Masalah dengan Modal Sosial: Empat Kritik Harriss terhadap Putnam

Dari Mana Datangnya Pandangan Putnam?

Akar pandangan Putnam, menurut Harriss, datang dari James Coleman.  Sosiolog AS ini berpandangan bahwa “aktor punya prinsip tindakan yang sederhana, yaitu memaksimalkan realisasi dari kepentingan” (hl.18). Pandangan ini melihat tindakan sosial hanya sebagai tindakan individual berdasarkan ‘pilihan rasional’ untuk meraih manfaat sebesar mungkin bagi dirinya. Seseorang bergabung dalam sebuah tindakan kolektif karena ‘insentif’ keuntungan pribadi. Dengan demikian, modal sosial dilihat sebagai aset yang berguna bagi keuntungan seseorang dalam pertukaran antar-kepentingan. Kepercayaan dan norma resiprositas dalam jaringan antar-individu akan membentuk ‘asuransi’ antar-individu, memudahkan seseorang untuk memberi atau menerima informasi dan mengurangi ongkos transaksi. Maka, membangun modal sosial adalah ‘invenstasi’ individual.

Pikiran semacam ini langsung melempar kita ke akhir abad 18 ketika Jeremy Bentham sedang memoles “prinsip utilitarianisme”. Bagi Bentham, fitrah manusia menggerakkan setiap orang untuk berusaha memaksimalkan kesenangan dan meminimalisir derita dirinya masing-masing; bahwa setiap individu bertugas mengusahakan kesenangan masing-masing (sehingga fungsi negara hanya memastikan bahwa derita setiap individu terminimalisir—terutama karena pengejaran kepentingan pribadi yang kebablasan).

Pandangan Coleman juga membawa kita ke Adam Smith yang melihat individu hanya sebagai manusia ekonomi. Bagi Adam Smith, setiap individu selalu punya kecenderungan tak terhindarkan untuk berdagang; bahwa tidak ada makan siang gratis. Dalam buah tangan Smith sendiri: “Bukan dari kebaikan tukang si jagal hewan, si pembuat roti, atau sang penyuling bir kita mengharapkan makan malam kita, tetapi dari penghargaan atas kepentingan pribadi mereka.”[8] Maka, setiap individu bergabung ke dalam satu kelompok karena melihat ada keuntungan pribadi yang bisa mereka peroleh dari sana. Setiap orang masuk ke ‘pasar’ dengan membawa ‘barang dagangan’ masing-masing. Dengan kata lain, Coleman memasang kacamata ekonomi klasik (Bentham dan Smith dua diantara pengusungnya) untuk melihat fenomena sosial berupa bergabungnya individu-individu dalam ‘asosiasi-asosiasi sukarela’.

Tindakan beralaskan rasionalitas atau utilitarianisme bukan khayalan, ia benar-benar terjadi dalam dunia nyata. Setiap orang yang sudah dapat berpikir sendiri kemungkinan besar pernah melakukannya. Soalnya, oleh Adam Smith, Bentham, Coleman hingga Putnam, tindakan sosial manusia dilihat secara sempit, hanya terjadi karena alasan rasional-utilitarian. Ini keliru. Erik Olin Right, menulis bahwa masih banyak jenis tindakan sosial lain yang dilakukan manusia, seperti tindakan habitual (berbasis kebiasaan), normatif, kreatif, atau yang berbasis moral.[9] Manusia bukan sekadar individu egois yang tidak akan bertindak kecuali melihat ada keuntungan bagi dirinya.

Tumpukan penelitian tentang gerakan sosial dan tindakan kolektif bisa membantah Coleman, juga Putnam dan pengikutnya, dengan mudah. Orang menempuh macam-macam risiko atau pengorbanan untuk sebuah komitmen bagi orang banyak. Orang bisa membela kepentingan orang lain karena komitmen pada kesetaraan, semisal para pria—yang diuntungkan oleh pranata patriarkis—yang mendukung gerakan feminis. Orang juga bisa bekerja untuk kepentingan bersama seperti petani yang bahu-membahu membangun irigasi demi mendatangkan air ke satu hamparan sawah agar semua petani di hamparan itu (termasuk yang tidak ikut kerja karena berbagai alasan) bisa menanam di musim kemarau. Sebagian lainnya juga bertindak karena kebiasaan atau adat, atau mengikut kepercayaan agama, meskipun itu mengorbankan kesenangan pribadi.

Manusia bukan pedagang individualis. Manusia bisa berhimpun untuk melakukan tindakan kolektif bagi kemaslahatan bersama. Berkelompok mungkin baik bagi orang miskin, tapi bukan dalam model ‘modal sosial’ yang disarankan oleh Putnam dan para pengikutnya. Lewat Depoliticizing Development Harriss mungkin hendak mengirim wanti-wanti tentang perihal ini kepada orang-orang yang mengurusi pembangunan.[]

Catatan Kaki

[1] John Harriss.2001. Depoliticizing Development: The World Bank and Social Capital. New Delhi: Leftworld Books. Ilmuan lain yang cukup sengit menantang konsep, teori dan penerapan modal sosial, dan menuliskannya, ialah Ben Fine.

[2] Tetapi, mengutip sebuah kajian, Harriss mengungkap bahwa ketika mengulas modal sosial Putnam sebenarnya hanya bicara tentang norma dan jaringan, dan tidak termasuk nilai. Sehingga modal sosial, secara aktual dalam penerapannya oleh Putnam, hanya berarti ‘keanggotaan dalam kelompok’ atau ‘asosiasi sukarela’ (Depoliticizing Development, hl. 8). Penyembunyian ‘nilai’ ini punya dampak teoritis yang akan kita lihat di bawah.

[3] Mosse, David. 2006. ‘Collective Action, Common Property and Social Capital in South India: An Anthropological Commentary.’ Economic Development and Cultural Change 54(3): 695-724

[4] Putnam memang tidak mendefinisikan apa itu ‘kepercayaan’, melainkan hanya menggambarkan bagaimana itu berlangsung di antara kelompok-kelompok warga.

[5] Lebih jauh mengenai Ceara lihat Judith Tandler. 1997. Good Government in the Tropics. Baltimore: John Hopkins University Press; Harriss mengulas kasus ini secara ringkas dalam Depoliticizing Development, hl. 67-69

[6] James Ferguson dan Larry Lohmann. 1994. “The Anti-Politic Machine: “Development” and Bureaucratic Power in Lesotho”. The Ecologist. Vol. 24(5). Artikel ini merupakan ringkasan sebagian argumen utama buku James Ferguson The Anti-Politic Machine: “Development”, Depoliticizing, and Bureaucratic Power in Lesotho. University of Minnesota Press. Terbit pada tahun yang sama.

[7] Rotberg dalam Depoliticizing Development, hl. 51.

[8] Smith dalam Richard Peet dan Elaine Hartwick. 2009. Theories of Development: Contentions, Arguments, and Alternatives. New York: The Guilford Press. Hl. 31. Pembahasan mengenai ekonomi klasik dalam tulisan ini mengutip Bab 2 dari buku ini.

[9] Erik Olin Wright. 2011. “Commentary: Sociologists and Economists on ‘the Commons’”. Dalam Pranab Bardhan and Isha Ray (eds). The Contested commons; Conversation between Economists and Anthropologists. Blackwell.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s