Hantu Jangkung Seluruh Dunia, Bersatulah!

 

Bayangkan seorang remaja bertubuh aneh, terlalu jangkung dan kerempeng untuk ukuran anak seusianya. Semua pakaian yang ia kenakan terlihat aneh, tidak nyaman di tubuhnya dan di mata kawan-kawannya. Ia mengalami alih tubuh super pesat ketika harus memulai hidup dengan kawan-kawan baru di bangku SMA. Sekolah baru, baginya, berarti hilangnya kawan akrab sekelas dan memulai lembar baru dengan orang-orang baru di kelas baru, dengan tubuh baru.  Remaja itu adalah saya.

Saat itu saya mulai merasa bahwa semua buatan manusia di sekeliling saya dibuat untuk semua manusia lain kecuali saya. Kepala saya sering membentur palang kayu penyangga lantai di kolong rumah, dan hampir semua rumah yang harus saya datangi setiap hari adalah rumah panggung. Rumah-rumah itu seperti berlomba menyakiti saya. Ketika naik angkot, lutut harus saya lipat sampai hampir menyentuh dagu, sepanjang perjalanan tengkuk dan punggung saya berubah menjadi busur yang sedang ditarik. Mencari sepatu di pasar berubah jadi siksaan. Setelah berkeliling di dua pasar—hanya ada dua pasar di kota kecil kami—semua toko dan lapak tak punya ukuran untuk saya, tentu saja. Tapi mencari celana panjang dan kemeja lengan panjang adalah ujian tingkat dewa. Kau harus keluar masuk ruang pas hanya untuk tahu bahwa kain-kain sialan itu tidak berguna untukmu, dan orang-orang yang melihat kejadian itu akan mempermalukanmu.

Di sekolah atau lingkungan bermain, teman-teman mulai memberi saya macam-macam julukan: hantu jangkung (longga’), penjolok (pakkodong), lidi (adidie) atau apapun yang mengejek.

Mendekati perempuan? Oh, semoga Tuhan mengampuni saya. Suatu siang yang terik sepulang sekolah, ketika hendak menelpon, saya mencoba meminta koin kepada dua orang perempuan—remaja seperti saya—untuk ditukar dengan uang kertas saya. Saat itu mereka baru saja selesai berbicara di telepon umum. Begitu mereka berbalik dan menemukan saya di belakang mereka, terdengat jeritan. Mereka terkejut setengah mampus, lalu segera berlari sambil cekikikan memegang dada masing-masing. Saya langsung balik kanan, sementara dua gadis itu bertukar pengalaman epik yang baru saja mereka lewati, yang mungkin akan mereka ceritakan sampai bertahun-tahun kemudian.

Saya menjadi super minder. Ke mana-mana saya mulai berjalan dengan berbungkuk, berusaha menyembunyikan tubuh.

Beruntung bagi saya, itu tidak berlangsung lama. Hidup saya diselamatkan oleh lari subuh di satu hari minggu. Ini kebiasaan orang di kota kecil kami, mungkin sama dengan banyak kota lain di Indonesia. Dari seluruh penjuru kota yang tidak luas itu, perempuan laki tua muda berlari hingga ke pantai bertanggul di pusat kota. Di sana kami akan menghabiskan waktu dengan macam-macam kegiatan rekereasi hingga matahari mulai terasa menyengat. Ada yang berenang, senam, jalan-jalan atau duduk-duduk menonton seluruh kegiatan itu.

Saya baru saja tiba di pantai dari arah selatan ketika merasa lelah. Saya singgah tepat di depan lapangan basket. Tentu saya sudah sering melihat lapangan itu, tapi tak pernah memerhatikan orang-orang yang bermain di sana. Sebelumnya saya tak punya urusan dengan lapangan itu. Tetapi pagi itu saya perhatikan, orang-orang itu. Mereka saling mengejar dan berebut bola basket. Tentu saya tahu apa itu permainan bola basket. Kadang saya menontonnya di tayangan televisi, tapi tidak pernah memerhatikan orang-orang yang bermain basket secara langsung di lapangan tepat di bibir pantai itu. Saya lihat baik-baik: ada yang jangkung. Bukan cuma satu. Ada beberapa.

Saya putuskan singgah untuk menonton. Ketika memasuki pekarangan lapangan, semua bulu mata menunjuk ke arah saya. Untungnya hanya sesaat. Mereka lanjut bermain. Saya lega. Di tempat lain, saya terlalu sering menjadi pemandangan aneh yang biasanya menciptakan kenikmatan bagi orang lain: cekikikan. Ketika satu partai selesai beberapa orang menyerah karena capek. Mereka kekurangan pemain. Mereka meminta saya menginjak lapangan, mencoba memainkan bola, meniru yang mereka lakukan. Kaki gemetar, dada bergemuruh, lantai beton lapangan yang saya injak berubah lumpur isap, tetapi saya siap ditelan karena melihat decak kagum di mata mereka. Di sini tinggi tubuh saya bukan bahan ejekan.

Penonton dan pemain lain berkali-kali tertawa sambil teriak melihat gerakan saya, tentu saja. Itu kali pertama saya. Berkali-kali saya melakukan pelanggaran ketika menggiring bola tanpa memantulkannya ke lantai, beberapa kali lemparan saya begitu lemah sehingga tidak menyentuh bahkan tali keranjang sialan itu. Saya hanya bisa mengikuti orang berlari dari satu tiang ke tiang lain, menerima dan melempar bola ke kawan setim—itu pun sering salah. Tapi, mereka tidak menertawakan tubuh saya. Keanehan di luar lapangan mereka terima dengan wajar, bahkan saya melihat hawa kekaguman di mata mereka. Terutama ketika saya mengangkat bola tinggi tinggi dan lawan gagal menjangkaunya meski sudah melompat berusaha merebutnya.

“Kalau mau latihan, sore hari banyak orang latihan di sini,” begitu kata seorang kawan baru usai sesi game memalukan itu. Kawan ini ternyata seorang pemain utama di klub basket satu-satunya di kota kami. Saya akan bahu membahu bersamanya sampai tiga tahun berikutnya, dalam banyak sesi latihan dan pertandingan, sebelum saya pindah ke Makassar.

Saat itu saya merasa terlahir kembali sebagai manusia normal. Sejak saat itu lapangan basket menjadi oasis bagi saya. Saya mulai berpikir, “baiklah, mungkin di sinilah tempatnya para hantu jangkung berkumpul.”

 

 

Tanpa saya sadari, lapangan itu membantu saya mengatasi rasa minder yang mendera saya di luar lapangan. Julukan baru ‘anak basket’ memudahkan saya diterima dengan wajar di lingkungan pertemanan.

Oh iya, kota kecil kami adalah kota pelabuhan lama, mulai ramai pada abad 19 ketika pelabuhan dibangun pemerintah kolonial. Jalan-jalan utama di tengah kota—yang sempit—banyak diapit rumah hunian yang kebanyakan berbentuk rumah toko, seringkali tanpa pekarangan dan tanpa pagar. Bila punya pekarangan, ukurannya kecil, dan bersambung dengan trotoar. Pada sore hari sudah lazim orang duduk-duduk bersantai di depan pintu rumah. Jalan-jalan itulah yang harus saya lewati ketika berlari—sekalian pemanasan—menuju lapangan basket. Ketika berlari di atas trotoar atau di tepi badan jalan tentu saja saya bisa mendengar percakapan mereka. “Anak basket memang tinggi-tinggi,” mulai sering saya dengar ketika dengan pakaian basket saya berlari. Ini membuat saya nyaman bepergian. Orang-orang di jalan sudah mengenal saya sebagai anak basket. Dengan berlari, pelan-pelan saya memupuk rasa percaya diri yang sempat mengerdil mengikuti pertumbuhan sangat pesat tinggi badan saya.

Sementara di dalam lapangan saya terus mengasah diri: belajar cara melempar, berlari, membawa bola. Saya juga belajar tentang segala jenis pengetahuan untuk mendukung seseorang menjadi pemain bola basket yang terampil. Saya belajar cara menghormati pelatih dan pemain senior atau yang lebih lihai dibanding pemula seperti saya. Mereka menjadi panutan saya. Hal ini membentuk minat lalu cita-cita: menjadi pemain basket. Dari sana saya belajar bagaimana konstruksi seorang pemain ideal dan proses ideal mencapai bagunan ideal itu.

Tetapi hal yang paling sulit sekaligus paling menarik adalah belajar bermain sebagai satu tim. Sama dengan olah raga tim lainnnya, dalam tim bola basket ada sejumlah posisi berbeda: guard (penjaga), forward (penyerang), center (penyerang tengah). Pemilahan ini biasanya bergantung pada tinggi tubuh seseorang dibandingkan kawan setim. Guard biasanya bertumbuh paling pendek, dan oleh latihan khas posisi itu mereka akan menjadi pemain dengan gerakan paling cepat dan tembakan paling akurat di antara anggota tim. Guard dibagi dua lagi, point guard, sederhananya tukang bawa bola dan shooting guard yang tugas utamanya menembak ke keranjang lawan. Lalu ada forward dan center. Forward ada dua juga, small forward, ‘tukang serang’ yang bersama para guard memulai serangan balik dan menembak, dan power forward yang tugas utamanya ialah bergulat di bawah tiang keranjang dengan pemain lawan untuk menangkap bola pantul yang gagal masuk keranjang (rebound).

Dalam tim-tim awal, saya ditempatkan di posisi center karena menjadi pemain tertinggi, lalu kelak menjadi forward ketika di tim kami ada orang yang lebih tinggi beberapa sentimeter daripada saya. Di satu titik, ketika di satu tim ada dua atau lebih orang dengan tinggi sama atau beda sesenti dua, posisi center ditentukan oleh kecenderungan dan keterampilan khusus yang dimiliki pemain, kadang kala juga oleh postur tubuh. Misalnya, dalam tim-tim selanjutnya, saya ditempatkan sebagai power forward ketika di tim kami ada center dengan bobot badan jauh lebih tinggi dan persentasi tembakan dari bawah ring lebih baik ketimbang saya. Ini memudahkan dia bertarung dengan tabrakan tubuh di bawah ring dan memasukkan bola dari sana. Tetapi saya tidak ditugaskan sebagai small forward karena akan merugikan tim jika orang setinggi saya lebih banyak berada jauh di luar garis keyhole (daerah serang terdekat dengan ring lawan), tempat small forward biasanya berada. Saya harus membantu center di dalam keyhole, saling dorong dan sikut untuk menangkap bola yang gagal menemui sasaran.

Posisi ini menjadi sangat populer ketika Dennis Rodman ditransfer masuk ke tim bertabur bintang dan piala, Chicago Bulls, pada musim 1995. Ia main bersama Michael Jordan dan Scottie Pippen serta juara NBA lainnya dan bertahun-tahun meraih penghargaan tukang tangkap bola mantul terbaik di turnamen basket paling populer sejagad itu. Ia sering mengganti warna dan bentuk rambut, mengenakan anting dan punya banyak tato. Tingginya, 201 senti dan kekar. Ia pacaran dengan Madonna. Apalagi yang anda inginkan? Tetapi sebelum dia, ada power forward lain yang menjadi panutan saya: Charles Barkley. Siapa dia? Silahkan tanya oom google.

Ya, tidak semua pelajaran itu saya terima secara verbal lewat kata-kata pelatih atau senior. Kami menonton televisi. Saat itu, NBA mendapatkan anugerah dengan berkembangnya teknologi informasi yang dapat memancarkan banyak data sekaligus lewat satelit, sehingga memungkinkan pertandingannya ditonton seluruh dunia dalam waktu bersamaan (real time). Ini terjadi nyaris bersamaan dengan direkrutnya calon maha bintang Michael Jordan oleh Chicago Bulls dan revolusi pemasaran yang dilakukan perusahaan sepatu Nike—di susul para pesaingnya—yang mendukung globalisasi tontonan NBA lewat televisi. Di Indonesia, NBA dengan cepat menjadi tontonan populer anak muda dengan tumbuhnya jumlah televisi swasta sejak akhir 1980an. Perberlombaan untuk berebut ceruk pasar memaksa mereka berburu tontonan impor yang laku keras di tempat lain.

Tetapi kami juga belajar lewat berbincang dalam bahasa tubuh selama di lapangan basket: bagaimana pelatih berkomunikasi kepada anggota tim atau tim secara keseluruhan dan bagaimana reaksi kami. Kami berbicara dalam bahasa ‘anak basket’. Dari bahasa jenis ini: lewat berlatih, bermain dan bergaul dengan orang-orang yang sama; saya belajar tentang identitas ‘kami/kita’ dan bagaimana orang lain menyebut kami: “anak basket”. Kami berasal dari macam-macam etnis, tapi ketika kami berkumpul, di lapangan ataupun di luar lapangan mengenakan pakaian khas pemain bola basket, orang mengenali kami sebagai “anak basket”.

****

Singkat cerita, fast forward, ternyata main basket itu revolusioner. Cuma butuh sekira tiga tahun bagi lapangan basket untuk mengubah saya. Secara mental, saya semakin merasa punya peran, juga punya kawan sehobi. Saya mulai bermain di banyak pertandingan. Secara fisik, saya bergerak kian cepat, otot semakin kuat dan lentur. Saya pun menemukan jenis-jenis pakaian yang lazim dikenakan “anak-anak basket”: lihat saja gambar-gambar pemain NBA. Mereka jadi panutan saya berpakaian. Saat itu, ketika televisi swasta mulai menayagkan siaran langsung pertandingan NBA, majalah-majalah remaja mulai memuat macam-macam cerita dan gambar tentang pemain basket. Tentu saya tidak sanggup membeli yang persis sama, tapi tiruannya banyak—kecuali sepatu berukuran besar. Kota kecil kami adalah surga rombengan, tidak sulit menemukan sepatu impor bekas berukuran besar dan berkualitas bagus.

Satu lagi, ehm, para perempuan mulai melirik. Ketika saya menangkap itu, mereka senyum. Manis sekali. Saya mulai berjalan dengan tegak.

Tapi bukan itu yang paling revolusioner dari bermain basket. Seorang diri di lapangan, kau bukan siapa-siapa. Bukan hanya karena wasit akan memastikan kau kalah sebelum bertanding—jika tim tak lengkap, tapi untuk bisa memenangi pertandingan kau wajib bekerja sama. Setiap orang menyumbang apa yang dia bisa untuk satu tujuan. Kau harus tahu kapan dan di mana kau melakukan sesuatu. Memantul, mengoper, atau menceploskan bola ke keranjang adalah kerja tim, sesuai rencana kerja tim, bukan bertindak seenakmu.

Kau juga akan paham, ketika seorang kawanmu dengan mudah memasukkan bola sambil bersiul, dia sedang on fire. Operkan bola itu kepadanya! Apalagi bila saat itu kau sudah dua kali berhasil membuat pemain lawan merebut bola dari timmu. Ya, ketika tim lawan merebut bola, tidak penting bola itu mereka rebut dari siapa. Dan kau tak punya waktu menyalahkan dirimu atau rekan setimmu. Bola sudah direbut dan timmu sudah berada dalam bahaya. Jangan baper, berlarilah.

Kerja tim bukan cuma revolusioner, tapi juga indah. Ketika kau bermain dengan baik sebagai tim, kalah atau menang menjadi tidak penting. Kau tahu itu. Kau bisa merasakannya. Ketika tak ada anggota timmu yang pamer: membawa bola dari ujung ke ujung, lalu melemparnya ke keranjang di saat yang tidak tepat, kau bisa merasakan setiap orang sedang menunjukkan rasa saling percaya, juga percaya pada agenda tim. Dan itu indah. Apa yang lebih indah dari kepercayaan? Cinta pun bisa ambruk tanpa kepercayaan.

Tapi belajar dari pengalaman saya bisa bilang: ketika kalian bermain baik sebagai tim, meskipun lawan kalian berat, kalian pasti susah dikalahkan.

Mengingat kembali penggalan hidup itu, dari seorang remaja kerempeng super minder hingga menjadi atlit bola basket—di masa Iwa K. masih ngerap dan Michael Jordan masih nge-dunk, saya kadang diserang satu keinginan kuat. Saya ingin membangun banyak lapangan basket. Di setiap lapangan itu akan saya pasang spanduk besar dengan hanya satu baris pesan: Hantu jangkung seluruh dunia, bersatulah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s