Mari Berdiri, Tepuk Tangan untuk ‘Turah’

Di Kampung Taring, latar film Turah, rumah-rumah berdinding kayu, lusuh dan setengah berantakan. Tak ada lantai semen. Perabot rumah serba terbatas. Di sana tak ada jajaran seleb klimis serupa manekin, jenis orang yang sering kita lihat di teve. Sebagai gantinya kita berjumpa orang-orang miskin di kampung pesisir: lelaki, perempuan, manula sampai anak-anak. Tak ada logat Melayu-Betawi khas Jakarta—kita harus membaca teks terjemahan bila tak paham bahasa setempat.

Deretan persoalan khas urban kelas menengah yang sering muncul dalam tontonan kita, semisal intrik seks dan asmara, pilihan dan perintilan busana, kendaraan, makanan atau tempat plesiran, akan tampak sangat sepele. Turah menyodorkan dunia lain, dunia umat manusia dengan persoalan yang lebih mendasar, dunia yang lebih dekat dengan kita, sebagian besar rakyat Indonesia; karena itu, sekaligus asing bagi dunia tontonan Indonesia.

Di dunia Turah kita melihat suami-isteri berdebat untuk punya anak, sebab takut anak yang lahir akan hidup singkat dalam kepapaan sebelum “dikubur hidup-hidup.” Suami isteri bertengkar hebat karena kurangnya nafkah untuk kebutuhan dasar: biaya sekolah anak dan jabang bayi yang sebentar lagi lahir. Seorang nenek terbaring sakit sepanjang film dan tak mendapat perawatan medis.

Di dunia Turah, kita melihat warga miskin yang tidak tersentuh layanan kesehatan, air bersih, dan listrik dari negara. Orang-orang kota datang hanya untuk menjalankan tugas-tugas pokok dari kantor yang mengirim mereka dari kota. Tak ada jalan aspal, gang berlapis beton atau paving block, juga jembatan dalam bentuk apa pun yang dapat menghubungkan kampung-pulau itu dengan dunia luar. Tak ada kendaraan bermesin apa pun. Tapi kita mendengar kematian demi kematian yang tak wajar anak-anak kampung.

 

SELURUH kemelaratan yang telanjang itu dipandang sebagai kewajaran oleh nyaris seluruh penduduk kampung. Ketika sang juragan bertanya kepada mereka, apakah mereka punya kebutuhan yang perlu diadakan, hampir seluruh menjawab sudah cukup. Di beberapa titik bahkan tampak mereka bersyukur dengan keadaan yang buruk itu. Amartya Sen, ekonom-filsuf India, punya konsep tentang kondisi semacam ini: adaptive preference.

Orang-orang miskin akan menyesuaikan keinginan bahkan kebutuhan mereka menurut rangkaian pilihan yang secara nyata dapat mereka jangkau. Mereka akan senang dengan pendapatan kecil, hunian buruk, asupan makanan pas-pasan, karena itulah yang secara nyata ada di hadapan mereka. Dalam kemelaratan mendalam, sulit membayangkan orang-orang kampung itu akan punya hasrat menyewa jet pribadi untuk pelesiran ke Madagaskar sambil memeluk boneka beruang.

Mereka bahkan tidak berani untuk sekadar mendapat upah lebih dari hasil kerja mereka sendiri, yang seharusnya dapat mereka minta ketika Sang Juragan menanyai mereka.

Mengapa begitu? Bekerjanya kekuasaan tak kasat mata (invisible power) mungkin bisa menjelaskan. Dalam Turah, kekuasaan semacam ini bekerja setidaknya lewat dua cara. Pertama, kau melihat orang-orang yang bersyukur dengan kemelaratan karena menganggap itu wajar bagi mereka. Pemikiran semacam ini berangkat dari keyakinan bahwa orang-orang miskin sudah digariskan hidup susah. Berbeda dengan kaum elite dan para seleb, misalnya, yang bila melakukan hal-hal yang dianggap cuma pantas untuk orang kebanyakan seperti naik bis, mencuci baju, atau menyapu lantai, akan dipandang unik plus mulia dan menjadi berita. Atau sebaliknya, masih ingatkah anda tatkala orang ramai mencibir seorang buruh yang dianggap tak pantas mengendari motor Ninja?

Keyakinan semacam ini sudah menjadi norma kepantasan berperilaku yang mewajarkan ketimpangan.

Kedua, kekuasaan tak kasat mata ini muncul dalam bentuk stigma. Tokoh Jadag dan Turah, bisa menjelaskan bentuk kekuasaan ini. Jadag adalah tukang kritik yang jujur, lugas dan berani. Ia punya pengetahuan luas akan sejarah dan situasi kontemporer kampungnya. Dengan bekal itu ia tiba pada kesadaran bahwa kampung mereka bukanlah hak milik Sang Juragan Darso, seorang tuan tanah in absentia—tidak tinggal dan menggarap sendiri tanah yang diklaim sebagai hak miliknya. Bahwa mereka selama ini bisa hidup bukan karena belas kasihan Juragan Darso, tapi merupakan hasil kerja keras mereka setiap hari demi menjalankan berbagai macam usaha Juragan Darso.

Dalam beberapa adegan, Jadag menyampaikan kritik-kritik ini kepada semua warga kampung, dengan deretan alasan berikut data yang masuk akal. Tetapi tidak satu pun orang sekampungnya yang berubah pikiran untuk melawan Sang Juragan dan begundalnya yang licik, Pakel. Apa yang menghambat pendapatnya ialah stigma bahwa ia seorang pemabuk, tukang judi lotre, dan tidak tamat sekolah dasar. Seluruh stigma yang melekat pada deretan cap itu mencegah orang sekampungnya bahkan untuk mendengar dengan baik rangkaian argumennya. Semuanya cuma dianggap racauan seorang pemabuk yang bahkan gagal menafkahi anak-isteri. Racauan yang bisa merusak tatanan sosial yang dianggap sudah baik oleh orang sekampungnya.

Di seberangnya berdiri Turah, seorang yang baik, sopan, ramah dan rajin, namun tunduk pada aturan-aturan juragan menjadi favorit orang kampung, dan tentu saja juragan yang mempromsikannya dari penjaga empang menjadi pengurus kampung—dan menaikkan upahnya. Demikian pula Pakel, seorang sarjana yang menjadi orang kepercayaan Sang Juragan Darso. Turah memilih melarikan diri dari kampungnya ketika keadaan memburuk.

 

TURAH dapat dikatakan memuat rangkuman kehidupan masyarakat miskin Indonesia secara umum. Kita tahu dari pelbagai statistik, persentase orang miskin di desa sudah nyaris dua kali lipat dibandingkan kaum miskin kota. Ketimpangan finansial kian melebar antara daerah perkotaan dan pedesaan, Jakarta dan daerah lain, dan antara yang kaya dan miskin. Kita pun tahu layanan kesehatan dan infrastruktur lebih baik di kota daripada desa. Dari banyak kajian, kita juga tahu bahwa model relasi-kuasa patrimonial masih merupakan pemandangan sehari-hari di Indonesia. Dengan minimnya layanan, fasilitas, dan perlindungan negara, yang sudah berlangsung sangat lama, bukankah wajar bila rakyat terpinggirkan beralih menggantungkan diri kepada para patron untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Untuk dapat menampung kompleksitas persoalan masyarakat miskin di kampung pesisir ini, dengan cerdik Wicaksono Wisnu Legowo, penulis skenario dan sutradara Turah, menyempitkan ruang dan rentang waktu yang melatari filmnya. Di dalamnya, ia kemudian meletakkan sejumlah kontras yang sungguh rawan menimbulkan konflik—sehingga dengan mudah menggerakkan alur cerita. Satu dari kontras itu berlangsung antara tokoh Turah dan Jadag. Turah, sebagai tokoh utama, merepresentasikan orang yang mungkin sering kita jumpai di keseharian kita: orang yang baik, sopan, sekaligus bermental tunduk. Sementara Jadag yang eksentrik, senang bertelanjang dada dan kata di sepanjang film, mungkin bukan manusia sempurna, tapi menampilkan kejujuran dan keberanian yang seharusnya kita punyai.

Ketika nama awak produksi bermunculan mengakhiri film, di tengah puluhan penonton dalam rangkaian acara Taman Sinema, di tengah lapangan berumput Benteng Rotterdam, Makassar, saya hampir saja berseru: “Mari berdiri, tepuk tangan untuk Turah!”

Tapi rupanya saya belum seberani Jadag.

Advertisements

One thought on “Mari Berdiri, Tepuk Tangan untuk ‘Turah’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s