Satu Pagi di Sebuah Ruang Baca

Begitu melewati pintu masuk gedung, kau akan melihat televisi berlayar tipis tertempel di dinding kanan. Sembari mengibas dingin musim semi dari jaket, kau bisa melihat keseharian dunia tropis di sana. Pedangang kaki lima dengan celana pendek, kaos dan sendal menjajakan baso atau rokok, beragam jenis angkot lalu lalang di pasar atau terminal–real time dari Surabaya atau Maluku.

Sudah sejak beberapa minggu saya melihat tayangan itu ada di sana, membawa suasana hangat dan ramai dari kampung. Sebagian rindu terbayarkan. Hari itu, seperti biasa, saya memasukkan koin 50 sen untuk menyimpan jaket dan tas di locker sebelum masuk ke Ruang Baca perpustakaan KITLV, Lembaga Kajian Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, Leiden.

***

Saya langsung menuju meja pelayanan menyerahkan kartu anggota kepada seorang ibu yang sudah tiga puluh tahun lebih bekerja di sana. Dia memeriksa sekilas kartu itu, menghilang di balik dinding di belakang mejanya, lalu menyerahkan buku yang telah saya pesan lewat katalog online dari Den Haag. Ia pasti sudah menyiapkan tiga buku itu ketika saya dalam perjalanan ke Leiden.

Hari itu saya tidak segera balik mengejar kereta, saya ingin membaca sambil menunggu waktu janjian.

Semua barang di Ruang Baca itu lazim ditemukan di sebuah perpustakaan. Kursi dan meja baca, buku tertata di rak, pemancar mikrofilm, komputer katalog. Tapi apa yang mereka sajikan adalah koleksi terlengkap di dunia yang bisa dipunyai satu perpustakaan tentang Indonesia di luar negeri. Buku terbaru sampai naskah tua, foto dan pamflet, poster dan CD, kartu pos, peta, majalah, masih banyak lagi.

Di hari lain, saya ingat menemukan kumpulan cerpen Ugoran Prasad di rak ‘koleksi terbaru’, mengambilnya, lalu memilih salah satu kursi yang menghadap jendela besar. Pemandangan Kanal hadapannya selalu bisa menyusutkan kebosanan. Saya menyelesaikan beberapa karya Ugo, sesekali jeda memerhatikan camar melintas atau hinggap di tepi kanal. Dahaga membaca cerpen terbaru Indonesia terpuaskan.

Sejak itu rak koleksi terbaru lebih sering menjadi tujuan pertama saya. Seperti hari itu ketika saya menemukan lagi kumpulan cerpen lain–saya lupa karya siapa–dan membacanya sambil menunggu waktu janjian.

***

Pada jam istirahat siang, saya naik ke lantai dua–persis di atas Ruang Baca perpustakaan, mengunjungi kantor Sirtjoo Koolhof, seorang peneliti sastra Bugis. Saat itu ia sedang menduduki salah satu posisi di perpustakaan KITLV.

Sirtjoo menunjukkan beberapa buku dan naskah tua tentang Sulawesi Selatan–koleksi pribadinya. Salah satunya, buku kecil terbitan Singapura tahun 1820an, edisi terjemahan Inggris dengan penjelasan singkat “Ade Allopi-loping“.  Naskah sumber buku itu ialah kodifikasi aturan dagang antar-pulau yang dibuat Amanna Gappa, pemimpin masyarakat Wajo yang tinggal di Makassar pada pertengahan abad 18.

Ini pertemuan luar biasa, setidaknya bagi saya. Buku kecil itu telah mengarungi ribuan mil dan menunggu hampir dua abad sebelum saya bisa melihatnya secara langsung. Saya hanya pernah melihat keterangan tentangnya di jajaran daftar pustaka sejumlah buku lain. Mungkin saya tidak bisa menemukannya di tempat lain.

“Kau bisa meminjamnya di perpustakaan. Kami punya koleksinya.” Sirtjoo menjawab pertanyaan yang belum sempat saya ajukan.

Kami tengah mencoba menemukan makna beberapa larik elong (puisi yang dilagukan) berbahasa Bugis ketika seorang pria dengan rambut penuh uban masuk ke ruangan. Ia meletakkan dua jilid tebal identik ke meja Sirtjoo, lalu merentangkan tangan di hadapan kami.

“Akhirnya selesai juga. Tiga puluh tahun lebih…” Kami langsung memberi selamat.

“Akhirnya,” kata Sirtjoo sembari mengambil salah satu buku itu. Ia membelahnya langsung di tengah, menghirup aromanya sambil tersenyum kepada pria beruban itu. Saya mengambil jilid yang lain, membuka-buka, lalu menutupnya kembali. Dalam Bahasa Belanda, saya tidak paham. Tapi saya mengenali dua nama di sampul buku itu: Tan Malaka dan Harry Poeze. Beberapa tahun kemudian saya baru bisa membaca buku itu, setelah terbit dalam bahasa Indonesia, dalam 3 jilid.

Saat itu saya baru sadar mengapa di sudut kanan Ruang Baca, depan pintu masuk, kau akan bertemu koleksi Tan Malaka di dalam lemari kaca. Harry Poeze mengumpulkan seluruh memorabilia itu sembari melakukan penelitian panjang mencari jejak sang pahlawan nasional.

***

Saya tak tahu apakah masih bisa menemukan lagi keping-keping kejadian hari itu di perpustakaan KITLV, meskipun dalam bentuk lain. Mungkin menonton tayangan pasar atau terminal lain, membaca buku lain dari rak koleksi terbaru–dengan jeda pemandangan kanal, atau tanpa sengaja berjumpa orang lain yang menulis tentang Indonesia.

Ruang Baca perustakaan itu telah berhenti beroperasi, tutup sejak tanggal 27 Juni lalu. Sebagian koleksinya (seluruh buku) telah pindah ke perpustakaan Universitas Leiden. Sebagian lagi, koleksi bentuk lain, tetap tinggal di rak arsip perpustakaan KITLV.

Pemotongan anggaran akhirnya menghentikan operasi Ruang Baca itu, setelah rumornya tersebar sejak beberapa tahun lalu.

Tanpa Ruang Baca itu, para pengguna koleksi KITLV akan sulit berjumpa tanpa disengaja, seperti ketika menyaksikan ekspresi lega Harry Poeze. Atau mendapatkan keterangan bahwa kau bisa meminjam sebuah buku langka yang sudah lama kau cari, seperti kodifikasi Amanna Gappa. Buku-buku dari perpustakaan itu, kini tersebar entah di rak mana di perpustakaan Universitas Leiden, mungkin sudah tenggelam dalam lautan buku lain.

Sulit membayangkan menemukan buku terbaru dari Indonesia di satu rak yang sama, ketika kau iseng menungu waktu janjian, seperti ketika saya menemukan cerpen-cerpen Ugoran Prasad.

Bagi orang Indonesia yang tengah berada di Belanda, perpustakaan KITLV selalu menjanjikan tempat pulang sementara. Banyak hal yang kau akrabi ada di sana, di tengah keasingan–bahkan setelah kau cukup terbiasa dengan cuaca dingin atau makan sandwich nyaris setiap hari.

Di sana kau dapat bersua orang-orang dari berbagai bangsa yang dengan senang hati bercerita tentang Indonesia. Menemukan keseharian sekaligus keunikan Indonesia, di masa kini maupun silam. Di sana kau dapat berjumpa Indonesia lewat bermacam media dari berbagai masa.

Advertisements

One thought on “Satu Pagi di Sebuah Ruang Baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s