Mengapa Petani Chiapas Angkat Senjata

Lawrence Alschuler menulis sebuah analisis menarik tentang pemberontakan petani kecil Chiapas. Kajian itu terbit tahun 1999 di Jurnal Estudios Interdisciplinarios de America Latina y el Caribia

Membutuhkan empat syarat sebelum para petani angkat senjata melancarkan perlawanan berskala besar. Demikian menurut Alschuler, setidaknya dari pembacaan saya. Empat syarat itu adalah: satu, meluas dan menumpuknya kekecewaan petani kecil; dua, kemampuan mengorganisir diri petani kecil–yang cukup otonom dari tuan tanah; tiga, hadirnya gerakan politik tandingan dari kalangan “elit pinggiran”; empat, kegagalan kalangan elit penguasa mengatasi krisis.

Di bawah ini uraian ringkasnya, satu per satu.

(1)

Kekecewaan mendalam petani Chiapas mengarah kepada musuh yang sama, pemerintah yang didominasi partai penguasa (Partai Revolusi Terlembagakan, PRI). Mereka mengeluarkan berbagai kebijakan dan manipulasi yang memberatkan petani, terutama dalam dua soal: tanah dan politik.

Tetang tanah, para petani miskin antara lain mengeluhkan kesulitan mengakses tanah dan kebijakan pertanian yang diskriminatif. Sekitar 41% penduduk Chiapas, satu juta orang, hidup dari mengolah tanah komunal dan ejido. Tanah komunal ini milik desa sejak masa sebelum penjajahan Spanyol dan dikelola secara bersama. Ejido juga milik desa, hasil rampasan dari tuan-tuan tanah pemilik hacienda di masa Revolusi Mexico (awal abad 20) yang kemudian dibagikan kepada dan dikelola oleh rumah tangga petani. Mereka paling banyak memproduksi jagung dan kopi.

Empat tahun sebelum perlawanan bersenjata pecah, sebanyak 91% ejidatarios (penggarap ejido) Chiapas memproduksi jagung.

Masalah mulai muncul ketika terjadi komersialisasi pertanian dalam kadar tinggi. Produksi menjadi lebih banyak untuk dijual. Petani menjadi rentan terpapar fluktuasi harga. Setelah krisis utang menghantam Meksiko tahun 1982, badan pemasaran pemerintah rontok, tidak sanggup lagi menjamin pembelian produk petani dan menyalurkan kredit. Lima tahun berikutnya, harga kopi susut setengahnya ketika Organisasi Kopi Internasional gagal mencapai kesepakatan mengenai kuota produksi. Di saat yang sama terjadi inflasi besar-besaran (83% antara 1989-1993) yang melambungkan ongkos produksi pertanian. Antara tahun 1989 dan 1993, ribuan petani kopi Chiapas bangkrut dan meninggalkan ladang kopi.

Petani jagung mengalami nasib serupa. Di akhir dekade 1980an harga jaminan pemerintah kalah mendaki oleh inflasi dan ongkos produksi. Kelak, “hukuman mati” dari NAFTA (Kesepakatan Perdagangan Bebas dengan Amerika Utara) datang pada tahun 1994: dukungan harga terhadap jagung harus dicabut berganti harga pasar internasional, berbagai halangan impor jagung juga harus ditanggalkan pemerintah Meksiko. Ini memukul jatuh petani jagung. Banjir impor jagung murah dari AS dan Kanada menyerbu pasar-pasar Meksiko di mana 2/3 jagung Chiapas dijual. Jagung petani kecil dengan ongkos produksi yang kian mahal tentu kalah bersaing dengan produsen raksasa dari negara-negara raksasa.

Tahun 1992 sebuah aturan pertanahan baru diberlakukan. Tujuannya, menarik minat swasta untuk lebih banyak berinvestasi di sektor pertanian. Bagi petani kecil, itu sebuah bencana baru. Salah satunya, petani penggarap ejido diberi hak membeli, menjual, menyewakan atau menggadaikan ejido dan tanah komunal. Bagi petani kecil yang terbelit utang akibat naiknya ongkos produksi dan hilangnya jaminan harga, ujung dari aturan ini adalah terhimpunnya kembali tanah di tangan segelintir tuan tanah.

Lahan-lahan komunal yang tadinya masih bisa mereka garap akan menjadi milik pribadi para penguasa tanah.

Tentang politik, para petani mengeluhkan hak-hak politik mereka yang dibenamkan. Bentuknya mulai dari minimnya pengaruh petani atas pengambilan keputusan publik, kurangnya tanggapnya negara atas keluhan mereka, hambatan-hambatan dalam mengatur urusan sendiri, hingga tindakan represi aparat.

Ini bisa terlihat pada pelaksanaan “Solidaridad”, sebuah program anti-kemiskinan yang mengurusi pengangguran, kurang gizi dan buta huruf. Program ini diluncurkan pemerintah Meksiko untuk ‘menghaluskan’ dampak NAFTA dan kebijakan pertanian lain yang memukul petani kopi dan jangung–sebagaimana disebut di atas. Tentu program ini tidak menyentuh persoalan pemasaran dan produksi, pusat masalah petani kecil Chiapas. Dananya tidak memadai, penyalurannya pun bermasalah. Oleh para pejabat dan politisi lokal, dana bergulir itu disalurkan kepada para pendukung mereka.

Tumpukan kekecawaan petani kecil pun bertambah.

Bagi para petani tunakisma (tak berlahan), para buruh perkebunan kopi dan tebu, soalnya lain lagi. Pada 1970an-1980an mereka banyak melakukan aksi menuntut para tuan tanah untuk menaikkan upah, perbaikan kondisi kerja dan hak-hak pekerja lainnya. Ketika tidak digubris mereka melakukan pendudukan tanah perkebunan dan meminta redistribusi tanah. Respon pemerintah ada tiga. Satu, meredistribusi tanah setelah membayar kompensasi kepada pemilik tanah. Namun kecenderungan umum yang tampak, pemerintah menyelesaikan persolan tanah bagi organisasi petani yang berafiliasi dengan partai berkuasa (PRI) ketimbang organisasi petani yang independen. Dua, membiarkan masalah tak terselesaikan. Tiga, represi. Polisi dan paramiliter milik tuan tanah dilaporkan bahu-membahu “menyerang demonstran, menangkap dan membunuh pemimpin petani dan mengusir paksa pelaku pendudukan.”

Semua itu menumpuk dan meluaskan kekecewaan petani kecil terhadap pemerintah. Tapi itu belum cukup buat angkat senjata. Mereka butuh kemampuan mengorganisir diri.

(2)

Dari mana datangnya kemampuan petani Chiapas mengorganisasikan perlawanan–prasyarat lain dari bangkitnya perlawanan petani? Dalam kasus Chiapas, ini datang dari dua pihak: organisasi gereja dan gerakan “politik untuk rakyat” berhaluan Maois.

Para misionaris, protestan maupun katolik, sudah bergerak di Chiapas beberapa dekade sebelum perlawanan bersenjata pecah. Pergerakan gereja untuk perjuangan rakyat dimulai pada dekade 1960an, bagian dari berkembangnya teologi pembebasan. Pada 1970an, peluang pengorganisasian skala besar terbuka. Dalam rangka menyiapkan sebuah kongres memperingati 500 tahun meninggalnya Bartolome de la Casas, biawaran Dominikan pertama yang tinggal di Chiapas, pada tahun 1974, pemerintah Chiapas meminta gereja membentuk kelompok-kelompok diskusi warga. Mereka mendiskusikan isu penguasaan tanah, pemasaran, pendidikan dan kesehatan. Di dalam kelompok-kelompok inilah terjadi pembelajaran politik yang menawarkan perspektif baru dalam melihat kemiskinan dan ketimpangan. Kelompok-kelompok warga petani ini tidak berafiliasi dengan partai berkuasa (PRI) dan tidak berada di bawah kangkangan tuan tanah.

Sementara kelompok gerakan Maois terbentuk selama pergerakan mahasiswa tahun 1968 di Mexico City, ibukota Meksiko. Mereka adalah jaringan nasional yang tengah bekerja membentuk basis massa untuk perjuangan tanpa kekerasan menuju sosialisme. Mereka juga bekerja dengan para penggarap ejido Chiapas untuk menuntut hak atas tanah. Hasilnya, sejak itu serikat petani ejido mengembangkan kemampuan mengorganisir diri. Dengan cepat mereka bisa berhimpun dalam jumlah besar untuk berbagai keperluan. Ditempa berderet pembiaran, represi dan pendidikan politik, mereka kian radikal dan terorganisir.

Tetapi perlawanan petani kecil berskala besar tidak cukup hanya dengan menumpuknya kekecewaan dan kemampuan mengorganisir diri.

(3)

Syarat lain kebangkitan dan bertahannya perlawanan petani Chiapas adalah keterlibatan gerakan politik kaum elit pinggiran (marginal elites). Mereka menjadi simpul pengikat gerakan-gerakan lokal petani yang berserak dengan tujuan-tujuan lokal. Mereka menawarkan ideologi dan program yang dapat mengarahkan perlawanan menjadi gerakan berskala nasional.

Pemimpin “Pasukan Zapatista untuk Pemebebasan Nasional” (EZLN) berasal dari kalangan elit pinggiran. Subcomandante Marcos, pemimpin EZLN, diperkirakan berasal dari Chiapas, bisa jadi jebolan fakultas kedokteran atau seorang pendeta yang pernah tinggal di AS. Disebutkan pula, dia dan lima orang kawannya datang ke Chiapas pada tahun 1983 untuk memulai gerakan gerilya. Pada 1 Januari 1994, gerakan Zapatista mengumumkan perang terhadap pemerinah Meksiko, menuntut turunnya presiden Salinas de Gortari dan menawarkan program-program perbaikan. Mulai dari reforma agraria, pusat-pusat kesehatan, fasilitas publik (jalan, listrik, air bersih), sekolah, reformasi sistem peradilan, pemilihan bebas dan demokratis hingga pengadaan sebuah “pemerintahan transisi yang demokratis”.

Program-program ini menyentuh sekitar 40% rakyat Meksiko yang berada di bawah garis batas kemiskinan.

Maklumat EZLN ini juga menarik minat gerakan politik elit marjinal lain di luar Chiapas: Partai Revolusi Demokratik (PRD), saat itu dipimpin putra mantan presiden Lazaro Cardenas, dengan konstituen buruh perkotaan, warga miskin pedesaan dan kalangan intelektual. Mereka baru saja kalah dari PRI dalam pemilihan presiden 1988 dan gubernur Chiapas tahun 1994. Pada Mei 1994, para pemimpin PRD dan EZLN mendeklarasikan solidaritas, menyebutkan punya banyak kesamaan tujuan, namun tidak menyatakan telah beraliansi.

Pada bulan Agustus tahun itu, di wilayah kekuasaan Zapatista, diadakan Konvensi Demokratik Nasional. Delapan ribu delegasi dari seluruh Meksiko hadir untuk membentuk gerakan refomasi politik berskala nasional. Ini membuktikan kian berkembangnya gerakan politik sempalan. Februari 1995, pada sebuah unjuk rasa besar-besaran di Mexico City, pemimpin PRD Cuauhtemoc Cardenas mencuat sebagai pemimpin gerakan politik tandingan terhadap partai penguasa PRI. Ia juga didaulat sebagai pemimpin gerakan untuk demokratisasi, sebuah aliansi diam-diam dengan gerakan Zapatista.

Kemampuan gerakan Zapatista dan petani kecil Chiapas bertahan dari serangan balik pemerintahan yang didominasi PRI sangat bergantung kepada hadirnya beragam kekuatan tandingan ini. Tetapi itu belum cukup.

(4)

Ledakan dan bertahannya perlawanan petani kecil Chiapas juga melibatkan kegagalan elit penguasa mengatasi krisis–dalam konteks saat itu krisis politik dan ekonomi. Di bawah ini adalah deretan krisis, secara kronologis, yang gagal diatasi partai penguasa Meksiko.

Selain memulai NAFTA, Meksiko juga harus mengadakan pemilihan umum pada tahun 1994. Sementara pemberontakan Zapatista berhasil memaku perhatian publik terhadap pelanggaran hak asasi manusia pemerintahan yang didominasi PRI di semua level, pada Maret 1994 terjadi pembunuhan terhadap Luis Donaldo Colosio, kandidat presiden dari PRI. Kejadian ini diduga karena persaingan internal PRI. Ketika Ernesto Zedillo dari PRI menduduki kursi presiden pada bulan Desember, ia memaksakan terpilihnya calon gubernur PRI di Chiapas, meski ditentang Zapatista sebagai pemilihan curang.
Beberapa kejadian itu kelak melecut krisis susulan.

Februari 1995 Zedillo mengklaim Zapatista sebagai gerakan teroris dan mengirim pasukan untuk menangkap Subcomandante Marcos. Pasukan itu ditarik keesokan harinya¬† karena memancing ledakan demonstrasi sekitar 100.000 pendukung Zapatista di Mexico City. Hari itu juga di Negara Bagian Jalisco, terpilih gubernur dari partai oposisi (Partai Aksi Nasional, PAN)–sesuatu yang langka. Masih di Februari, Presiden Zedillo ditekan untuk mencopot gubernur wakil PRI di Chiapas dan mengadakan pemilihan ulang. Laporan pembunuhan Colosio mengungkap keterlibatan petinggi PRI, disusul penangkapan perancang pembunuhan itu, saudara mantan presiden, Raul Salinas de Gortari.

Deretan krisis politik ini membuat pemerintah dan militernya–yang masih kuat dan loyal–sulit bergerak untuk menggencet perlawanan Chiapas.

Tapi itu baru setengah krisis yang harus dihadapi penguasa Meksiko. Pada Desember 1994 krisis ekonomi dimulai. Para investor asing yang meragukan kemampuan Meksiko mengatasi utang beramai-ramai menjual saham mereka dan meninggalkan negeri itu. Surutnya investasi asing dan pelarian modal ke luar negeri menghisap cadangan devisa, dari 30 miliar dolar di awal tahun menjadi hanya 6 miliar dolar di akhir tahun.

Februari 1995, bersamaan dengan memburuknya krisis politik, AS memberikan paket utang sebesar 70 miliar dolar. Nilai Peso Meksiko terus susut ketika Zedillo mengumumkan program-program tangan besi seperti kenaikan harga layanan publik dan pemotongan dana proyek-proyek publik.

Kebijakan-kebijakan ini memancing munculnya pertanyaan tentang kedaulatan negara: semuanya dirancang di luar negeri oleh para pengutang agar Meksiko bisa membayar utang luar negeri. Tekanan terhadap kedaulatan ekonomi ini diiringi ancaman terhadap kedaulatan wilayah negara. Zedillo terus ditekan IMF dan AS untuk merebut kembali kendali atas wilayah kekuasaan Zapatista. Soalnya, salah satu janji Meksiko kepada para pengutang adalah jaminan pendapatan minyak buat PEMEX oil, sementara banyak dari properti perusahanan itu ada di… Chiapas.

Semua krisis ini, politik maupun ekonomi, kelak terus menggelinding dan mengurangi kekuatan PRI dan pendukungnya. Di Zolaco, plaza utama di Mexico City, pada 1 Mei 1995, 200.000 orang berkumpul menantang kebijakan Zedillo dan menuntut dia turun dari kursi presiden. Di bulan November, Raul Salinas de Gortari didakwa atas rancangan pembunuhan Ruiz-Massieu, Sekretaris Jendral PRI, sementara ipar Raul ditangkap di Swiss ketika mencoba menarik 115 juta dolar dari sebuah rekening bank.

Pada 1997, kondisi kian memburuk bagi PRI. Mantan presiden Calos Salinas de Gortari mengasingkan diri ke Irlandia. Cuauhtemoc Cardenas pemimpin PRD terpilih sebagai walikota Mexico City–biasanya dianggap sebagai batu loncatan sebelum menjadi presiden. PRI kehilangan kursi mayoritas di parlemen. PAN memenangkan tiga dari enam pemilihan gubernur.

Sementara di Chiapas, EZLN telah berhasil membawa Zedillo ke meja perundingan untuk menandatangani program reforma agraria yang baru pada tahun 1996. Beberapa kotapraja baru juga dibentuk di wilayah kekuasaan EZLN dan menjalankan seluruh fungsi pemerintahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s