Membayangkan Penguasa Menciptakan Dunia Sendiri

Para penguasa itu, apakah mereka tidak melihat kesusahan orang di sekelilingnya? Anak-anak dengan gizi buruk, kemacetan, penggusuran, gedung sekolah kian bobrok, ibu mati kelaparan dengan bayi dalam kandungannya–silahkan tambahkan sendiri.

Boleh jadi memang para penguasa tidak merasakan semua persoalan itu. Segala fasilitas dan kemajuan teknologi bisa membuat mereka atau siapa pun kian terasing dari dunia fisik dan sosial di sekelilingnya.

Mari, coba kita bayangkan bagaimana keterbelahan ruang fisik antara penguasa dengan rakyatnya bisa terjadi. (Peringatan: khayalan ini mungkin agak berlebihan, tapi saya yakin sebagian benar).

Di rumah si penguasa ada pendingin ruangan, pengharum ruangan, penghias pekarangan, interior yang lapang dengan segala yang sedap di pandang mata. Mereka juga membangun pagar tinggi-tinggi untuk menghentikan pemandangan tak sedap di luar sana. Rumah-rumah itu pun biasanya berada di dalam kompleks dengan pemandangan asri, juga dengan pagar tinggi mengelilingi kompleks untuk menghindari pemandangan tak elok di luar sana.

Dari kompleks-kompleks berpagar itulah mereka keluar dengan mobil-mobil, yang lagi-lagi dengan pendingin ruangan nan harum semerbak. Debu, asap, hujan, teriakan pedagang, suara kendaraan, semua lenyap. Mereka bahkan sering tak melihat semua itu sebab mereka laju dikawal ‘forerider’, mungkin sambil nonton tivi atau main gadget di dalam mobil dengan jendela gelap.

Mobil itu kemudian berhenti tepat di depan pintu di kantor-kantor mereka, yang juga harum dan sejuk.

Bila penat atau ada perlu, mereka jalan ke kafe-kafe, mal-mal, hotel-hotel, yang juga semerbak nan dingin. Sesekali mereka berkunjung ke rumah kawan, kolega atau kerabat, yang kebanyakan juga harum dan berpendingin.

Kita semua tahu, sesekali mereka pun pelesiran ke luar negeri—luar negeri yang beriklim dingin.

Mereka juga tak perlu merasakan belanja di pasar yang becek dan bau, mereka tak tersentuh harga yang kian melambung. Listrik, telpon, bahan bakar dan sopir bukan lagi urusan mereka. Semua telah tersedia, semua dibiayai negara. Mereka tinggal mengurusi rakyat, yang sejatinya untuk itulah mereka dapat gaji dan beragam bonus—tapi apakah mereka sungguh melakukannya?

Dengan biaya jamuan makan minum yang mereka usulkan dibiayai negara, mereka bisa menjamu setiap pengamen yang kelaparan di jalanan. Dengan biaya perabotan rumah jabatan yang mereka usulkan dibiayai negara, mereka bisa saja membuatkan rumah bagi para gelandangan. Tapi saya belum pernah mendengar itu terjadi, mungkin anda sudah?

Dengan seluruh fasilitas dan privilege yang sedemikian nyaman, apakah betu-betul mengherankan bila mereka semakin tak peduli pada beban rakyat yang menggunung?

Sengaja atau tidak, mereka tengah menciptakan dua dunia yang berbeda. Mereka menjauh dari dunia orang kebanyakan. Pelan-pelan, mereka menutup seluruh panca indera yang berfungsi untuk memahami dunia rakyat.

Tapi itu belum semua. Anugerah privilege menciptakan virus-virus yang menyebar dengan cepat. Salah satunya, virus mentalitas ‘tuan-hamba’. Mentalitas semacam ini tidak melihat orang berdasarkan perannya dalam masyarakat, melainkan pada status yang dipegangnya. Dalam mentalitas ini kepemimpinan bukanlah peran melainkan status. Bagi si ‘hamba’, yang dipikirkan adalah mencari jalan mengamankan posisi dengan terus menghamba agar sang ‘tuan’ betah dia tempel.

Di seberangnya, sang ‘tuan’ sangat menikmati dan terus mengelus mentalitas semacam ini. Mereka dengan senang hati menggunakan apa saja supaya tetap dianggap ‘tuan’. Misalnya harus terus (terlihat) kaya, harus sering menyumbang—yang harus diumumkan kepada publik sehingga harus mendatangkan pewarta atau membuat acara yang harganya bahkan mengalahkan jumlah sumbangan itu sendiri. Dan yang paling penting, harus terus menduduki jabatan—atau mewariskannya—dengan cara apa pun.

Ongkosnya? Oh, memang mahal. Tapi ongkos itu sepertinya selalu dapat mereka tutupi, bisa mereka peroleh kembali, lewat kuasa yang mereka genggam.

***

Sampai di sini tiba-tiba saya teringat petuah lama yang konon ditulis Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri Gowa di paruh pertama abad ke-17 (bila melihat beberapa sumber, agaknya dipinjam dari petuah La Mellong, Kajao Laliddong, penasehat Arung Bottee dari Bone). Dalam versi Makassar dia bilang begini: salah satu dari empat tanda kehancuran sebuah negeri adalah “punna tenamo nakamaseangngi atanna karaeng ma’gaukangnga” (jika penguasa tidak lagi mengasihani rakyatnya).

Ah, petuah ini. Saya jadi berandai-andai. Mungkin di masanya sang Karaeng masih bisa merasakan kesusahan rakyatnya. Mungkin setiap hari dia masih bisa melihat dan menyentuh apa yang dilihat dan disentuh rakyatnya. Mungkin mereka hidup di dunia yang tak jauh berbeda. Dunia yang melahirkan kosa kata ‘pacce’ dan ‘pesse’. Dunia ketika fakta belum meniru alam buatan. Dunia ketika negeri belum hancur. Mungkin.

*Tulisan ini dibuat sekitar satu dekade lalu, tayang di sini setelah mengalami sedikit perbaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s