Gempar di Kaki Gunung Bulusaraung

Malam minggu kemarin, saya berjumpa seorang kawan yang baru pulang dari sebuah desa di kaki Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Ia bercerita….

Petani itu sudah putus asa. Sapi peliharaannya sudah tiga atau empat hari sakit dan hari itu adalah puncaknya. Sapinya sudah tiba di ujung hidup. Tak seorang pun yang ia kenal di desa itu sanggup mengatasinya.

Untungnya hari itu seorang peternak dari sebuah desa di Kediri sedang berada di desanya. Ia datang dalam rangka pelatihan pembuatan pakan dari limbah organik. Purnomo, nama peternak itu sempat menjadi bahan gunjingan kami di watsapp, sebab kawan yang menjemputnya di bandara tidak mengenalinya. Kawan ini menyangka yang datang adalah orang lain dengan nama ‘Purnomo’.

Di sepanjang tiga ratusan kilometer perjalanan menuju desa pertama dari dua yang akan dikunjungi untuk pelatihan itu, si kawan terus bertanya-tanya, apakah Purnomo sanggup mengajari orang-orang desa membuat pakan ternak?

Tetapi Purnomo menjawab keraguan itu–bahkan melebihi harapan.

Pagi hari ketika sedang berjalan-jalan menyapa warga desa–ia tiba malam–sebelum memulai pelatihan, seorang ibu melaporkan seekor sapi kerabatnya yang sakit. “Yang punya sapi sudah mau memotongnya,” kata ibu itu. Mereka segera menjenguk kandang sapi itu.

Di sana mereka menemui sapi itu terbaring lemah, mulut dan hidungnya berlendir. Pemiliknya melaporkan, “Ia sudah tidak mau makan. Kencing juga tidak.”

Purnomo segera menjelma tabib. Ia meminta segepok cabe, minyak kelapa, beberapa siung bawang putih dan sedikit garam. Ia meramunya dan mengusapkannya ke sekitar mulut dan selangkangan sapi itu. Tak sampai setengah hari sapi itu sudah bersedia makan dan kencing, lendirnya mengalir deras hingga tandas. Ia pun sudah bisa berdiri. Seluruh dusun gempar!

Sementara nama dan keahliannya menyebar dari mulut ke mulut, ia sudah mengajari warga desa bagaimana membuat pakan ternak dari bahan yang mudah dan murah diperoleh warga desa yang rata-rata petani, utamanya menanam padi dan kacang tanah–beberapa tanaman lain seperti jagung dan kakao juga ditanam dalam skala kecil. Bagi petani desa itu, ternak adalah tabungan untuk kebutuhan uang tunai dalam jumlah besar, atau kebutuhan mendadak.

Siang hingga sore itu, Purnomo menunjukkan cara mencampur limbah-limbah pertanian seperti kulit kacang, jerami padi, dedak, bonggol jagung, hingga kulit kakao. Semua diramu dengan bumbu-bumbu yang mudah diperoleh di desa seperti kunyit, jahe dan temulawak.

Sore itu juga, beberapa petani segera mempraktikkannya–dan senang melihat sapi mereka menikmati pakan baru itu dengan lahap. “Kayaknya saya harus cari kesibukan baru,” seloroh Najamuddin, satu dari sekian petani yang segera menerapkan resep Purnomo. Sebelumnya ia harus menghabiskan beberapa jam setiap sore setelah mengurus sawah dan kebun demi mengumpulkan rumput bagi sapi-sapinya.

Ia pun tak khawatir lagi menghadapi sapi yang sakit dengan gejala serupa. Di perjalanan pulang dari kandang itu, Purnomo mengungkap diagnosanya kepada Najamuddin. Sapi itu “sebenarnya hanya flu biasa, tapi terlambat ditangani.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s