Masalah dengan Modal Sosial: Empat Kritik Harriss terhadap Putnam

#1  Mengabaikan muatan modal sosial

Muhammad Yunus dapat Nobel tahun 2006. Beberapa hari setelahnya saya duduk mendengar kuliah Aswani Saith, seorang ahli ekonomi politik, dosen Institute of Social Studies, Den Haag. Berkomentar tentang peristiwa itu, ia bilang begini: “tentang Nobel, Yunus adalah orang yang tepat pada waktu yang salah.” Saya bengong.

“Mengapa begitu?” lanjut Saith, “Saat ini, model Grameen Bank racikan Yunus sudah diadopsi lembaga-lembaga keuangan besar, lewat program-program kredit mikro (microcredit) atau layanan keuangan mikro (microfinance). Melihat rendahnya persentase kredit macet yang dihasilkan model lembaga keuangan mikro Yunus, bank-bank komersial besar tentu tergoda. Mereka segera mengucurkan dana besar untuk melebarkan daya jangkau model itu. Memang kelompok-kelompok kecil model Grameen Bank hanya meminjam receh bila dibandingkan para kreditur kelas kakap. Tapi bayangkan bila ada jutaan kelompok semacam itu di sekian banyak negara berkembang, dengan tingkat pengembalian kredit nyaris seratus persen, mereka bisa mengumpulkan uang besar bagi bank-bank besar,” Saith melanjutkan. “Jadi, sebenarnya yang terjadi adalah: golongan paling miskin di antara paling miskin diminta bekerja lebih keras untuk menambah modal para kapitalis bank komersial global.”

banker-to-the-poor_sampul

Model Grameen Bank mengandalkan ‘modal sosial’. Orang-orang yang nisbi setara secara finansial—sama-sama miskin—berkumpul untuk mengelola lembaga keuangan kecil. Sebagian besar di antaranya adalah kelompok perempuan, yang seringkali tidak dapat mengakses bank. Setiap anggota, dengan aturan tertentu, bisa meminjam uang lalu menyicilnya dengan bunga, sementara anggota kelompok lain dan para fasilitator membantu memastikan agar sang peminjam sanggup membayar cicilan. Tekanan terhadap sang peminjam juga berasal dari fakta bahwa uang itu, bila pembayaran cicilan lancar, juga akan dipinjamkan kepada anggota kelompok lain. Di sini ada norma, kesalingpercayaan dan jaringan yang memastikan model kredit mikro ini bisa bergerak. Kedekatan mereka membangun kesalingpercayaan, menempa norma resiprositas (saling bantu, saling memberi) dan jaringan di antara anggota kelompok. Tapi, yang tak mereka sadari, untuk siapa mereka sebenarnya bekerja dengan berusaha keluar dari kemiskinan—lewat jerat utang baru! Ini butuh lebih dari sekadar ‘modal sosial’.

Menurut Harriss, ketika membahas modal sosial Putnam tidak menunjukkan bagaimana muatan (tujuan dan ideologi) sebuah kelompok atau asosiasi warga bisa membuatnya berbeda dari kelompok lain (hl. 28). Artinya, kita bisa punya banyak asosiasi warga di satu tempat, dan itu bisa dilihat sebagai indikasi modal sosial yang kuat di tempat tersebut; tapi, bagaimana bila satu kelompok mendominasi yang lain? Bagaimana, misalnya, membentuk rasa saling percaya dan norma saling membantu antara klub-klub golf dengan kelompok-kelompok warga miskin yang akan digusur oleh pembangunan lapangan golf baru?

Menanggapi kritik ini, para pengikut Putnam lantas menyebutnya sebagai “sisi gelap” modal sosial. Lalu mereka memberi solusi: yang lemah bisa membangun ‘lingking capital’ atau jembatan untuk menghubungkan mereka dengan pihak yang kuat. Tapi bagaimana bila tujuan dan ideologi keduanya bertolak belakang atau malah bertabrakan? Bagaimana membangun rasa percaya dan norma saling bantu antara lingkaran-lingkaran elite bankir global yang hendak mempertahankan keuntungan dengan warga miskin yang tereksploitasi oleh tujuan itu? Lihatlah apa yang mereka lakukan kelompok terhadap orang-orang miskin di negara miskin via program microfinance, mereka bahkan memanfaatkan pahlwan orang-orang miskin itu!

Bila bisa terbentuk, ‘linking capital’ antara kelompok kuat dan lemah hanya dapat terjadi lewat hubungan timpang seperti patron-klien atau buruh-majikan, atau “golongan paling miskin di antara paling miskin diminta bekerja lebih keras untuk menambah modal para kapitalis bank komersial global.” Jembatan ini sepertinya bisa membantu orang berjalan memunggungi demokrasi. Padahal buku yang melambungkan Putnam dan modal sosialnya diberi judul Making Democracy Work.

Bacaan saya melihat setidaknya ada dua cara bagaimana Putnam mengabaikan muatan modal sosial. Pertama, Putnam melihat modal sosial sebagai ‘penyebab asali’ dari sebuah kondisi. Modal sosial seolah terbentuk dengan sendirinya, dari sononya, dan menyebabkan maju tidaknya pembangunan dan demokrasi. Dengan cara itu, Putnam luput menanyakan mengapa modal sosial menjadi kuat atau lemah di satu masyarakat, dan tidak demikian di tempat lain. Karena itu, ulasannya jarang dibawa ke pertanyaan mengapa modal sosial terbentuk, untuk tujuan apa?

Kedua, ketika membahas modal sosial dalam keterlibatan sosial masyarakat, Putnam seringkali hanya merujuk pada asosiasi yang bersifat rekreatif semisal kelompok pencinta burung atau klub olahraga, atau yang cenderung non-politis seperti asiosiasi orangtua murid. Dengan deskripsi seperti itu Putnam berusaha membawa diskusi tentang modal sosial ke wilayah kegiatan yang lebih bersifat rekreatif atau sampingan, sekaligus menghindar dari membicarakan tujuan ekonomi politik dari kelompok-kelompok yang biasanya memainkannya. Tujuan satu kelompok kepentingan bisa saja bukan untuk kebaikan seluruh warga. Sulit membantah bahwa anggota kelompok mafia, misalnya, punya modal sosial kuat di dalam lingkarannya. Tapi bagaimana dengan tujuannya? Bagaimana dengan lingkaran oligarki atau kelompok elite lain yang hadir di pelbagai tingkatan?

Bersambung  #2 Mengabaikan Relasi Kuasa, Ketimpangan dan Eksklusi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s