Status

Buku ini sangat penting: Bugis Wedding (Perkawinan Bugis), ditulis Susan Millar berdasarkan sebuah penelitian etnografis lebih 30 tahun lalu. Ia menghadiri banyak rangkaian ritual panjang perkawinan Bugis untuk menulis buku itu. Dari sana ia menarik kesimpulan, pesta perkawinan adalah ‘display‘ (pameran) status. Gunanya untuk menunjukkan di mana ‘lokasi sosial’ seseorang dalam hierarki sosial masyarakat.

Ia menunjukkan betapa status sangat penting bagi orang Bugis. Berbagai macam upaya dilakukan untuk memperoleh status tinggi, demi menapaki hierarki sosial atau berusaha bertahan bila sudah berada di atas. Persaingan memperebutkan lokasi sosial menjadi pemandangan sehari-hari. Bila berjumpa orang baru, yang pertama harus seseorang ketahui adalah letak sosial masing-masing orang–agar dapat menyesuaikan perilaku berdasarkan letak mereka dalam hierarki sosial. Pertanyaan “[n]iga iya ro?” (siapa dia?) hampir selalu berarti “ia berasal dari keluarga mana?”

Dulu, selain status yang diperoleh seseorang dari garis keturunan bangsawan, kedudukan sosial tinggi juga dicapai lewat penumpukan harta; dan harta itu harus diperlihatkan untuk bisa berperan menjaga status. Kini, puluhan tahun kemudian, status hanya ditentukan lewat kepemilikan harta. Status warisan hanya bisa ditentukan oleh status ekonomi orangtua seseorang. Sebuah keluarga bisa mencapai status serupa ‘bangsawan’ di masa lalu, bila mereka punya uang untuk menunjukkan bahwa mereka pantas meraih kehormatan itu. Kalau seseorang tak mewarisi harta dan ingin menaikkan status, ia harus berusaha sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dengan mudah bisa berjumpa kecenderungan ini pada kesempatan kumpul keluarga. Tidak jarang, misalnya, saya mendengar potongan kalimat seperti madecenni i anu (si fulan sudah sukses) atau mancaji tauni (sudah jadi seseorang). Atau sebaliknya, mappeddi mopi kesi’ tu i anu (kasian si fulan masih menderita [miskin]).

Penanda sukses tidaknya seseorang nyaris selalu kepemilikan harta: Engkana otona (sudah ada mobilnya), mabbola lopponi (sudah membangun rumah besar). Atau sebaliknya. Saling menginformasikan kondisi ekonomi sangat penting untuk mengetahui posisi sosial seseorang relatif terhadap orang lain: apakah dia di bawah atau di atas saya?’

Jabatan (formal maupun informal) memang juga jadi penanda, tetapi di belakangnya tersirat kepemilikan harta berlebih. Misalnya, purani menre tana mekka (habis naik haji) atau mancaji pejaba’ni (sudah jadi pejabat). Penanda status juga datang dari wahana yang menunjukkan kemakmuran seseorang: paling fenomenal saat ini diwakili oleh kalimat ‘botting roa’i itu ana’na‘ (acara nikahan anaknya dibuat besar-besaran). Itulah mengapa uang panaik harus tinggi, ongkos resepsi pernikahan besar-besaran harus digelontorkan.

Semua pencapaian itu akan membuat bangga kerabat yang menceritakan dan yang diceritakan. Tentu tidak seluruh orang Bugis berpandangan seperti ini. Tetapi tidak sulit melihat bahwa cara pandang dan perilaku seperti ini sedang mendominasi.

Imbas masyarakat berorientasi-status ini sangat banyak dalam keseharian kita. Saya sebut dua saja:

Pertama, orang jadi harus pamer harta atau keadaan yang menyiratkan kepemilikan harta–dengan berbagai tingkatan mulai dari yang paling norak sampai yang paling halus. Tidak jarang kita temui orang mengenakan perhiasan berlebihan di tempat yang mengherankan. Saya pernah melihat seorang ibu dengan banyak gelang emas di dua lengannya, di lapak terminal. Atau seorang pejabat dengan bangga bercerita kepada saya bahwa mobilnya adalah ‘Mitsubishi [sebut merek] yang kedua berjalan di atas aspal Makassar’! Atau, seorang kawan meminta saya membaca dulu jabatannya di kartu nama, sebelum saya memasukkannya ke saku. Saya memang tidak tertarik bertanya apa pekerjaannya atau membaca terlebih dahulu kartu namanya. Jadi ia harus memastikan saya tahu. Jabatan basah, tentu saja.

Kedua, kegandrungan akan status juga berimbas pada sulitnya mencari seorang ahli, terutama tapi bukan satu-satunya, untuk profesi tukang. Ketika ingin membangun rumah atau membuat mebel misalnya, sangat sulit mencari tukang yang benar-benar tahu apa yang mereka lakukan dan dengan eksekusi yang halus. Di satu toko mebel saya pernah bertanya

‘Siapa yang buat ini?’ sambil menunjuk sebuah bufet retro yang sangat halus.
‘Dikirim dari Jawa,’ kata penjualnya.
‘Tidak ada orang di sini yang bisa bikin sehalus ini?’
‘Tidak ada.’
‘Kanapa itu di?’
‘Begini, di sini orang tidak mau jadi tukang. Dihina orang di sini kalo jadi tukang. Jadi kalo ada kerjaan lain, berenti mi jadi tukang.’

Padahal kita tahu, hanya latihan bertahun-tahun yang bisa membentuk keahlian seseorang. Hal ini pun sudah diisyaratkan oleh pepatah lama ‘resopa temmangingngi na malomo naletei pammase dewata‘ (hanya kerja keras tanpa jenuh yang memudahkan datangnya rezeki dari langit). Tapi sepertinya rangkaian kata-kata itu sudah berubah menjadi slogan kosong, atau ditafsir ulang menjadi slogan penyemangat demi pengejaran harta-untuk-status. Saya sering bertanya-tanya: jika semakin banyak orang bekerja semata untuk menaikkan atau memertahankan status, yang menjalani profesi untuk sekadar menggugurkan kewajiban, di mana kita mencari orang yang mengerjakan sesuatu yang benar-benar mereka minati atau kuasai?

Saya jadi penasaran, apakah anak-anak muda Bugis juga mengadopsi kecenderungan pengejaran status semacam ini? Sebab hanya merekalah, bila bersatu, yang bisa mengubah situasi ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s