Teman Nonton

Saya punya seorang kawan, sahabat mungkin lebih tepat. Kami sekelas di SMA, melakukan banyak hal bersama, hal-hal yang biasa dilakukan anak seusia kami. Kami bolos untuk menikmati angin di rumah panggung tanpa dinding dekat lapangan tenis tepi pantai, main domino di rumah kawan, atau duduk berlama-lama di dekker menyaksikan orang dan kendaraan lalu lalang.

Kami nongkrong di mana-mana di kota kecil tempat kami tinggal.

Tapi kami paling sering nongkrong di depan sebuah bioskop yang baru buka waktu itu: Bioskop Benteng. Di sana kami menyaksikan poster demi poster dipasang dan diturunkan setiap minggu. Gambar-gambar film itu berbahan kain, mungkin lima kali sepuluh meter, dilukis dengan cat minyak mengikuti gambar di poster kertas yang lebih kecil. Lukisan itu buruk tapi kami tak peduli. Kami hanya melihat judul dan nama bintang yang main dalam film.

Lukisan-lukisan itulah yang dipasang pada rangka kayu yang berdiri di belakang mobil bak terbuka untuk diarak keliling kota. Dengan pengeras suara, orang di samping pengendara akan berteriak: “Saksikanlah. Banjirilah. Film terbaru yang dibintangi oleh…”

Kami selalu menantikan nama-nama bintang film mandarin. Andi Lau dan Simon Yam adalah dua bintang muda yang tengah naik daun. Bioskop itu juga memutar film Indonesia dan India, tapi film mandarin yang selalu bisa membuat kami membeli karcis seharga Rp 600.

Kami selalu datang lebih cepat untuk mendapatkan tempat duduk paling belakang di dalam bioskop, “Supaya kepala tidak pusing,” kata kawan itu.

Saat seluruh pintu ditutup untuk mengusir cahaya siang, hawa panas ganti menguasai. seluruh bioskop itu ditutup seng. Dinding dan atapnya yang mungkin setinggi sepuluh meter semua berbahan seng. Beberapa kipas angin yang terpasang di dinding sepertinya tidak berdaya mengusir panas. Ketika kami keluar untuk istirahat pada pertengahan film, di ruang terbuka samping bioskop seluruh penonton tampak sedang mandi keringat. Di sana kami menikmati sirup dengan es, juga beberapa macam kue. Putu pesse adalah favorit kami. Kawan itulah yang sering mentaktir saya.

Sebagai remaja tentu kami mulai meniru gaya sang bintang: Saya suka Simon Yam, dia Donnie Yen (dia suka tendangannya yang bisa mencapai kepala orang yang mencekiknya dari belakang). Gaya rambut mereka begitu menggoda kami. Tapi kami punya masalah besar: kami sama-sama ikal. Dengan pomade atau barbara sekali pun rambut kami tidak akan bisa sama dengan bintang-bintang film mandarin. Saya akhirnya menyerah, tapi kawan itu tidak. Sering saya melihatnya menarik-narik rambut ikalnya dengan jepitan ibu jari dan telunjuk, agar tampak lebih lurus.

Begitulah saya melihatnya malam ini. Setelah lebih 20 tahun terlewat, kami akhirnya berjumpa, dalam mimpi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s