Tentang Sebuah Peribahasa Lama

Metafor hidup dalam keseharian kita, tulis George Lakoff dan Mark Johnson dalam Methaphors We Live By. Ia ada dalam tutur dan tindakan kita. Sistem konseptual yang mengarahkan cara berpikir kita juga menyetir tindakan-tindakan kita, yang sering tidak kita sadari. ‘Aturan-aturan’ itu bersifat metaforik. Contoh, konsep ‘kehidupan’ di masyarakat kita kerap tampil lewat metafor ‘perjalanan’. Ini dapat kita lihat, misalnya, dalam peribahasa “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”

Dalam peribahasa ini ‘kehidupan’ diandaikan sebagai perjalanan yang terbagi dalam dua fase. Bagian awalnya memakai rakit melawan arus—yang dulu menggunakan galah bambu—menuju hulu; agar di kurun berikutnya dapat merasakan nikmatnya berenang dengan bantuan arus menuju hilir. Peribahasa ini menjadi salah satu ajaran tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup: seseorang mesti berangkat dari kesusahan untuk berakhir dengan kesenangan. Konseptualisasi kehidupan semacam ini perlu kita geledah sebab menyimpan beberapa persoalan, terutama bila kita mengingat fungsinya sebagai ajaran.

***

Dalam peribahasa ini kondisi awal ditampilkan sebagai sesuatu yang benar-benar terpisah dan berbeda dari kondisi yang hendak dicapai. ‘Bersakit-sakit’ sungguh berbeda dengan ‘bersenang-senang’ dan mewakili dua titik berbeda dalam garis perjalanan hidup seseorang. Di dalam masa awal hidup seseorang, misalnya, seharusnya tidak ada bersenang-senang, karena itu hanya terjadi di kemudian hari. Sebaliknya, ketika semestinya orang bersenang-senang, masa bersakit-sakit sudah lenyap. Artinya, dalam proses seseorang ‘menjadi’, seseorang diandaikan tidak akan (atau tidak boleh?) melihat kesenangan di dalamnya.

Sehingga ketika anda bekerja keras di masa awal hidup, itu hanya untuk masa depan yang menyenangkan. Anda tidak diharapkan merasakan kesenangan di masa ‘bersakit-sakit’. Anda tidak seharusnya menikmati proses ketika anda sedang merakit ke hulu. Salah satu dampaknya, bila kita tarik ke dalam relasi antar-generasi, kita sering mendengar seloroh paternalistik ala Orba bahwa anak muda seharusnya ‘mengisi pembangunan’ dengan bekerja keras, anak muda semestinya tidak boleh bersenang-senang, dan semacamnya. Masa muda memang harus berat bila ingin bersenang-senang nanti di masa tua. Seperti merakit ke hulu dengan galah bambu, sambil melawan arus pula.

Maka bila terjadi tawuran antar-pelajar, yang disalahkan adalah anak-anak itu sendiri. Jarang terdengar suara yang menyorot proses belajar-mengajar di sekolah yang mungkin membosankan, isi pelajaran yang boleh jadi kurang relevan, atau kondisi lingkungan sosial yang barangkali morat-marit—yang seluruhnya adalah bentukan orang dewasa. Kenapa? Karena orang dewasa diandaikan sudah melakukan segalanya—sudah melewati fase bersusah-susah—sehingga tidak layak dipersalahkan.

Namun yang tak kalah pentingnya, peribahasa ini berpotensi memandang rendah proses awal dari perjalanan hidup. Proses awal itu diandaikan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak dapat diciptakan atau dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia hanya cara untuk mencapai kesuksesan. Tak ada proses awal yang menyenangkan, melainkan hanya mendahuluinya. Konsepsi ini dapat menciptakan orang-orang pendendam, baik yang memendam amarah terhadap masa lalu yang “susah”, untuk ia lampiaskan di masa selanjutnya. Atau mengandaikan bahwa setiap orang tidak dapat menikmati pekerjaannya sehingga di akhir hari mereka berseru, “sekarang saatnya bersenang-senang” atau “work hard play hard.”

Kita hanya bisa mengenang masa awal itu sebagai sesuatu yang dibutuhkan, setelah ia berlalu; bukan sesuatu yang bisa dinikmati saat seseorang mengalaimnya. Jadi, dalam proses untuk mengejar kesenangan (sering disebut “cita-cita”) wajar bila anda mengalami kesusahan; setelah itu wajar pula bila anda bersenang-senang. Seperti sebagian orang yang merasa berhak mendapatkan yang bukan haknya sekalipun, karena merasa sudah “bersusah-susah” di masa muda.

***

Di banyak acara publik, terutama yang beraroma ‘motivasi’, para ‘tokoh’ diundang, dengan tajuk semacam from zero to hero, from nobody to somebody atau from rags to riches. Individu-individu itu kerap dianggap berhasil karena punya ketenaran, jabatan atau kekayaan, atau gabungan di antara dua atau seluruh kualitas tersebut. Narasi tentang hidup mereka sering mengikuti rumus peribahasa ini. Mendengar mereka, sulit menampik kecurigaan bahwa dongeng mereka menyembunyikan bagian-bagian yang tidak sesuai dengan logika peribahasa ini. Kondisi menyenangkan di masa “berakit-rakit ke hulu”, apalagi yang berasal dari keculasan, biasanya disembunyikan rapat-rapat.

Saya bahkan pernah menyaksikan orang yang tidak pernah atau kurang merasakan kesusasahan mengarang cerita tentang betapa susahnya ia meraih kesenangan yang ia nikmati kelak. Orang-orang semacam ini kerap mempertontonkan ketololan dengan menuturkan kisah masa susahnya yang samasekali tidak susah bagi orang-orang susah, yang bisa mengalami kesusahan hidup lebih parah—kadang hingga sepanjang hidup mereka. Dengan kata lain, menurut standar orang susah, kesuasahannya itu tidak ada apa-apanya dan sangat singkat.

Terakhir, melihat penggunaannya di masyarakat umum, peribahasa ini cenderung merujuk ke arah individualitas keberhasilan: keberhasilan harus diraih sendiri dan untuk diri sendiri, atau paling jauh untuk orang-orang dekat. Logika peribahasa ini, setidaknya dalam penggunaannya sehari-hari, seperti melewatkan keberhasilan kolektif dan soal ketimpangan. Peribahasa ini bahkan bisa tampak menyalahkan korban: seseorang menjadi miskin karena ia tidak cukup bersusah-susah, tidak bekerja keras di masa muda, alias malas. Penyebab orang menjadi miskin lebih karena kualitas pribadi ketimbang kerja struktur sosial di mana mereka menjadi bagian.

*Terbit di rubrik Literasi KTM Edisi 11 Desember 2013

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Sebuah Peribahasa Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s