Masalah dengan Modal Sosial: Empat Kritik Harriss terhadap Putnam

#3 Masyarakat Bisa Perbaiki Negara, Tidak Sebaliknya

Ceara adalah satu negara bagian di timurlaut Brasil, kawasan miskin tempat sembilan negara bagian berada. Dua gubernur muda dari satu partai politik silih berganti memenangkan pemilihan demokratis dan membawa perubahan besar di Ceara. Persaingan politis yang sehat menimbulkan keharusan bagi pihak yang menang untuk menyenangkan rakyat—konstituen. Begitu salah satu dari mereka menjadi gubernur pada 1987, kebijakan pro-poor dan reformasi pengorganisasian kerja-kerja program segera bergerak. Situasi ini meningkatkan kinerja pemerintahan lokal. Demikian tulis Judith Tendler dalam Good Government in the Tropics.[5]

good-govt-in-the-tropics_tendler

Di sektor kesehatan, Judith mencontohkan, pemerintah negara bagian mengangkat 7300 ‘agen kesehatan masyarakat’ sebagai bagian dari upaya mengatasi menurunnya pendapatan akibat kekeringan, sekaligus menjalankan program-program pencegahan baru yang dicanangkan oleh pemerintahan baru. Diselia oleh ratusan perawat, para pekerja non-profesional ini ditempatkan di daerah asal masing-masing. Metode pengangkatan langsung oleh negara bagian ini punya dua kelebihan. Di satu sisi para pekerja itu terlepas dari pengaruh elite kabupaten/kota yang masih merawat relasi patron-klien; di sisi lain mereka lebih mudah mengadaptasi program dengan situasi setempat karena bekerja di daerah asal masing-masing. Awalnya mereka tidak diterima baik oleh rakyat karena trauma masa lalu. Tetapi pelan-pelan mereka mengetuk pintu demi pintu untuk memberi pelayanan sembari membangun kepercayaan rakyat. Bersama meningginya rasa saling percaya, kolaborasi negara-rakyat bertumbuh. Program demi program pun berjalan sukses. Pada 1993, Ceara menerima Maurice Pate Prize, untuk program-program pendukung anak, dari UNICEF.

Publikasi media kinerja para agen kesehatan masyarakat ini juga menjadi penyokong penting. Publikasi ini membuat mereka tahu apa yang diharapkan oleh rakyat; bagian mana yang dihargai oleh rakyat, mana yang tidak. Komitmen dan semangat mereka pun bertumbuh dengan mengetahui apresiasi rakyat atas kinerja mereka. Akhirnya, bersama keberhasilan di sektor lain, ukuran pembangunan manusia negara bagian itu yang tadinya jeblok melonjak pesat.

Ringkasan cerita tentang Ceara ini dijadikan contoh oleh Harriss untuk menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan, dan padatnya ‘modal sosial’ (kolaborasi dan saling percaya), bukan hanya karena kerja masyarakat, tetapi karena kerjasama negara dan masyarakat. Bahkan, kesuksesan Ceara merupakan konsekuensi dari pertarungan politik dengan negara kemudian mengambil peran besar dalam menjalankan perbaikan kinerja pekerja negara yang berimbas pada naiknya ‘modal sosial’ di Ceara. Tapi Putnam punya pandangan sebaliknya.

Bagi Putnam, modal sosial di masyarakat menyumbang kepada baiknya kinerja negara, dan tidak ada arus sebaliknya. Argumen Putnam sangat berpusat-masyarakat. “Andil pemerintah terhadap terbentuknya modal sosial dilupakan dan kausalitas hanya berlangsung satu arah yaitu dari masyarakat, khususnya asosiasi sukarela yang bersifat horizontal, kepada kinerja pemerintah [dan] bekerjanya demokrasi.” (hl. 28). Kembali ke contoh Italia utara vs. selatan, Putnam menunjukkan bahwa Italia utara bisa maju karena banyak warga yang tergabung dalam berbagai bentuk asosiasi, dengan demikian modal sosial mereka tinggi, dan itu menjelaskan mengapa kinerja ekonomi dan negara menjadi baik.

Mengutip beberapa kajian kritis terhadap sejarah Italia versi Putnam, Harriss menyimpulkan bahwa yang terjadi justru sebaliknya. Kajian sejarah Sidney Tarrow mengungkap bahwa perbedaan ‘civic community’ antara utara dan selatan Italia sebagaimana dibuat Putnam merupakan hasil dari kejadian-kejadian historis yang berlangsung belum lama (bukan sejak Masa Pertengahan seperti disarankan Putnam) dan berhubungan dengan proses-proses pembentukan negara moderen. Sehingga, menurutnya, bukan ‘civicness’ yang menyediakan ‘lahan subur’ tempat bertumbuhnya berbagai struktur negara, tetapi sebaliknya. (hl. 36) Ketika Putnam dan koleganya menemukan bahwa civic community kuat di daerah-daerah Partai Komunis Italia, mereka menyimpulkan bahwa itu terjadi karena Partai Komunis Italia menyemai di lahan subur modal sosial. Padahal menurut penelitian Tarrow, perbaikan kinerja pemerintah dan keterlibatan aktif warga (civic engagement) didorong oleh partai-partai kiri setelah Perang Dunia II (hl. 37). Sementara di AS (yang juga jadi contoh kasus Putnam), menurut Theda Skocpol, pertumbuhan asosiasi sukarela juga tercipta mengikuti pola pembentukan negara ketimbang kelemahan negara.

Tentang ini, Harriss mengutip Skocpol:

“Sejak awal terbentuknya AS, institusi pemerintahan dan politik yang bercorak demokratis mendorong berkembangnya kelompok-kelompok sukarela yang terhubung dengan gerakan sosial regional dan nasional, dan juga kian terkait dengan jaringan organisasi trans-lokal yang paralel dengan struktur lokal-nasional struktur negara AS. Gerakan-gerakan reformasi moral, asosiasi petani dan buruh; persaudaraan berbasis ritual, gotong-royong dan pelayanan; asosiasi perempuan independen; kelompok-kelompok veteran; dan banyak asosiasi etnis dan Afro-Amerika—seluruhnya berjumpa dalam bentuk asosiasi tipikal AS.” (hl. 50)

Akhirnya, mengutip kesimpulan penelitian Samuel Bowles, Harriss mengajukan poin tentang pentingnya posisi ketimpangan dalam baik buruknya organisasi rakyat dan bagaimaana peran negara di dalamnya. Menurut Bowles, di daerah-daerah dengan pendapatan terdistribusi lebih setara ditemukan tingginya pastisipasi rakyat di gereja, jasa-jasa pelayanan lokal, kelompok-kelompok politis, dan organisasi rakyat lainnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebijakan-kebijakan negara yang meningkatkan kesetaraan pendapatan dapat memperbaiki keterlibatan rakyat mengelola kehidupan bersama mereka (hl. 57-58). Kita ingat, saran ini bertolak belakang dengan saran sang konsultan Bank Dunia yang menginginkan pemerintah mendorong rakyat miskin membentuk kelompok-kelompok dan bukan redistribusi sumberdaya. Sejalan dengan contoh Kerala di atas, ketimpangan hanya bisa diatasi oleh ‘gerakan rakyat’ yang bekerja lewat tindakan politis mendesak negara untuk melakukan perubahan struktural, dalam kasus itu reforma agraria.

Bersambung   #4 Modal Sosial Sebagai Mesin Anti-Politik  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s