Berkumpul Lagi

DUA puluh tahun lalu, ketika sangkar dibuka, kami terbang bertebaran ke mana-mana. Malam itu kami berkumpul lagi.

Kami berjumpa kembali di atas bukit, di restoran sebuah hotel. Pemandangan indah dari tempat itu sepertinya tak begitu menarik bagi kami. Barangkali karena hamparan lampu kota di bawah sana adalah pemandangan yang sudah kami kenali sejak kecil. Namun sangat mungkin kami mengabaikannya karena lebih ingin tahu kabar kawan-kawan yang sudah terpisah lama. Sebagian tidak pernah berjumpa lagi sejak kami lulus SMA Negeri 1 Pare-pare pada tahun 1993.

TANTANGAN pertama yang kami hadapi adalah mengenali orang-orang yang datang. Terhadap sebagian kawan, saya tidak mengalami kesulitan karena mereka bersekolah bersama saya sejak SMP bahkan beberapa tahun setelah SMA, di tempat kuliah yang sama. Namun sebagian lagi benar-benar sudah menjadi sejarah terlupakan hingga malam itu. Saya sulit mengingat nama-nama sejumlah besar kawan yang tengah menggenggam tangan saya.

Saya merasa bersalah dan malu, terutama bagi mereka yang masih bisa mengingat bahkan nama kecil saya.

Kesulitan terbesar adalah mengenali kawan-kawan wanita. Dulu saya mengenali mereka lewat keseluruhan penampilan mereka, termasuk bentuk tubuh, rambut dan seragam putih abu-abu mereka. Masalahnya, malam itu semua tertutup oleh jilbab—setidaknya semua kawan perempuan yang datang. Saya pun bengong ketika mereka berusaha mengingatkan saya akan diri mereka sembari menyebutkan nama dan apa yang pernah mereka lakukan bersama saya—pernah sekelas atau satu tim basket.

Lupa nama, itu satu hal, namun lupa penampilan mereka semakin menambah kerumitan. Saya memang tidak akrab dengan seluruh (200 lebih!) kawan angkatan, meski kami bersama selama 3 tahun. Saat itu, oleh kebiasaan kultural, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan kawan lelaki. Hasilnya, saya seperti murid baru yang tengah berusaha mengingat kembali satu per satu kawan wanita setelah melewati satu jam pelajaran—tentu saja saya tidak sepenuhnya berhasil.

Tetapi itu semua tertutupi dengan kesadaran bahwa mereka semua satu angkatan saya, bahwa kami semua mengalami banyak hal bersama pada masa bersamaan. Apalagi ketika kami sama-sama duduk di kelas satu, kami belum dibagi menurut jurusan masing-masing. Kami mengenal guru-guru yang sama, bentuk bangunan sekolah yang sama (yang kini sudah berubah), berkemah bersama di malam penerimaan kami masuk SMA dan hadir di acara perpisahan yang sama.

SETELAH ganjalan pertama selesai, semua berjalan mulus, kami pun larut dalam cerita nostalgia tentang lompat pagar bersama, berikut detil mengenai pagar yang harus kami lompati dan ke mana kami menghabiskan waktu setelah itu. Tentang bolos sekelas untuk nonton Demi Moore main dalam ‘Ghost’ dan keesokan harinya mendapat hukuman bersama, ditendang di tengah lapangan sekolah sampai pantofel wali kelas kami harus copot berkali-kali. Tentang ruangan guru BP yang terkesan angker, tempat seorang kawan pernah tersedu-sedu, terharu mendengar sang guru BP menasihatinya, bahwa ia telah ‘menganggap saudara’ ayah sang kawan, dan ia merasa malu kepada saudaranya bila tidak sanggup mendidik sang kawan. Tentu tak terlewatkan, macam-macam metode guru yang berbeda menghukum kami karena beragam jenis pelanggaran.

Anehnya, kondisi belajar-mengajar di dalam kelas nyaris tidak mendapat kesempatan untuk di-rewind. Kami lebih banyak bercerita tentang pelanggaran-pelanggaran yang kami lakukan. Mungkinkah itu bukan kesalahan tetapi kenikmatan?

SAYA pun menikmati kelanjutan kisah kawan-kawan setelah kami menjalani hidup terpisah-pisah. Sungguh menakjubkan mengetahui betapa jalan hidup masing-masing kami amat beragam. Ada yang melanjutkan perjalanan dengar berlayar ke berbagai belahan bumi, ada yang langsung merantau sebagai TKI di Malaysia selama nyaris satu dekade, selain yang melanjutkan kuliah di Makasar maupun beberapa kota di Jawa. Atau seorang kawan yang tetap tinggal di kota kami dan konsisten menjalani kegemarannya sebagai pemusik hingga kini.

Juga tentang kawan-kawan yang telah menghadap Yang Maha Kuasa. Mari berdoa untuk mereka.

Penampilan mereka, apa yang harus saya katakan? Rambut mereka, banyak kawan pria dulunya meniru gaya Tommy Page atau bintang-bintang film mandarin dengan membasuhkan Barbara ke rambut agar mengeras seperti ranting pohon. Para wanita, mereka banyak yang menjadi KDM (Korban Demi Moore), kadang dihias bando entah bila mereka kepanasan atau bosan. Celana-panjang-sempit-di-bawah yang dulu membalut betis ceking kami, lengan baju yang digulung ala Si Boy atau Lupus. Semua telah lenyap. Kami yang dulu ceking, sebagian telah membesar hingga sulit dikenali saat melihat pertama kali.

Profesi mereka pun beragam, mulai dari sales manager hingga pemusik, dosen hingga ibu rumahtangga, pegawai negeri sampai konsultan, kontraktor dan pengusaha, dan seterusnya. Secara keseluruhan kisah-kisah ini sungguh mencengangkan, mengingat sempitnya ruang gerak dan relatif seragamnya kami diperlakukan di dalam pagar sekolah selama tiga tahun.

Tetapi menyaksikan mereka bernyanyi, bercanda atau sekadar mengobrol saya jadi sadar bahwa pembawaan orang memang tidak berubah. Sungguh membahagiakan kembali melihat mereka beraksi dengan gaya khas masing-masing. Mungkin saya sulit menyaksikan gaya itu di keseharian mereka.

MASIH banyak detil cerita yang masih ingin namun belum sempat saya sampaikan. Tetapi saya harus melanjutkan hidup sebelum tenggelam dalam romantika masa lalu yang  melenakan. Malam ini saya ingin mengucapkan terimakasih banyak bagi kawan-kawan yang sudah memungkinkan reuni itu terjadi. Saya begitu menikmatinya, bahkan menikmati menyaksikan mereka satu per satu pulang setelah pamitan, hingga tersisa dua orang lagi yang memang harus tinggal lebih lama.

Semoga kali lain kita semua—termasuk yang tak sempat datang malam itu—bisa berkumpul lagi. Mungkin lima tahun ke depan?

*Catatan ini ditulis Agustus 2013, setelah reuni 20 tahun SMA Neg 1 Parepare angkatan 1993.

Advertisements

One thought on “Berkumpul Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s