonton sinetron, infotainment atau kompetisi bernyanyi—kadang bersama ibunya yang biasanya lebih cepat berangkat tidur.

Urbanisasi rupanya tak mesti berarti mengalirnya orang desa ke kota-kota, tetapi mengalirnya gagasan, informasi dan barang-barang dari kota ke desa. Orang di desa tidak harus ke kota untuk mengkonsumsi semuanya. Gaya hidup perdesaan dan perkotaan secara bersamaan mengada di satu desa, di satu rumah, bahkan di satu individu.

Individu ini biasanya anak yang pulang dari sekolah di kota, membawa gaya hidup kota, meski masih menjalankan sebagian praktik-praktik orang desa. Di sore hari sebagian muda-mudi ini terlihat sibuk dengan telepon genggam di tepi jalan sembari menikmati pemandangan lembah yang indah. Kadang dengan pasangan masing-masing, mereka bersantai di atas atau di dekat motor. Mereka pun kerap terlihat memacu motor mondar-mandir di jalan utama desa, yang membuat seorang tetua menyimpulkan: “mereka naik motor bolak-balik, tak ada yang dijemput tak ada yang diantar.” Bagi sang tetua, kendaraan lebih merupakan alat angkut ketimbang alat rekreasi atau alat pamer.

Tetapi anak-anak muda desa ini memang tengah mondar-mandir mengangkut ketakpastian. Orang tua mengirim mereka ke sekolah karena tidak melihat lagi masa depan menjanjikan di kebun—yang terus menerus dikorbankan oleh berderet kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan produktifitas, terutama untuk ekspor, ketimbang kesejahteraan petani. Mereka pun mengirim anak bersekolah dengan sedikit pengetahuan mengenai mutu pendidikan kita, dan sedikit tahu tentang apakah sekolah bisa menjamin pekerjaan yang layak untuk putra-putri mereka. Orang tua desa tak banyak tahu bahwa sebagian kampus menjual pendidikan sebagai komoditas dengan mutu kian menurun, atau mutu tinggi dengan harga selangit. Isi pelajaran umumnya juga pelan-pelan menjauhkan mereka dari kerja memuliakan tanah.

Para orangtua di desa cuma tahu, bertani dengan tanah yang kian susut tidak enak, karena harus berpayah-payah untuk mendapatkan hasil yang tak seberapa. Saya sering mendengar orangtua petani mengatakan betapa enaknya bekerja kantoran. Mereka tidak keliru. Profesi petani mirip sapi perahan. Bedanya petani cuma diperah namun tak diasupi ‘pakan’ yang cukup. Mereka masih dibiarkan hidup hanya agar bisa terus diperah. Mereka membayar terlalu mahal sembari menerima bayaran terlalu rendah dari orang kota untuk produk-produk mereka. Wajar bila angka orang miskin di desa nyaris dua kali lipat ketimbang di kota, 18 juta lebih versus 10 juta lebih, menurut data Badan Pusat Statistik 2013.

Akhirnya memang populasi keluarga petani berkurang 5 juta dalam sepuluh tahun, demikian menurut Sensus Pertanian 2013. Mungkin satu sebabnya adalah tidak semua anak muda yang pulang ke desa masih bisa atau rela menjadi petani. Tetapi, mereka yang tak pernah meninggalkan desa sekalipun sering sulit bertani, atau hanya menjadi buruh tani (bukan ‘petani’ menurut kategori Sensus Pertanian), karena kurangnya ladang garapan buat mereka. Pengangguran atau semi-pengangguran, kentara atau tidak, masih sekolah atau menganggur, merebak di desa. Boleh jadi, merekalah yang setiap sore lalu-lalang dengan motor di jalan desa. Orang-orang lalu menamai perilaku mereka sebagai ‘kenakalan remaja’.

Padahal yang terjadi adalah ‘perpanjangan masa kanak-kanak’, seperti yang ditemukan Ben White di Jawa. Sekolah, terutama hingga tingkat tinggi, membuat banyak anak muda sulit mengakses pekerjaan. Mereka terhambat melakukan kerja produktif yang menghasilkan uang. Ini membuat ketergantungan finansial anak muda terhadap anggota keluarga senior berlangsung lebih lama. Bersamaan dengan itu kebutuhan mereka juga menanjak dengan adopsi gaya hidup baru—baik yang tak bisa dihindari maupun bersifat konsumtif. Ketiadaan pekerjaan dan peningkatan kebutuhan kemudian menjadi sumber ketegangan di antara anggota keluarga senior dan anak muda.

Perbedaan gaya hidup itu sendiri juga mencipta ketegangan-ketegangan lain. Seperti ketika seorang ibu kesal melihat anak gadisnya tak mampu melakukan tugas sederhana seperti menebas daun pisang di kebun dekat rumah; atau kepala sekolah yang khawatir melihat anak didiknya sibuk memelototi telepon genggam—yang ia duga sedang menonton film porno.

Memang, ketegangan serupa juga terjadi di rumah-rumah orang kota. Tetapi di desa, orangtua kerap tak paham atau sulit mengakses dunia baru anak-anak mereka.

Tulisan ini terbit di Rubrik Literasi,  KTM, Edisi Rabu 4 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s