Sebuah Pantai yang Menciptakan Kecemasan

Melintasinya di siang kemarau sekalipun, anda akan teringat kata teduh. Jalan itu beralas bebatuan gunung, diapit rimbunan pohon, hanya disela rumah di beberapa titik. Di ujungnya anda akan berjumpa pantai, dua atau tiga ratus meter lebarnya. Pasirnya menyala menyambut matahari terbit, ombaknya membentur pantai, gesekan dedaunan tertiup angin. Sesekali dari kejauhan terdengar suara ibu memanggil anaknya dari satu dua rumah di sudut pantai. Selebihnya adalah keheningan.

Tetapi semua itu hanya ada ketika sang pantai sedang bebas tugas. Pemerintah desa sudah memutuskan, pantai itu dibuka sebagai tempat melancong. Orang-orang dari desa sekitar segera datang menghibur diri saban akhir minggu. Pelancong dari tempat yang cukup jauh juga tiba, kadang dalam jumlah besar dengan menumpang truk. Mereka melompat turun dari bak truk terbuka, segera berlari ke laut, dengan baju masih terpasang atau sudah dilepas buru-buru.

Mereka bergembira, meniru adegan romans di film-film—pemandangan tabu bagi warga setempat, membuang sampah di mana suka, serta menebar kebisingan dari beragam jenis mesin. Tak jarang mereka juga saling tukar pukulan, tendangan, bahkan lemparan batu. Kendaraan-kendaran yang datang ke pantai itu dari tempat berbeda, mereka membongkar muatan sekaligus menyalakan perkelahian.

Para wisatawan memang sulit ditagih untuk bertoleransi. Mereka datang ke pantai itu untuk membuang segala kepusingan, yang mungkin sudah menumpuk sedikitnya selama seminggu. Mereka ingin bersenang-senang, dengan gaya masing-masing, dan pantai wisata itulah tempatnya. Di Bali sekalipun, yang telah mahir menerima pelancong sekian dekade dalam jumlah besar, kita masih mendengar tentang wisatawan mabuk di tengah jalan, meninggalkan remah daging bebek goreng yang berhamburan di atas meja makan, atau bercinta di pura pada hari raya Nyepi. Mereka juga gemar mengeluh untuk beragam remeh-temeh. Perkelahian mungkin ada juga.

Desa itu pun bukan pengecualian. Penghuninya harus siap menerima kedatangan mobil, motor, orang, sampah dan keributan. Setiap hari libur tiba, sebagian warga segera terserang kecemasan. Dan itu bukan hanya mereka yang tinggal di sekitar pantai. Keluhan warga pun mengalir ke telinga pemerintah desa, yang segera berjumpa dengan tembok yang kukuh. Bahkan ketika peristiwa sebelumnya masih ramai di warung-warung atau sumur umum, kejadian mencemaskan berikutnya muncul lagi. Pemerintah desa tetap pada pendiriannya. Rupanya, gelar ‘daerah tujuan wisata’ memang membanggakan bagi sebagian orang.

Saya pernah dengar seorang aparat desa bilang, kami bangga terkenal punya pantai tempat melancong.

Dalam sebuah bincang sore di beranda rumah kepala desa, ia telihat sangat yakin dengan rencananya untuk mempromosikan pantai itu kepada wisatawan luar negeri. Saya lebih banyak terdiam—sering terjadi bila beragam pikiran menyergap bersamaan. Kelihatannya ia kurang paham, apa yang diinginkan wisatawan mancanegara di pantai yang menerima limpahan sampah setiap minggu, akses jalan pengerasan yang licin di musim hujan dan berdebu saat kemarau, masyarakat yang muslim taat dan wisatawan lokal yang gemar saling melontar batu? Belum lagi keluhan warganya, terutama bahwa tidak lama lagi salah satu lemparan batu itu akan mengenai warga setempat, dapat melecut pengusiran terhadap para pelancong, perkelahian antar-desa dan seterusnya.

Selama berbincang dengannya, saya seperti melihat seorang arsitek yang tengah menggambar tanpa pernah mengunjungi lokasi atau punya sedikitpun informasi tentang itu. Ia seolah tengah dikuasai gambaran akan para pelacong yang bersantai di pantai Kuta atau Senggigi. Lalu tak kuasa menampik khayalan bahwa pantai-pantai seperti itu, dengan wisatawan mancanegara yang berseliweran, juga akan hadir di desanya. Ia seperti hidup di dalam dunianya sendiri. Sungguh sayang bagi tetangganya, ia punya kuasa untuk menjadikan mimpinya sebuah kenyataan.

Sulit melenyapkan bayangan klise tentang bagaimana obsesi penguasa bisa menghancurkan hidup rakyatnya. Soeharto yang sejak kecil mendambakan ingin punya kebun dan peternakan, kelak dapat mewujudkannya setelah merampas tanah sekian banyak petani di Tapos, sebagaimana dituliskan Anton Lucas dan Dianto Bachriadi dalam Merampas Tanah Rakyat. Meski sang kepala desa lahir, besar, kemudian berkuasa di desanya; angan-angannya berkembang jauh, dengan sedikit kendali dari kenyataan di sekelilingnya. Tetangganya, warga desa yang dipimpinnya, boleh tidak nyaman terhadap perwujudan angan-angannya, tetapi itu seolah bukan masalah baginya.

Ia memang sangat mencintai desanya, berkali-kali ia menyebutkannya dengan berbagai cara, sengaja atau tidak. Tidak ada keraguan, ia ingin melihat desanya “maju”, yang berarti membuat desanya terkenal. Tetapi ia juga sangat cinta pada cita-citanya, dan sedang berusaha menyatukan keduanya: cinta pada desa dan cita-citanya. Untuk itu, ia mengabaikan tetangga yang tidak nyaman terhadap kenyataan yang dihasilkan oleh khayalannya. Ia seolah tak melihat kenyataan bahwa setelah dibangun sebagai harapan, pantai itu justru menjelma kecemasan bagi sebagian tetangganya.

Mengenang kembali pantai itu, saya sulit menghilangkan bayangan tentang bagaimana sesuatu berjalan menuju kehancuran saat ia dituntun oleh orang yang mencintainya.

*Terbit di Rubrik Literasi, KTM, Edisi Rabu 18 Des 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s