Bermukim di Lereng Maut

Sembilan belas orang meninggal, ratusan mengungsi, puluhan rumah dan gedung amblas atau tertimbun, demikian pula puluhan hektar lahan. Pada Juni 2006, longsor melindas desa itu. Tak lama setelahnya seorang pejabat kabupaten melempar tuduhan: bencana alam itu terjadi karena warga pegunungan merambah hutan. Warga korban yang tinggal di pegunungan termasuk di dalamnya.

Bila warga korban longsor naik pitam mendengarnya, mereka punya alasan kuat. Bencana ini terbangun oleh berderet musabab yang datang ke kampung mereka sejak setengah abad silam, seluruhnya sulit disebut sebagai proses alamiah maupun sesuatu yang mereka hela.

***

Pada mulanya adalah perang gerilya. Di paruh awal 1960an, ketika suhu pertempuran DI/TII di bawah Kahar Muzakkar versus pemerintah Indonesia sedang meninggi, warga desa itu dipindahkan dari setidaknya dua cekungan lembah yang landai, menuju lereng-lereng terjal dimana jalan raya melintas. Ini strategi militer memudahkan pengawasan, memotong suplai dan komunikasi antara pasukan gerilya Kahar dan warga.

Sejak itu warga harus melupakan pemukiman awal mereka, kampung mereka. Pemukiman awal mereka kemudian ditutup pemerintah menjadi hutan negara. Warga dilarang tinggal di sana, mereka yang mencoba kembali akan diusir, rumah mereka dibongkar. Mereka juga dilarang mengelola lahan milik mereka yang ada di dalam kawasan hutan. Fasilitas publik seperti jalan, sarana kesehatan dan pendidikan, tentu saja tidak boleh dibangun di kawasan hutan lindung, seandainya warga masih memaksakan diri tinggal di sana.

Mereka harus belajar hidup di lereng dengan kecuraman antara 30-70 derajat. Di sana mereka bermukim dan bertani, termasuk di lereng-lereng curam yang mendominasi desa baru mereka.

Pada dekade 1980an dua pendatang baru tiba: pinus dan kakao. Hutan negara ditanami pinus oleh pemerintah dalam rangka program reboisasi. Kakao masuk oleh kampanye pemerintahan Orde Baru untuk meningkatkan devisa ekspor non-migas. Pasar kakao dunia memang sedang mencari lahan baru akibat turunnya produksi kakao di Afrika Barat yang beberapa tahun sebelumnya dilanda perang dan kekeringan, dan karena Indonesia tengah mencari ganti devisa ekspor migas yang susut karena jatuhnya harga minyak dunia. Tania Li dalam eseinya, Local histories, global market: Cocoa and class in upland Sulawesi menyebutkan bahwa pemerintah menyokong alih fungsi lahan seluas 3 juta hektar menjadi perkebunan antara 1971 hingga 1986, demi “target ekspor nasional”. Tahun 1990, Sulawesi Selatan menjadi penyedia lahan kakao terbesar di Indonesia, dan 17 tahun kemudian masih menjadi penyumbang produksi kakao terbesar di negeri ini–bahkan setelah berpisah dengan Sulawesi Barat.

Dua jenis pohon ini mengubah lanskap desa. Pinus adalah pohon digdaya sekaligus rakus. Warga mengatakan, gerombolan pohon ini meminum sangat banyak hingga mengeringkan beberapa mata air. Hasilnya, mereka tumbuh hingga tinggi-besar dengan bobot yang berat. Ini menambah beban yang harus ditopang oleh lereng. Mereka pun berkembang biak dengan cepat sembari menyingkirkan tumbuhan lain disekitarnya. Saat ini sepertiga luas desa itu sudah ditutupi pinus.

Sementara kakao adalah tanaman manja. Ia harus dirawat dengan telaten, diberi makan pupuk, dipangkasi, seluruh tanaman yang bisa menjadi saingannya harus disingkirkan. Ia tak suka hidup bersama tanaman dan tumbuhan lain. Ia dimanja karena dapat mendatangkan uang yang lumayan bagi petani, tapi tidak untuk masa yang lama. Begitu beranjak tua, 15 tahun, ia jadi rentan penyakit dan hama serta malas berbuah—sesuatu yang kurang diketahui petani karena kakao adalah tanaman baru bagi mereka.

Kedua tanaman ini menyusutkan keanekaragaman hayati yang tadinya menutupi lereng. Sementara pinus menyingkirkan beragam jenis pohon di hutan, kakao menyingkirkan tanaman musiman seperti beras dan jagung. Kini hanya tersisa sedikit sawah. Banyak dari petani harus membeli beras untuk makan sehari-hari.

Dominasi dua pohon ini juga menciptakan permukaan tanah yang begitu mulus dari rumput, ilalang, maupun beragam pohon yang dibutuhkan untuk melindunginya. Terkurasnya air di bawah permukaan menciptakan rongga dan permukaan yang minim pelindung mendatangkan persoalan serius bagi lereng. Bila hujan turun dengan curahan yang tinggi dalam durasi singkat, segera air dapat menelusup ke bawah permukaan, dan pada titik jenak tertentu, mencitakan beban sekaligus melembekkan tubuh lereng.

Beban yang berat, tingkat kemiringan lereng, stuktur tanah dan curah hujan, merupakan perpaduan yang menciptakan longsor. Maka ketika hujan mengguyur berhari-hari pada bulan Juni 2006 (mungkin pertanda dari perubahan iklim?), tanah yang menopang lereng dengan cepat menjadi jenuh dan tidak sanggup lagi menahan beban yang berat. Longsor pun terjadi.

***

Dua jenis ruang yang ditempati pohon itu—hutan negara dan perkebunan—menguasai nyaris seluruh wilayah desa. Kawasan hutan menutupi setengah desa dan kakao sepertiganya. Ini menyisakan sedikit ruang landai untuk dijadikan tempat tinggal. Karena itu rumah warga banyak berkerumun di tepi jalan raya, di lereng-lereng terjal.

Bagi petani kecil dan yang tak punya lahan—jumlahnya mendominasi desa, mereka tidak dapat pindah ke tempat yang lebih aman karena tingginya harga tanah pekarangan karena langkanya tanah landai yang tersisa. Mereka pun tak berminat pindah ke luar desa karena itu berarti kehilangan penghidupan yang sudah mereka kenali dengan baik. (Mereka pun punya pengalaman buruk terhadap relokasi).

Sementara itu, satu-satunya solusi untuk kakao yang menua adalah peremajaan. Masalahnya, tanah yang sudah sekian tahun dipupuki sudah nyaris tak punya nutrisi untuk diserap pohon-pohon baru. Untuk itu tanah harus diistirahatkan, tetapi dari mana para petani bisa bertahan paling tidak lima tahun sebelum pohon-pohan baru mulai berbuah?

Dalam kesadaran penuh akan datangnya longsor susulan, banyak dari warga korban membangun ulang rumah mereka di tempat yang sama atau sedikit bergeser. Mereka seolah menunggu longsor datang lagi menerjang mereka.

*Terbit di rubrik Literasi KTM, edisi Rabu 19 Februari 2014, merupakan versi pendek dari esei yang akan terbit di Jurnal Wacana Edisi 31.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s