Mengenang Kota Parepare

Saat itu saya begitu sibuk menggoyang lonceng kecil mencoba menarik perhatian pembeli es lilin di Pelabuhan Kota Parepare. Sebuah karier singkat yang berakhir setelah lemari es rumah kami tak mampu membekukan apa-apa.Saya terlalu kecil untuk tahu, seabad sebelumnya pelabuhan itu sedang sibuk mengiriman dua komoditas penting dari Celebes: kopi dan budak.

Saya hanya menikmati pekerjaan itu. Sepulang menjual, jatah es lilin dan upah untuk jajan sudah menunggu, entah jualan habis atau bersisa. Seabad sebelumnya, mungkin orang-orang malang di geladak phinisi atau lambo sedang bertanya-tanya akan seperti apa nasib mereka setiba di pelabuhan tujuan. Entah Surabaya, Semarang, Batavia atau Singapura.

Orang-orang malang itu tidak lagi sempat menyaksikan kota pelabuhan itu berumbuh, yang seabad kemudian punya Pasar Lakessi, di mana nenek punya lapak kecil untuk menjual beras. Usai sekolah saya kadang datang ke sana untuk menemani nenek. Bila ia hendak shalat atau sedang ada urusan di luar lapak, entah berbelanja atau menemui kawannya, ia meminta saya menjaga jualannya.

Jadilah saya penjual beras termuda–saat itu berusia delapan atau sembilan–di jajaran lapak itu, setidaknya untuk sepuluh sampai lima belas menit.

Pekerjaannya cukup mudah, semua pembeli sepertinya sudah tahu berapa harga jualan nenek saya. Tinggal memasukkan beras ke dalam literan, meluruskan permukaan takaran dengan tongkat pendek silinder berbahan kayu, lalu memasukkannya ke kantong plastik–liter demi liter. Mereka membayar, uangnya saya selipkan ke bawah karung yang melapis keranjang pandan yang menjadi wadah beras jualan. Pekerjaan selesai.

Saat nenek datang, saya tinggal melaporkan jumlah beras yang berhasil saya jual. Hadianya, benno’ (berondong jagung) atau kue putu saat pulang. Luar biasa senangnya.

Kadang saya dan kawan-kawan datang ke pasar hanya untuk berenang. Kami selalu mendatangi ujung dermaga kayu kecil di belakang jajaran warung yang setengah badannya berdiri di atas laut. Di sana kami melepas seluruh pakaian dan menyerahkan tubuh ke pelukan air asin bercampur sampah dan lumpur pasar.

***

Kopi dan orang-orang malang itu, sering ditukar dengan komoditas lain yang tidak kalah berbahaya: senapan. Mungkin seperti yang sering saya tonton ketika diajak ayah ke bioskop, di kota tempat mereka dipertukarkan sebad sebelumnya.

Saya ingat ada empat bioskop di Kota Parepare. Bioskop Surya paling sering saya kunjungi. Di sana pertamakali saya menonton Superman, Spiderman, Bruce Lee dan Jacky Chan. (Entah mengapa saya tidak pernah menghapal judul-judul film Hong Kong itu).

Sebagai anak kecil, bioskop adalah sensasi. Seperti ada aliran energi yang membengkakkan seluruh tubuh–seolah angin kencang sedang mengamuk di bawah kulit–ketika berjalan melewati pagar besi antrian, menyerahkan tiket, lalu menyusuri lorong tengah sambil menatap layar maha besar.

Bioskop Ras dengan spesialisasi film India paling jarang saya datangi karena tidak tahan kepanasan menonton dengan durasi tiga sampai empat jam. Padahal harganya lebih murah.

Beranjak SMP dibuka dua bioskop lain: Pare Theatre dan Benteng. Ketika itu, ritual ke bioskop sudah saya lakukan bersama kawan atau seorang diri. Di Pare Theatre saya menonton film-film Indonesia semisal seri Catatan Si Boy dan film mandarin yang dibintangi pendatang baru seperti Chow Yun Fat, Andy Lau atau Simon Yam.Tapi di Bioskop Benteng lah saya paling banyak menikmati film mandarin.

Kini seluruh bioskop itu telah tiada, sama dengan perdagangan kopi dan budak yang pernah ramai seabad sebelumnya. Saya pun telah berpindah ke kota di mana pelabuhan dagang lebih besar berada, Makassar.

Sesekali saya masih terkenang pelabuhan, pasar, jalan-jalan sempitnya yang bersih atau warung-warung makanan dari berbagai tempat di Nusantara. Tetapi kenangan itu nyaris tak punya bukti fisik lagi. Wajah Kota Parepare telah berubah, nyaris total.

Seperti ketika kau menoleh ke belakang, hendak mencari jejak dari masa lalu, dan tidak menemukan apa-apa di sana.

Advertisements

2 thoughts on “Mengenang Kota Parepare

  1. Deddy says:

    Pare Theater sekarang telah di sulap jadi sebuah cafe,Mohn Infota di mana bisa saya bawakan undangan launchingnya agar bisa berbagi sejarah pare teather sama saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s