Warisan dari Masa Achmad Amiruddin

MENELUSURI literatur ilmu-ilmu sosial tentang Sulawesi Selatan dalam bahasa Inggris, sebuah fakta menarik mencuat. Banyak dari penulis kepustakaan itu mulai meneliti di masa Achmad Amiruddin memimpin Universitas Hasanuddin dan Sulawesi Selatan, 1973-1993. Ratusan studi mereka kemudian terbit sebagai buku, bab dalam bungarampai, maupun artikel di jurnal-jurnal internasional.

LEONARD Andaya yang menulis buku penting tentang sejarah politik Sulawesi Selatan abad 17, The Heritage of Arung palakka (terbit 1981), datang tahun 1974. Setahun setelahnya, Susan Millar tiba di Soppeng untuk menulis disertasi tentang pernikahan Bugis, kemudian terbit sebagai Bugis Wedding (1989).Menyusul tak lama kemudian, Terance Bigalke, yang mengunjungi Toraja untuk meneliti sejarah sosial masyarakat Toraja di awal abad 20. Di samping Bigalke, beberapa peneliti lain seperti Toby Volkman, Roxana Waterson dan Kathleen Adams, juga mengkaji masyarakat Toraja di masa nyaris bersamaan.

Christian Pelras, antropolog Perancis, yang menerbitkan magnum opus-nya, The Bugis (1996), memang datang sejak 1969, namun penelitiannya merentang hingga lebih 3 dekade kemudian. Kerja penelitian ini juga kian marak dengan keberadaan Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial di Universitas Hasanuddin, dimana Anthony Reid dan Pelras pernah bekerja.

Di Makassar Anthony Reid antara lain memperkenalkan keunggulan dua generasi pemimpin istana Gowa pada abad ke 17. Kurun studi Reid dan Andaya (Gowa abad 17) kemudian dilanjutkan Heather Sutherland, yang menerbitkan kajian-kajian mengenai Kota Makassar di abad 18. Para ilmuan ini, bersama lainnya seperti Anton Lucas dan Greg Acciaioli, juga menyumbang dalam bungarampai tentang sejarah, ekonomi dan politik masyarakat Sulawesi Selatan, Authority and Enterprise among the peoples of South Sulawesi (2000).

Reid, Sutherland dan Bigalke juga berkontribusi dalam sebuah antologi tentang perbudakan, Slavery, Bondage, and Depency in Southeast Asia (1983).

DI sepanjang dekade 1980an, kedatangan para peneliti asing tidak surut. Kathryn Robinson melakukan penelitian lapangan untuk buku yang kelak banyak menjadi rujukan kajian ekonomi-politik, Stepchildren of Progress (1986), di mana ia menelisik nasib warga di sekitar tambang nikel Soroako.

Thomas Gibson, antropolog Rochester University AS, meneliti di Bulukumba pada akhir 1980an. Kelak ia menulis dua jilid buku yang mengupas berlapis-lapis narasi yang berpengaruh di masyarakat Sulawesi Selatan sejak kurun pra-Islam. Ia meneliti dan menganalisis cerita-cerita pendirian unit politik di masyarakat Makassar dan potongan La Galigo (And the Sun Pursue the Moon [2005]), kisah Syekh Yusuf, Datu Museng, hingga kitab Barzanji (Islamic Narratives and Authority in South East Asia [2007]).

Dari Belanda, dua peneliti muda datang pada dekade ini. Roger Tol, kelak menjelma ahli sastra Bugis, meneliti naskah Tolo’ Rumpa’na Bone (Cerita Runtuhnya Bone)—kemudian naskah Bugis lain seperti La Galigo; dan sejarawan Willem Ijzereef yang meneliti relasi kelas sosial dan politik di Bone awal abad 20.

Menjelang akhir masa Achmad Amiruddin menjabat gubernur, datang beberapa peneliti yang juga akan menuliskan karya-karya penting. Antara lain, Gene Ammarell, peneliti etnografi yang kini mengajar di Ohio University, menghabiskan dua tahun di pulau-pulau kecil di Selat Makassar untuk menulisBugis Navigation (2000). David Bulbeck, arkeolog berkembangsaan Australia, melakukan penelitian arkeologi Perang Makassar yang hasilnya sungguh mengesankan.

Sementara William Cummings, sejarawan dari Yale University, meneliti naskah lontara Makassar. Ia antara lain menerbitkan Making Blood White (2002), sebuah kajian tentang peralihan bentuk kesadaran sejarah orang Makassar setelah datangnya aksara.

 

PARA peneliti mancaneraga itu telah memberi sumbangsih untuk memahami gerak sejarah dan budaya Sulawesi Selatan lewat berbagai cara. Untuk menulis bukunya, Leonard Andaya, misalnya, mesti belajar membaca lontara berbahasa Bugis dan Makassar—selain arsip pasukan VOC dan sumber lainnya. Karena itu, ia membutuhkan guru. Kita bisa membayangkan bagaimana kebutuhan mereka melecut kerja-kerja intelektual di Sulawesi Selatan.

Boleh jadi, kedatangan mereka juga membuat lebih marak diskusi sejarah dan budaya yang dilakukan para ilmuan kita. Saat itu sudah ada Mattulada, Andi Zainal Abidin Faried atau Abu Hamid, yang sering menjadi narasumber para peneliti mancanegara. Salah satu peristiwa penting yang mereka galang adalah debat publik untuk mengganti nama kota dari Ujung Pandang kembali menjadi Makassar. Ketika itu, studi-studi tentang sejarah Makassar telah banyak terbit sebagai buku maupun artikel.

Ian Caldwell yang datang untuk meneliti bajak laut Bugis, berbelok menulis disertasinya tentang sepuluh naskah Bugis. Ia menemukan bahwa naskah-naskah lontara Bugis sulit diandalkan untuk menafsir masa pra-Islam wilayah ini. Kelak bersama para arkeolog, termasuk mahasiswa dan dosen arkeologi Universitas Hasanuddin, ia mengembangkan proyek penelitian arkeologi bernama OXIS, yang antara lain menerbitkan monografi berjudul Land of Iron (2001).

Beberapa peneliti semisal Campbell Macknight, Heather Sutherland dan Ian Caldwell juga mendatangkan mahasiswa-mahasiswa bimbingan mereka untuk meneliti di Sulawesi Selatan.

Kedatangan dan kolaborasi mereka dengan peneliti tanah air merupakan anugerah tersendiri. Kita tahu, oleh berbagai sebab, para peneliti universitas kita jarang punya kemewahan untuk dapat meneliti satu fokus tertentu dalam jangka panjang. Sehingga, sampai tingkatan tertentu, kita masih harus bergantung kepada hasil kerja jangka panjang institusi dan peneliti asing.

Kini, sebagian besar buku hasil penelitian yang disebut di atas telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan hingga taraf tertentu, telah melecut dialog dengan para ilmuan dan intelektual yang datang kemudian—dari tanah air maupun mancanegara. Sungguh, kita telah mewarisi harta amat berharga, rangkaian kepustakaan yang ditempa di masa emas Achmad Amiruddin.

 

*Terbit di Rubrik Literasi, KTM, Edisi 26 Maret 2014

 

Advertisements

One thought on “Warisan dari Masa Achmad Amiruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s