Tindakan Kolektif dan Struktur Sosial*

BUKU kecil ini akan secara khusus mengulas tindakan-tindakan kolektif dalam mengelola sumberdaya alam dan fasilitas bersama. Analisis akan diarahkan untuk mengurai struktur sosial yang melatari kerja-kerja kolektif tersebut, dengan menimbang bahwa kerja kolektif selalu dipengaruhi oleh bangunan sosial yang dominan di satu masyarakat. Dengan kata lain, kami tidak menganggap setiap kerja kolektif selalu membawa kebaikan bagi seluruh anggota masyarakat. Warga bisa saja berbondong-bondong melakukan kerja bakti setiap minggu, tindakan kolektif bisa berjalan, meskipun struktur sosial menekan mereka untuk melakukannya.

Untuk itu kami akan memulai dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang secara langsung menyokong atau menghambat tindakan kolektif. Dengan bahan itu kami akan membangun sebuah gambaran mengenai bagaimana struktur sosial bekerja membentuk wajah tindakan kolektif di desa-desa kasus, dan membayangkan bagaimana itu dapat berubah (atau diusahakan berubah).

Beberapa teori akan diterapkan secara luwes untuk menelisik struktur sosial yang menyokong atau menghambat tindakan kolektif menuju munculnya tatanan yang lebih berwatak kolektifis. Pertama, studi ini akan mengikuti petunjuk David Mosse (2006) dengan melihat struktur sosial lebih luas dan dinamika historis relasi-kekuasaan dalam mengkaji kemunculan dan bertahannya tindakan kolektif di sebuah masyarakat. Pendekatan ini dapat membantu mengurai latar historis dan relasi multi-level dari kerja-kerja kolektif yang berlangsung di dua desa. Ini akan mencegah kita berhenti pada tatanan sosial setempat yang berlaku saat ini, tanpa menimbang bagaimana kekuatan dari luar desa dan dinamika historis membentuk tatanan tersebut.

Pendekatan ini juga memungkinkan melihat relasi kuasa, sehingga kami melihat subyek kajian ini (warga desa) sebagai sesuatu yang berbasis kelas. Menurut Mosse (2006), tindakan kolektif juga dapat bertahan lama karena memang dirawat untuk mereproduksi relasi kuasa yang timpang. Dalam konteks kelompok pengguna air di Tamil, India, Mosse menunjukkan bahwa tangki air merupakan simbol untuk memperkukuh sistem kasta, lewat ritual dan sistem manajemen yang hierarkis. Di tempat itu, upaya-upaya untuk menegosiasi ulang distribusi air yang timpang akan berhadapan dengan tantangan hebat dari kasta atas. Di sisi lain, karena risikonya terlalu berat bagi para petani kasta dalit (paling bawah), mereka sering urung melakukan tindakan kolektif tandingan untuk menantang sistem yang sudah mapan tersebut.

Karena itu, tindakan kolektif dalam praktiknya juga dapat terbangun dan dipertahankan oleh kondisi relasi kuasa setempat yang timpang.[1] Lewat kasus manajemen penampungan air di puluhan desa di India itu, Mosse menyimpulkan, “Relasi sosial hierarkis yang menyokong tindakan kolektif di dataran rendah Tamil tidak pernah terlepas dari sistem lebih luas yaitu negara atau birokrasi (di zaman prakolonial, kolonial atau kontemporer) yang melegitimasi otoritas lokal dan alokasi sumberdaya produktif (2006: 702).[2] Karena itu, penelitian mengenai apa yang menghasilkan tindakan kolektif harus menimbang sifat kekuasaan yang dominan di tempat tertentu, serta meneliti mengapa sifat kekuasaan tersebut lahir dan bertahan. “Kesuksesan tindakan kolektif melekat pada sistem patronase dan korupsi yang lebih luas, juga pada hierarki sosial.” (ibid.: 702)[3]

Mengenai hubungan antara kerja kolektif dan sumbedaya publik, Mosse merumuskan beberapa kesimpulan. Pertama, organsasi masyarakat yang demokratis (kolektifisme) bisa alpa atau mendapat tantangan meskipun tindakan kolektif berjalan tetap dengan mulus. Tindakan kolektif tidak selalu menandai hadirnya demokrasi. Kedua, pendapatan yang diperoleh dari sumberdaya bersama yang dikelola lewat tindakan kolektif, bisa saja digunakan untuk menyokong kekuasaan lokal, misalnya untuk perbaikan tempat ibadah, festival atau ritual lainnya. Sumberdaya bersama dikelola justru untuk menekan konflik sosial (antar-kelas) dan berperan untuk menguatkan prestise dan kredibilitas kekuasaan mapan, serta mengamankan koneksi politik ke atas. Ketiga, sementara tindakan kolektif melekat pada struktur-struktur yang otoriter, struktur-struktur tersebut juga dapat mengalami perubahan sosial politik yang menantang kekuasaan tersebut, dan menyurutkan posisi penting kelas/kasta yang selama ini dianggap normal. (ibid.: 706-8) Ini bisa terjadi ketika ada tindakan kolektif tandingan, yang juga sering dipengaruhi oleh perubahan struktur sosial-politik di level lebih luas.

Dalam bentuk yang agak berbeda, kecenderungan nyaris serupa dapat kita lihat di Indonesia, termasuk di lokasi-lokasi studi kasus ini. Tindakan kolektif dalam konteks proyek-proyek pemerintah dan ornop, misalnya, bisa berjalan di tengah-tengah struktur kekuasaan yang lumayan timpang. Dalam situasi semacam ini, sumberdaya publik seperti anggaran pembangunan publik (dari Anggaran Dana Desa atau PNPM, misalnya), dapat digunakan untuk meredam konflik kepentingan internal desa sekaligus mengukuhkan struktur kekuasaan yang timpang.

Tetapi di sisi lain, berbagai aturan nasional baru yang merupakan hasil dari perubahan konstalasi kuasa di level nasional (semisal pemilu langsung, hutan desa atau Undang Undang No.6/2014 tentang Desa), membuka peluang untuk menyurutkan posisi penting kekuasaan yang sudah bertahan lama.

Catatan kaki:

[1] Dalam kerangka ini, faktor teknologi dan ekologi menjadi lebih sebagai faktor pendukung tindakan kolektif yang berjalan sesuai status quo.

[2]The ranked social relations that underpinned collective action in the Tamil plains area had never been independent of wider systems of state or bureaucracy (in precolonial, colonial, or contemporary times) that legitimized local authority and the allocation of productive resources

[3]Successful collective action is embedded in wider systems of patronage and “corruption,” as well as in village social hierarchies.”

*Potongan Bab 1 kajian yang tengah kami kerjakan mengenai Kerja Kolektif di pedesaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s