O, Noir, Fabel, Horor

Sehabis membaca ‘O’ karya Eka Kurniawan, saya terlempar ke satu siang yang jauh ketika ibu guru menuntun kami berjalan masuk gedung bioskop. Hari itu kami akan menonton film tentang seorang anak yang saban hari disiksa ayahnya sendiri sampai mati. Sebuah kisah nyata. Nama anak itu akan tertinggal di kepala saya sampai bertahun-tahun kemudian, Arie Hanggara.

Sebelum memasuki gedung bioskop tentu kami sudah dengar sassus dari berbagai sumber tentang nasib Arie Hanggara. Sampai layar mulai disorot saya terus bertanya-tanya, “orangtua seperti apa yang tega membunuh anak sendiri?” Saya ingin melihat bagaimana itu bisa terjadi. Selama bioskop berada dalam gelap, berkali-kali saya harus menahan perih melihat tokoh Arie disiksa tanpa perasaan oleh ayahnya. Saya dipaksa berpikir, mungkin memang benar itu bisa terjadi. Tetapi selalu terselip keraguan, apakah mungkin seorang manusia bisa melampaui batas-batas yang mendefinisikannya sebagai manusia? Mengapa itu bisa?

Pertanyaan-pertanyaan itu kembali berdentang ketika saya membaca ‘O’. Sebagian tokoh Eka, terutama para binatang, seperti berubah menjadi Arie Hanggara. Monyet O dan anjing kecil Kirik adalah mahluk-mahluk malang yang tersiksa setiap hari untuk akhirnya mati. Si Babi/Betalumur dikejar-kejar seperti copet atau begal yang menemui ajal dikeroyok massa. Mereka Arie Hanggara, dihajar beramai-ramai hingga lumat oleh orangtua yang seharusnya menyayangi mereka: kota.

Tapi dalam O, saya tidak sempat merasa terlampau tersiksa oleh seluruh perlakuan kota, sebagaimana saya berkali-kali merinding menyaksikan Arie Hanggara dihajar ayahnya. O tampak sebagai racikan fabel-noir-horor (sehingga menjadi bukan itu semua) yang dimasukkan ke dalam wadah multi-plot ala Pulp Fiction, sebelum dicacah menjadi serihan cerita ringkas—yang terakhir ini barangkali untuk memanjakan para pembaca kurun digital, entahlah. Beban ambisi ini diusung Eka di sepanjang novel dengan nyaris tanpa lelah, hampir effortless. Bangsat betul. Tapi sebagai pembaca saya harus bekerja lebih keras untuk bisa merasai O.

Saya terlalu sibuk berpikir untuk bisa terbawa emosi: haru, sedih, marah, jengkel atas tindakan apa pun oleh tokoh mana pun dalam novel ini. Selang-seling cerita yang Eka anyam agar setiap tokoh sebisa mungkin menjadi utuh (rounded) membawa bebannya sendiri. Susunan semacam ini membuat saya harus terus awas, mengantisipasi apa yang akan muncul di bagian berikutnya, mengingat kembali apa yang tertinggal dari penggalan kisah sebelumnya—kadang saya harus membolak-balik halaman. Sepertinya upaya Eka menempa lekuk hidup hampir setiap tokoh (seolah semua tokoh adalah tokoh utama, atau malah tidak ada tokoh utama?), setidaknya bagi saya, telah membebani alur cerita novel ini, yang memang sudah bercabang–oh, bolak-balik pula dalam dimensi ruang dan waktu.

Tapi tentu saja Eka sengaja melakukannya, ia seorang maestro. Bisa jadi ia memang tak ingin pembaca terbawa perasaan. Saya hanya bisa membayangkan, setelah buku ini terbit, ia lupa mencabut secarik catatan yang tertempel di meja kerjanya. Di atasnya ada tulisan: “Kali ini tak ada katarsis sederhana buat kalian. Ini cuma deretan kebrutalan kota buat kalian. Pikirkanlah.”

Sore itu, lebih tiga puluh tahun lalu, saya keluar bioskop sambil bertanya-tanya dalam nada sangsi. Tapi setelah menutup halaman belakang O saya menemukan sebagian jawaban mengapa manusia bisa menjadi begitu brutal. Inilah yang saya lihat:

Aneka macam persoalan pribadi coba diselesaikan secara terpisah. Upaya itu bisa berdampak pada pribadi-pribadi lain karena kebetulan saja. Soal-soal pribadi itu berjumpa di sekian persimpangan tetapi semua tokoh bertindak atas rangsangan paling dekat, yang bersifat purba, atau primordial. Anda akan sulit menemukan solidaritas atas sesuatu yang berjarak, empati atas sesuatu yang tak punya ikatan darah atau sejarah. Di sana, segala macam aturan dan lembaga, bahkan empati hingga taraf tertentu, menghilang entah ke mana.

Dua orang polisi dengan revolver di tangan masing-masing kalah oleh seorang ibu yang dengan tangan kosong tanpa ragu menyerbu ular yang tengah membelit anaknya. Itu rangsangan insting seorang ibu yang hendak menyelamatkan anak kandungnya. Di titik itu negara lenyap. Dua pria abdi negara, menggenggam revolver milik negara dan digaji negara untuk melindungi warga, tampak terlalu sibuk memikirkan risiko atas diri sendiri, meskipun mereka tiba lebih awal di TKP. Anak yang tengah dibekap sanca bukan siapa-siapa mereka.

Kota dalam O dibentuk oleh individu-individu sebagaimana dalam pikiran Jeremy Bentham hampir dua setengah abad silam: bila itu tidak membawa kesenangan buat saya, atau bila itu malah membawa derita bagi saya, uruslah urusanmu sendiri. Di Kota itu tak ada masyarakat, hanya individu-individu yang terdampar di tempat yang sama namun sedang berusaha menjalani hidup masing-masing.  Kota semacam inilah yang, dalam O, bisa membunuh hampir semua tokohnya, secara fisik maupun mental.

Untuk bisa menghamparkan kondisi itu tanpa jejak didaktis, Eka membawa kita masuk ke dunia yang akrab sekaligus asing, seperti kata Bloom sekian dasawarsa yang lalu. Dalam O, batas-batas antara yang baik dan buruk menjadi kabur, jadilah noir. Batas antara yang nyata dan gaib dibuat keropos, jadilah horor. Batas antara manusia dan binatang menjadi rapuh, terciptalah fabel. Penggambaran kota dalam novel ini, sebagai ruang yang diproduksi secara sosial, membuat saya paham mengapa binatang bermimpi menjadi manusia, dan manusia bermimpi menjadi binatang—beralih raga maupun jiwa; mengapa takhayul dan asumsi menjadi unggul; dan mengapa penilaian baik dan buruk bagi tindakan seseorang menjadi sulit diterapkan.

Dalam O, kota disihir Eka menjadi gedung bioskop: sebuah ruang besar nan gelap dengan layar yang berbisik kepada kita, “segalanya mungkin terjadi di sini.”  Dalam sebuah kegelapan raksasa, insting bertahan hidup menjadi satu-satunya hal yang bisa dipercaya. Selebihnya, siapkan tombak, taring, cakar, revolver…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s