Lily Menjawab Kritik dengan Cerita

Buku kumpulan cerpen Makkunrai karya Lily Yulianti Faried seperti menjawab beberapa kritik atas cerpen (koran) Indonesia. Kritik yang mana saja?

Kritik yang mengatakan bahwa sastra yang ditulis dengan semangat memperlihatkan ‘warna lokal’ sering menjadikan tradisi lokal sebagai tempelan, yang bila dihilangkan tidak akan mengubah nasib cerita. Dalam cerpen ‘Makkunrai’, tokoh kakek yang digambarkan secara komikal merupakan perwakilan tipikal kelas elit Sulawesi Selatan bentukan Orde Baru, yang merupakan hibrida feodalisme lama dan otoritarianisme baru. Warna lokal di sini mengambil bentuk historis: struktur masyarakat hierarkis yang memadukan pranata kekuasaan baru dan lama, yang bermula sejak awal masa Orde Baru, sebagaimana digambarkan Susan Millar dalam buku hasil penelitian etnografinya, Pernikahan Bugis. Sementara penggunaan pernik kepercayaan lokal semisal bakal bandelnya anak yang lahir ketika adzan jumat berkumandang, ditampilkan sebagai cara lama untuk menafsir fenomena baru (pemberontakan seorang cucu perempuan terhadap kakeknya). Keyakinan ini digambarkan sebagai alat untuk mendiskreditkan pemberontakan tokoh Makkunrai terhadap kakeknya yang memaksa menikahkannya dengan pria bangsawan pilihan sang kakek.

Cerpen-cerpen Lily bahkan melampaui harapan kritik warna-lokal-sebagai-tempelan dengan meloncat dari satu ke lain latar dimana satu tokoh membawa sekaligus pencampuran aspirasi, pengetahuan, bahkan kepercayaan dari berbagai tempat yang ia pungut dari tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Ini paling kental terlihat di cerpen ‘Api’. Ini merefleksikan perkembangan peradaban di mana setiap individu bisa saja mengadopsi cara berpikir dan identitas yang jamak; bahwa teknologi yang memudahkan interaksi fisik dan virtual antar-manusia membuat identifikasi individu secara sederhana, semisal berdasarkan etnis atau agama, kian sulit untuk dipertahankan. Dan itu bukan hanya terjadi pada level individu. Seolah menjawab kritik para antropolog Marxis, Lily tidak memisahkan secara tajam ‘komunitas tradisional’ sebagai unit amatan dari lembaga modern seperti ‘negara’, seperti banyak dilakukan antropolog budaya masa lalu yang meneliti di Indonesia seperti Clifford Geertz. Persentuhan warga dengan negara paling tampak dalam cerpen ‘Dapur’.

Kritik tentang sastra koran yang isinya kerap paralel dengan isi berita koran juga dijawab Lily dalam beberapa karya. Salah satunya dalam cerpen ‘Keluarga Pengkhayal’, di mana Lily menyempal berita di koran-koran tentang wabah flu burung yang cenderung menyalahkan si virus atau bahkan para korban, sebab kerap berhenti pada statistik atau deskripsi tentang ayam dan manusia yang mati. Dengan menyelam lebih dalam, cerpen ini tiba pada suasana batin sebuah keluarga yang mesti bertahan seusai menutup warung tempat gantungan hidup mereka karena telah dicap sebagai penebar virus berbahaya. “Warung nasi harus ditutup. Untuk apa dibuka bila yang datang hanya petugas berbaju putih dan orang-orang yang memanggul kamera.”

Dalam ‘Keluarga Pengkhayal’ Lily menunjukkan bagaimana bencana hanya bisa terjadi oleh perpaduan antara ancaman (virus flu burung) dan kerentanan keluarga yang hanya mengandalkan hidup pada warung mereka. Ini sebuah teori kebencanaan yang relatif baru dikenal di Indonesia bersamaan dengan perkembangan diskursus kebencanaan pasca tsunami Aceh dan gempa Yogyakarta-Jawa Tengah. Mengikuti argumen berbagai studi di ranah ini—salah satunya Piers Blaikie dan koleganya dalam At Risk, Lily menunjukkan bahwa ketika bencana terjadi (dalam kasus ini flu burung), orang miskin menjadi pihak yang paling rentan terpapar dampaknya. Mereka tidak menjadi rentan begitu saja dan setelah bencana mereka tidak langsung bisa pulih. Sebelum dan sesudah bencana banyak kisah yang layak kita ketahui.

***

Katrin Bandel menyulut perdebatan besar beberapa tahun lalu ketika menyebutkan bahwa karya-karya penulis perempuan tertentu menerima pujian berlebihan dari kritikus sastra tertentu, yang justru merugikan. Salah satu pujian itu menyatakan bahwa para penulis perempuan itu telah mendobrak tabu dengan menuliskan kisah-kisah tentang tubuh mereka secara detil dan terbuka. Salah satu akibatnya, mereka—berikut para pengikut yang muncul kemudian, mengulang-ulang hal yang sama dalam waktu cukup lama. Mereka asyik bergumul dengan detil tubuh dan mengabaikan isu-isu perempuan lainnya. Kesempitan tematis ini dijawab Lily dengan mengisahkan berbagai respon perempuan terhadap isu-isu yang lebih luas. Cerpen ‘Dapur’ misalnya bicara tentang respon tiga perempuan berbeda terhadap perilaku korup pegawai negeri. Hal serupa juga muncul dalam cerpen ‘Koruptor di Rumah Nenek’. Isu lain adalah poligami, keterasingan orang-orang di ibukota Jakarta, hingga perempuan di wilayah konflik.

Kritik Bandel lain yang tak kalah pentingnya adalah cerpen Indonesia sering hanya bermain bentuk sehingga mengabaikan pembaca ‘awam’. Bila ini diterapkan ke beberapa cerpen Lily, maka beberapa cerita dalam kumpulan ini terasa bisa menjadi sasarannya. Cerpen ‘Keluarga Pengkhayal’ dan ‘Api’ misalnya, bisa menyulitkan pembaca yang kurang perpengalaman berhadapan dengan perpindahan latar tempat dan waktu yang tidak biasa. Tetapi untuk menerapkan kritik ini secara memadai terhadap kumpulan Makkunrai butuh ulasan lebih luas. Kita mungkin perlu menimbang sejauh mana pembaca ‘dikorbankan’ oleh permainan bentuk itu, serelevan apakah permainan itu dalam menyokong cerita, dan sejauh apa cerita-cerita itu melampaui level bermain yang dimaksudkan Bandel.

Konteks kritik-kritik di atas lebih ditujukan kepada sastra koran Indonesia, yang ekspektasi pembacanya boleh jadi berbeda dengan karya yang dihimpun dalam bentuk buku. Dari keseluruhan cerpen di buku Makkunrai, hanya dua yang pernah terbit di koran dan keduanya telah mengalami perombakan berarti. Boleh jadi, inilah salah satu alasan mengapa seranai cerita Lily bisa menjawab sebagian kritik tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s